
Di rumah sakit...
Raka langsung ditangani ahli medis di UGD. Brian dan Doni juga langsung dirawat. Sisilia menunggu di luar.
Vito menerima panggilan dari Sesilka. Ternyata Sesilka sudah memberitakan Hal itu pada Sahila. dan meminta Vito memberi tahu Sisilia agar segera menelfon Sahila.
Sisilia segera menelfon kakaknya itu. Baru saja orang yang dipanggil mengangkat panggilan, Sisilia langsung memegang telinganya yang berdenging. " Pelan-pelan ngomongnya kak, aku gak budeg".
Sisilia lalu menjelaskan apa yang terjadi, meminta Sahila memberi tahu Ibunya agar tidak Khawatir. Sahila disana langsung menutup panggilan.
***
Sudah jam 8 malam...
Brian, Doni dan Sisilia dan Vito masih menunggu Raka sadar. Brian yang harus memakai tongkat itu menyandarkan tongkatnya ke dinding.
Seorang perawat keluar dari ruangan menghampiri mereka. Suster Mengatakan Kalau pasien atas nama Raka sudah sadar.
Mereka semua segera masuk ke dalam ruangan Raka. Raka terbaring sambil melihat infus di tangannya.
Sisilia mendekat." kak Raka ini berapa?". Sisilia mengacungkan 2 jarinya memastikan otak Raka baik baik saja.
" Bukannya kamu harusnya nanyain saya baik-baik saja atau tidak ya Sisilia?". Raka melihat jari Sisilia.
" Udah pasti kak Raka gak baik-baik aja. kak Raka baru aja sadar dan harus diinfus". Sisilia terdengar khawatir." Jadi yang harus dipastikan otak kak Raka masih berfungsi atau enggak". Sisilia menurunkan Suaranya setelah mendengar tawa Brian dan Vito.
Raka menyadari Sisilia yang menahan malu" Saya tau itu 2 jari kamu Sisilia, boleh kamu turunkan sekarang kok!". Raka melihat jari Sisilia masih nangkring di udara.
Raka lalu melihat Brian dan Doni lalu reflek tertawa." Loe berdua kenapa, udah kayak mumi aja ". Raka melihat Brian yang tangan kiri dan kaki kanannya di perban. Sementara Doni kedua tangannya diperban.
" yee, mumi malah ngatain mumi. loe lebih mirip mumi, setidaknya kepala kita berdua gak ada perbannya ya gak Doni". Brian melihat Doni yang sedang menahan tawanya.
" Ketawa aja Loe tumben nahan ketawa". Raka juga heran melihat Doni.
Doni lalu tertawa namun menahan rahangnya" Gue gak bisa ketawa, rahang gue cuman bisa buat ngomong, sakit banget ini".
Ternyata rahang Doni agak bergeser setelah pertarungan tadi, Dokter menyarankan agar ia tidak boleh membuka rahangnya lebar-lebar.
__ADS_1
" Kamu gak pulang dulu Sisilia, ini udah malam loh". Raka menanyakan Sisilia sambil melirik Vito.
" Saya udah ngajakin dia pulang dari tadi bang, tapi dia mau nunggu sampe bang Raka sadar". Vito yang dilirik itu berusaha menyelamatkan dirinya.
" Iya, aku nungguin kak Raka sadar ." Sisilia melihat Raka.
" Terus, itu aja. Atau ada yang lain?". Raka tau ada yang ingin ditanya Sisilia.
"Aku juga mau tau gimana sama perusahaan itu, kita bahkan gak punya bukti buat menjerat mereka". Sisilia tampak menahan kesal
" Ooh Itu udah ada dalam Rencana Raka Sisilia". Brian langsung memandang Sisilia dengan raut keberhasilan.
" Iya Sisilia, itu sudah saya antisipasi. Biar Doni yang jelasin". Raka menatap Doni yang sedang mengelus Rahangnya.
" jahat banget loe, gue udah kayak gini, masih disuruh ngejelasin". Doni terdengar memelas.
Akhirnya Raka yang menjelaskan..
Sebelumnya Raka sudah menelfon papanya untuk ikut menyelidiki Berno. Pemilik perusahaan kreditur itu, yang ternyata adalah junior Papanya saat kuliah.
Dahulu mereka ingin membangun bisnis namun tidak ada dana. Kebetulan om Berno itu sangat suka hidup mandiri tanpa bantuan orang tua. Punya prinsip kalau usaha harus dimulai benar-benar dari nol.
Sebenarnya mereka hanya punya dua pasangan berbeda mengenai bisnis. Papa Raka lebih suka memakai uang itu untuk peluang yang lebih besar. Sementara om Berno tidak mau memakai uang dari orang tua mereka. Lalu masing-masing dari mereka memulai bisnis sendiri.
Balik lagi ke rencana..
Raka menyuruh Yusuf mengawasi CCTV sehingga ia bisa tahu kalau Sisilia terancam. Lalu Doni diminta membuat camera 360 derajat yang bisa merekam langsung secara Live pada komputer perusahaan yang diawasi Yusuf ukurannya harus sangat kecil, sehingga Brian dan Raka beserta beberapa karyawan yang berbakat ikut membantu memodifikasinya.
Sementara Brian berusaha mencari alat yang bisa menempel di dinding tanpa ada kecurigaan lewat koneksi bapaknya di kepolisian. Benda itu berbentuk slime yang bisa menempel jika di lempar.
Raka menyarankan ide agar mereka bertiga memasukkan kamera ke slime itu menghindari bunyi. Namun jika mereka tiba-tiba melempar slime, pasti akan menimbulkan kecurigaan.
Raka lalu memberikan ide anehnya yang lain. Mereka berpura-pura memasukkan slime itu ke mulut seolah itu adalah permen karet. Awalnya Doni dan Brian menolak karena itu menjijikkan. Tapi ketika Raka meminta mereka menyarankan ide lain, Brian dan Doni tidak punya sehingga mereka terpaksa ikut ide Raka.
Brian sempat hampir memuntahkan slime sebelum waktunya. Karena sudah tak tahan, Brianlah yang duluan meludah permen karet yang seharusnya itu giliran Doni. Untung saja mereka bisa berimprovisasi sehingga menghapus kecurigaan para penonton.
" Sisilia, Vito". Raka memanggil Sisilia dan Vito yang menerawang memikirkan penjelasan Raka.
__ADS_1
" Jadi kak Raka udah rencanain semua" Sisilia merasa tekanan di dadanya perlahan lepas.
" Tapi saya hampir kehilangan kendali Sisilia".
" Kenapa kak Raka. Bukannya sesuai sama Rencana kak Raka ya. Aku bahkan masih gak nyangka". Sisilia mengeluarkan senyuman tipis.
" Karena saya pikir dia tetap sama prinsipnya gak akan nyakitin yang lemah, terutama perempuan. Tapi dia lupa ingatin bawahannya wanita jal*** itu." Raka kembali kesal
" Wanita jala**, kenapa bang?". Vito mengingat si wanita itu.
" Dia hampir ngelukain wajah Sisilia. Kalau sampai kamu terkena bahkan hembusan Rokoknya, saya bisa patahkan leher dia". Raka menelan kekesalannya melihat pada Sisilia.
" Bukannya loe juga gak mau nyakitin yang lemah terutama perempuan ya Raka". Brian nyolot.
" Iya kalau dia gak ganggu Sisilia, ". Raka menjawab gak kalah nyolot. " Untung kamu cepat meludahi rokok itu Sisilia, kamu sangat hebat". Raka memuji Sisilia
" Bener, saya juga harusnya ngejambak rambut dia tadi, andai aja saya gak terikat. Rambut saya kayaknya udah tersisa 70 persen dari jumlah awal bang". Vito mengusap kepalanya yang dijambak habis-habisan tanpa perlawanan.
" Itukan karena kamu ngatain dia sebelum dia sempat bukain ikatan kamu Vito." Sisilia melihat Vito.
" Ya kan kamu yang bilang dia coba ngarahin rokok ke wajah kamu, bahkan narik rambut kamu, kan saya jadi emosi". Vito membela diri
" oo iya, dia ngejambak rambut kamu juga ya, harusnya tadi saya ngejambak Rambut dia juga tu" Raka kecewa.
Setelah lama bercerita, Raka langsung menyuruh Vito dan Sisilia agar segera pulang. Karena hari sudah larut, Raka meminta karyawan perusahaannya untuk datang mengantar Vito dan Sisilia ke gedung toko Mereka. Karena Sisilia meninggalkan Skuternya di depan gedung, Vito juga meninggalkan kendaraannya disana.
Setelah Sisilia dan Vito pamit. Ruangan itu hanya diisi oleh 3 sekawan konyol yang saling ejek satu sama lain.
" untung aja loe nggak mati Raka, pas loe pingsan kayak slime yang kita lempar. meleyor jatoh" Brian memancing tawa Doni yang berusaha terlihat kalem karena rahangnya
" Gue gak akan mati secepat itu.Loe berdua bisa bertarung gak sih, tadi gue lihat Doni bahkan bajunya udah compang-camping. Loe Brian, Celana loe hampir lepas tau gak". Raka mengejek
" Kan baju gue bahannya kebetulan tipis, karena gue kepanasan dari pagi,makanya robek"
" Ikat pinggang Celana gue lupa gue pasin habis dari toilet".
Saat mereka masih mengobrol, Pak Rama Papanya Raka mendatangi ruangan itu. Memastikan anaknya yang masih hidup tidak kekurangan apapun. Seperti tidak kehilangan anggota tubuh maupun kemampuan otak, apalagi setelah terkena pukulan hingga pingsan dibawa ambulance.
__ADS_1
Bersambung...