
Tak terasa kini sudah di ujung senja. Cahaya orange digantikan oleh warna kehitaman. Sisilia sudah bersiap ingin pulang. Mama Raka bukanlah orang yang kejam seperti bayangannya. Malah mereka asyik bercerita mengenai Raka di masa lalu dan Sisilia juga menceritakan bagaimana pertemuan Ia dan Raka.
" Raka kamu gak ngajak Sisilia ke tempat om Kifli?". Mamanya melihat Raka sedari tadi mondar mandir ke dapur sambil melirik mereka mengobrol.
" Lain kali aja, kalau dia pengen". Raka berlalu tapi terhenti karena ucapan mamanya.
" Tapi kan kamu udah dikasih hal yang penting sama Sisilia"
' Jadi dia yang diomongin sama kak Raka itu aku, wah dasar etika kak Raka juga ilang ternyata. Padahal aku ada disini. Kayak lagi ngomongin orang lain aja'. Sisilia mengangkat bibir atasnya sebelah.
" Kapan kapan kalau Sisilia bersedia, ya kan Sisilia?". Raka sudah berlalu kembali. Tanpa melihat Balasan Sisilia.
Sisilia sudah tiga kali bolak balik toilet di rumah Raka. yang ke empat kali, ia berpapasan dengan Raka yang sedang mengambil air ke dapur juga.
" Mungkin kamu kebanyakan minum Sisilia, bolak-balik terus"
" iya kayaknya, eh tapi kan kak Raka baru ngelihat aku sekali kok tau aku bolak balik.?"
" Saya ngelihat jejak kamu. tuh tuh tuh.". Raka menunjuk lantai marmer yang tak berbekas sama sekali itu.
Sisilia menghentikan Raka yang mau ke dapur. Ia pikir sudah seharusnya ia pulang. Karena ini sudah hampir malam. Apalagi perjalanan mereka cukup jauh. Raka menyetujui dan segera kembali ke kamar kerjanya mengambil kunci yang ia letakkan di samping komputer.
Sisilia yang sudah keluar dari toilet berpamitan dengan Mamanya Raka, tante Gina.
" Tante aku pamit pulang dulu"
" Ooh gak makan malam dulu Sisilia?". Tante Gina tersenyum ramah
" Gak usah tante"
__ADS_1
Sisilia yang mau berbalik tampaknya tak direstui oleh alam. Petir dan gemuruh datang diikuti suara rintik hujan berjatuhan dari langit yang penuh. Sisilia berlari melihat jendela, tampak pohon yang bergoyang dihembus angin dan hujan yang semakin lebat.
Raka tersenyum, ia tahu kalau sebenarnya akan turun hujan saat ini. Karena ia sengaja pergi ke halaman belakang untuk melihat cuaca. Ia berjalan dan merasakan sedikit gemericik badai. dan saat itulah ia melihat Sisilia yang bolak balik toilet, Raka harus sembunyi di balik tiang besar agar Sisilia tak menyadarinya.
Raka mengirim pesan pada Mamanya agar menceritakan banyak hal dengan Sisilia untuk mengetahui Sisilia wanita yang bagaimana. Karena Mamanya meminta Raka setidaknya bawa wanita yang Pantas untuk dinikahi.
Benar saja, Raka memang berharap hujan akan turun, agar Sisilia bisa lebih lama dengan mamanya. Tante Gina meminta agar Sisilia menginap disana dulu.
Sisilia menolak karena ia belum meminta izin orang tuanya. Tante Gina mengusulkan agar ia saja yang langsung menelfon orang tua Sisilia, karena Tante Gina akan mengatakan alasan sebenarnya tentang cuaca yang bisa berdampak buruk jika dipaksakan untuk mengemudi. Sisilia pasrah dan membiarkan Tante Gina mengurus semuanya.
Setelah makan malam disajikan. Sisilia bingung mengapa banyak campuran mi di setiap masakan, tapi ia tidak berani bertanya. Raka menjelaskan kalau ia sengaja meminta Bibi untuk memasakkan aneka mi dengan resep mi yang buatan tangan semenjak Sisilia datang.
Raka mengatakan kalau Sisilia mungkin tidak suka jika masakan lain yang disajikan.
" Lain kali masakan apa aja gak apa apa kok kak Raka. Aku bukan tipe yang milih-milih makanan"
" Oke, silahkan makan". Raka langsung memasukkan mi dalam garpu gulungan besar ke mulutnya.
Sisilia menatap cermin, ' kamu siapa?. saya adalah nyonya...". Ucapannya terhenti. di kamar tamu yang besar itu Sisilia melihat banyaknya perbedaan antara ia dan Raka.
Namun ucapan Tante Gina memBuat ia sediKit terhibur. Bahwa keluarga Rama atau Papanya Raka punya prinsip kalau urusan perasaan anak-anak mereka, tidak akan ada campur tangan keluarga. Kecuali jika diketahui bahwa ada yang tidak beres dengan pasangan anak-anaknya. Seperti penyelidikan Kesya, Sisilia tau dari Tante Gina, Kesya putus dengan Raka karena keluarganya ikut menyelidiki Kesya. Tapi hanya penyelidikan awal, keputusan akhir tetap diputuskan oleh Raka.
Itu artinya, Kesya benar benar sudah mengecewakan Raka, sampai Raka bisa memutuskan hubungan mereka yang 5 tahun lebih itu. Tapi Sisilia, ia bahkan tidak pernah bertemu langsung dengan Kesya, tapi tau banyak mengenai Kesya lewat hubungan gagal Kesya dan Raka. Mungkinkah suatu hari ia akan berhadapan langsung dengan Kesya. aw Tidak mungkin terjadi, bagaimana mungkin ia bertemu Kesya.
" Hush sadar Sisilia, kamu bukan siapa siapa nya Raka". Sisilia sudah terlelap di kamar tamu beberapa saat kemudian. Badannya dibaluti selimut tebal dan ia tidur di kasur super empuk yang sangat nyaman.
Raka mengobrol dengan Mamanya di luar. Pak Rama atau Papanya Raka tidak bisa pulang karena ada urusan di luar kota.
" Gimana mah, menurut mama?". Obrolan itu diikuti gambar televisi bergerak dengan suara yang dimute kan.
__ADS_1
" Dia baik, kalau kamu gak mau serius, jangan coba-coba deketin dia Raka."
" Kalau gak Serius aku gak akan bawa dia ketemu sama Mama lah".
" Raka, Sisilia bukan tipe yang bisa kamu taklukkan dengan mudah, dia kelihatannya cukup pemalu. "
" Ia Raka tau mah. Waktu ke rumahnya juga kakaknya pernah bilang gitu. Kalau aku memang serius sama Sisilia, aku harus tau apa yang Sisilia inginkan dan tidak".
" Mama yakin kamu bisa yakinin dia. Tapi masalah apa yang Sisilia ingin atau tidak bukan cuma makanan Raka" . Mamanya tau Raka meminta Bibi membuat aneka mi karena Sisilia suka mi.
" iya lah ma, lain kali enggak cuma itu, tadi aku cuman kasih awalan yang baik, seperti kesan yang baik ." Raka mengeluarkan jurus pede yang cukup aneh.
" udah mama gak akan ikut campur, yang jelas kalau kamu sudah punya komitmen jangan dilanggar. Siapapun orangnya, kalau dia adalah orang yang baik. Mama akan setuju".
Begitulah obrolan serius ibu dan anak berakhir. Esok harinya setelah sarapan, Sisilia dan Raka langsung pamit pulang. Sisilia langsung pergi ke toko, Karena ia sudah memakai baju pemberian Tante Gina.
Ia sudah mendapat ratusan chat dari Rini dan Vito karena ia menginap di rumah Raka. Tapi ia langsung menyangkal kalau ia hanya menginap karena terpaksa cuaca buruk. Vito dan Rini serentak membalas 'mungkin itu takdir'. Vito dan Rini membalas dengan sengaja karena saat kuliah dulu Sisilia sangat suka dengan kata Takdir.
Rini terpeleset, mungkin itu takdir. Vito yang salah memasuki kelas kuliah umum sehingga absen, mungkin itu takdir. Itulah isi pesan chat yang sering dibalas Sisilia untuk mengahiri pesan chat mereka agar tak melebar kemana-mana. Tapi cukup untuk membuat kesal orang yang dituju saat membacanya.
" Apasih". Sisilia tidak berbicara dalam hati tapi suaranya cukup lantang untuk di dengar orang yang duduk di sebelahnya.
Raka terkejut karena Sisilia. " kenapa Sisilia?"
" Gak kok kak Raka, ini Rini sama Vito". Sisilia mengeluarkan ekspresi kesal dan menaruh Hpnya ke dalam tas.
Mobil melaju terus dan mengantarkan Sisilia ke depan gedung Tokonya berada. Sisilia berterima kasih pada Raka, dan langsung naik ke lantai dua. Raka memutar setir mobil dan mengarah ke perusahaannya.
Sebentar lagi, Ia akan menghadapi dua orang tak normal yang bisa membuat pagi menuju siangnya yang manis berubah menjadi asam sepat. Ya, siapa lagi kalau bukan Brian dan Doni yang sudah siap siaga menunggu kedatangan Raka. dengan persiapan beragam pertanyaan memancing estetika emosi dari dalam diri Raka .
__ADS_1
Bersambung...