
Di IGD...
Sisilia sudah diobati oleh salah satu suster yang mengikuti arahan dokter. Sesekali Sisilia meringis karena obat luka yang bereaksi dengan kulitnya yang tergores. Kaki Sisilia terasa sakit bukan karena luka tapi benturan keras ke aspal, itulah mengapa saat dipijakkan Sisilia jadi terpincang.
"maaf kak Raka, aku bikin repot,,,"
" ssst, udah orang sakit gak boleh banyak pikiran!".
" aku kan cuma..". Hp Raka berbunyi, ia pun pergi menerima panggilan itu.
ternyata dari Brian yang sudah menyelesaikan masalah dengan lelaki paruh baya tadi. Ketika Raka berjalan kembali, ia melihat seorang dokter laki-laki muda tampak sangat akrab berbicara dengan Sisilia. Semakin Raka mendekat, juga terdengar dokter itu memanggil Sisilia dengan sebutan Yia.
" Yia, Saya bawain kamu kursi roda saja ya ?". Dokter itu khawatir Sisilia susah untuk berjalan.
" gak usah Bim, aku juga udah diobatin kok". Sisilia menggelengkan tangannya.
Kursi roda???, sudah cukup malu ia digendong Raka, kini malah di suruh pakai kursi roda. Pasien lain mungkin bisa menuntutnya karena memakai properti rumah sakit seenaknya. Raka kemudian kembali menyuruh Sisilia untuk ia gendong namun tangannya di tepis dokter itu.
" kamu siapa?". Dokter itu memandang Raka menyelidik.
" kamu yang siapa?". Raka Balik bertanya
" saya temennya". Dokter itu mengangkat dagu
" saya teman, bos, senior, apapun itu yang jelas hubungan kita bukan untuk dipublikasikan".
Raka mengangakat alisnya, tidak tau ucapannya bisa menimbulkan kesalahpahaman. Sisilia yang mendengar juga ikut merasa aneh.
" Eh udahh, Bimo ,,ini kak Raka senior aku dan pemilik gedung toko aku. kak Raka ini Bimo, teman aku dulu waktu masih kecil di deket rumah.". Sisilia memperkenalkan mereka.
" oh, yaudah. udah saling tau kan?". Raka langsung mengendong Sisilia, dan mengabaikan Bimo yang ingin bersalaman.
Kini mereka kembali ke ruangan tempat ayah Sisilia tadi. Ayahnya ternyata sudah bersiap untuk pulang. Raka yang ingin menggendong Sisilia lagi ditolak Sisilia. Ia bisa berjalan pelan saja di belakang, Raka juga menyetujui karena tangannya sudah agak pegal.
***
Mobil itu berhenti di depan halaman rumah Sisilia. Sisilia ikut membopong ayahnya walaupun ia juga terpincang sampai ayahnya masuk kamar. Sementara perempuan yang membawa anak tadi ikut masuk menidurkan anaknya di kamar lain.
__ADS_1
Sementara Raka yang masih di halaman melihat ke sekeliling. Ada berbagai macam bunga dan tanaman yang bisa untuk dimasak seperti jeruk nipis, bawang prei, seledri, kunyit, semuanya terlihat asri dan hidup.
Di dalam kamar ayahnya, Sisilia ingin memijit ayahnya, tapi ibunya mengatakan agar menyuruh teman Sisilia masuk dulu. Sisilia lalu kembali melihat Raka di halaman dan menyuruh Raka untuk masuk. Raka duduk di sofa ruang tamu, rumah Sisilia Tidak terlalu besar, namun karena sebagian berornamen kayu terlihat sangat nyaman. Sisilia lalu ke dapur mau membuatkan Raka minuman.
" Kak Raka mau minum apa?, teh ,kopi, atau sirop"
"air putih saja Sisilia!".
Sisilia berjalan ke dapur. Lalu perempuan tadi keluar dari kamar setelah menidurkan anaknya dan duduk di depan Raka.
" Seniornya Sisilia?"
" iya mbak"
" Saya Sahila, kakaknya Sisilia, nama kamu?"
" Raka, saya dulu senior dan pelatih..."
" kakak..!!". Sisilia sedikit mengeraskan suaranya memotong pembicaraan Raka. Ia meletakkan gelas di meja, dan mempersilahkan Raka minum. Raka langsung meminum air itu.
" Oh yaa, katanya ada kontrak ya makanya bisa gratis , apa isi kontraknya?".
" itu.." Sebelum Raka selesai Sisilia kembali memotong. " itu rahasia perusahaan, kakak tau kan apa resiko kalau kita membocorkan rahasia perusahaan".
" Mana kakak tau,, gak penting. Kerja kamu apa?, pasti anak orang kaya ya, kenapa bisa beli gedung tokonya , pasti gaji kamu gede?"
Raka yang ingin menjawab itu kebingungan mau menjawab yang mana.
" Maaf ya kak Raka, kakak aku emang agak cerewet, gak usah dijawab gak apa apa"
Raka menjawab pertanyaan kakak Sisilia yang terus terang itu.
" Setuju, kamu udah mapan pasti bisa nafkahin adek saya yang sukanya cuman ngurusin tanaman itu".
" Hei aku kerja ya ,ibu rumah tangga". Mengejek kakaknya yang mengurus anak.
" aku juga kerja ya, tapi jadwalnya gak padat."
__ADS_1
" kalau boleh tau, pekerjaan mbak apa ya?". Raka iseng bertanya.
Lalu kakak Sisilia itu menjawab penyiar radio. Ia juga menceritakan betapa susahnya tadi ia meminta izin untuk ke rumah sakit. Ia juga menjelaskan kalau ia bisa mendapatkan jadwal yang tidak terlalu sibuk karena bosnya yang baik hati. Tapi Sisilia menyela pasti karena Bosnya ditekan terus-terusan oleh Sahila.
Sahila membenarkan hal itu karena ia memang menekan bosnya dengan alasan ia bisa berhenti dan pindah ke saluran lain. Sahila nampak cukup bawel di bandingkan Sisilia, dan tidak sungkan bercerita hal lucu dengan Raka yang baru dikenalnya beberapa saat lalu itu.
Sementara Sisilia permisi untuk melihat ayahnya di kamar. Karena ia sudah bosan mendengar cerita kakaknya yang berulang kali selalu diceritakan. Sisilia masuk kamar ayahnya dan ikut memijat ayahnya, sementara suara kakaknya tak terdengar dari kamar.
" Kamu pasti gak mau dengar cerita saya kan?". Sahila mencoba menebak.
" oh enggak mbak, mau kok"
" mau denger cerita saya terus atau Sisilia"
Raka sediKit mengangkat alisnya pertanda memang itu yang mau ia dengar.
Lalu Sahila menceritakan bahwa Sisilia sangat menyukai tanaman, sama seperti ayahnya. Sisilia juga sangat pemalu dan sedikit susah menunjukkan perasaannya. Tapi Sisilia juga sangat ekspresif dan hal itu dibenarkan oleh Raka, Sisilia bisa langsung menunjukkan kalau ia tidak suka sikap atau prilaku bahkan ucapan seseorang.
Sahila juga menceritakan kalau dulu saat kelas 1 Smp Sisilia pernah bersembunyi di toilet Sekolah. Seluruh sekolah sudah panik ternyata ia ada di toilet, setelah orang yang antri melapor, pintu itu di dobrak oleh petugas kebersihan sekaligus penjaga sekolah itu. Ternyata Sisilia bersembunyi karena malu bajunya kotor terkena lumpur di seluruh badannya. Maka dari itu Vito di suruh agar terus menjaga Sisilia, walaupun sedikit parah di saat SMA.
Raka membayangkan waktu perkenalan organisasi, Sisilia yang memerah langsung izin ke toilet. Kini ia tau mengapa Sisilia mengatakan ingin ke toilet waktu itu. Panjang lebar Sahila bercerita dengan Raka, sepertinya ia tau kalau Raka ada rasa dengan adiknya. Namun ia tidak mau langsung berspekulasi, ia hanya ingin kalau orang yang nanti mencintai dan dicintai oelh adiknya adalah orang yang bisa memahami Sisilia.
Sisilia keluar bersama ibunya. dan menawarkan Raka untuk makan dahulu. Raka yang ingin pulang tidak jadi karena Sisilia yang akan memasak dipaksa Sahila. Awalnya Sisilia dan ibunya yang memasak, setelah hampir semua masakan matang, barulah Sahila ke dapur dan meminta ibunya untuk mengobrol dengan Raka.
Ibu Sisilia berterima kasih pada Raka karena ikut membantu masalah Sisilia dan Suaminya. Lalu Ibu Sisilia juga mengatakan kalau Sahila bawel tolong dimaklumi, dan Raka mengangguk. Ibu Sisilia juga meminta Raka agar bisa menjaga Sisilia, kalau saja Sisilia kesulitan, Ibu Sisilia tau bagaimana Raka dari Vito, dan Raka menyetujui Ibu Sisilia.
Setelah makan malam selesai, Raka pamit undur diri.
" makasih ya kak Raka. dari tadi belum ngucapin makasih". Sisilia tersenyum pada Raka.
" Ia, oh ya motor kamu 2 hari lagi saya antar ke toko kamu saja ya"
" gak usah kak Raka, biar aku yang ambil"
" gak pa pa, sekalian saya mau lihat isi toko kamu sama restoran Sesilka". Raka kemudian pamit pada ibu dan kakak Sisilia , Sahila lalu berbisik " semangaaat". Raka hanya tersenyum dan keluar menghidupkan dan memutar mobilnya. Tak lama mobil itu sudah hilang meninggalkan jejak roda di halaman berbunga Sisilia.
Bersambung...
__ADS_1