Takdir Masa Depan Cinta

Takdir Masa Depan Cinta
Takdir Buat Rini


__ADS_3

Mereka semua keluar dari restoran itu dan pergi ke tempat lain. di mobil, Doni mencoba menghapus Dandanan Brian namun sangat susah. Sementara Rini hanya dengan memakai cairan pembersih sisa makeup langsung mengembalikan wajahnya seperti semula.


Mereka berhenti di tempat kaki lima dan duduk berjejer. Setelah memesan apa yang mereka suka, Sisilia langsung bertanya mengapa Brian dandan seperti itu. Doni sudah sibuk makan kembali, sementara Brian mengambil nafas akan bercerita.


Sebelum itu, Raka juga balik bertanya mengapa Rini berdandan aneh. Sisilia Hanya takut kalau Rini bertemu orang aneh dan Raka mengatakan hal yang sama. Sisilia mengatakan kalau Rini tidak mau dijodohkan lalu Raka juga mengatakan hal yang sama tentang Brian. Perdebatan mereka dihentikan oleh Rini.


" Udah, kok kalian jadi berdebat sih". Rini menghentikan dua orang yang adu mulut itu.


" Iya, apa kabar saya yang udah diliatin sepanjang perjalanan tadi". Brian mengeluh.


" Udahlah, ayo kalian ngobrol setidaknya kalian saling kenal kan". Raka memperlihatkan senyum menggoda Brian.


Brian meremas jemarinya di bawah meja ingin sekali menjitak kepala Raka, sayang sekali mereka duduk hadap hadapan. dan juga kalau Brian menolak ia takut Rini merasa tersinggung.


" Iya siapa tau ini memang takdir kalian". Sisilia mengedipkan matanya pada Rini.


Rini juga memainkan telapak tangannya di bawah meja ingin sekali menampar dan menyumpal mulut Sisilia. Sisilia juga mengatakan kalau mereka punya kesamaan, Sama sama memesan nasi goreng. Raka yang mendengar candaan garing Sisilia hanya tersenyum saja.


" Kan saya udah bilang kalau Brian itu suka nasi goreng". Raka memakan baksonya yang sudah agak dingin.


" Iya, aku udah bilang juga gak sih. Kalau Rini juga penggemar berat nasi goreng. Dia bahkan bisa ngabisin dua bungkus nasi goreng walaupun lagi sedih". Sisilia melirik Rini.


Dua orang yang dibicarakan asik berpikir satu sama lain. Apa yang harus diobrolkan, apa yang harus ditanyakan, apa yang harus dilakukan. Mereka bertanya mendalam ke pikiran masing-masing.


Akhirnya Brian membuka obrolan " Kenapa kamu bisa ikut pertemuan yang diatur ini Rini"


" Gak tau Papa aku katanya punya kenalan yang anaknya kerja di perusahaan yang sama kayak aku". Rini menyuap nasi goreng ke mulutnya.


Rini melirik Brian yang juga asik menyuap nasi goreng ' Nanya yang lain kek , bikin aku canggung'. Rini melihat Sisilia yang asik berbisik dengan Raka, sementara Doni juga tak berhenti mengunyah makanannya.


" Kak Brian kok dandanan begitu". Rini inisiatif bertanya.

__ADS_1


" Ooh, Raka yang punya ide, Kamu juga ngapain Dandanan begitu?".


" Ide Sisilia".


Mereka kembali makan setelah berbicara beberapa patah saja. Brian mengusap pipinya yang perih karena digosok kasar oleh Doni tadi.


Ternyata Bapaknya Brian dan Papanya Rini adalah kenalan lama. Setelah Rini menceritakan siapa papanya, Brian sadar kalau ia pernah bertemu dengan Papanya Rini. Namun Rini tak pernah bertemu dengannya, karena Papanya Rini selalu mengatakan kalau anaknya sangat suka belajar dan tidak ada waktu bepergian.


" Saya pikir kamu beneran pintar loh, karena papa kamu sering bilang anaknya suka belajar". Brian kembali membuka obrolan.


" Iya aku pikir orang yang mau dijodohkan sama aku tampan banget loh". Rini membalas.


Sisilia menatap Brian tak terima mengatai Rini " kak Brian, Rini itu termasuk yang pintar loh , soalnya sering jadi asisten dosen, bahkan pernah jadi tutor matematika anak- anak".


Raka juga gak kalah di ingin membela Brian. Brian biar dikata jomblo juga masih termasuk tampan. dari sejak mereka masih kuliah, ada banyak perempuan yang berani menyatakan perasaannya pada Brian. Tapi tidak diterima hanya dengan alasan perempuan itu kurang pintar.


Hp di tas Rini berbunyi, sebuah nomor dari Papanya masuk. Rini segera mematikan panggilan itu. Bagaimana jika ia ditanya mengenai Brian, apa yang harus dijawabnya.


" iya Tante, " Sisilia menutup lubang perekam suara untuk panggilan dan berbisik ' Mama kamu bilang, pendapat kamu tentang laki-laki itu Gimana".


Rini tergagap, bagaimana mungkin ia mengatakan Brian bukanlah tipenya walaupun memang tampan. Tapi ia tak menyangka kalau Brian adalah jodoh yang diatur orang tuanya, meskipun memang Brian itu menawan tapi ia tak pernah berniat menyukai dan memiliki perasaan pada Brian.


Brian juga mengatai ia bodoh. dan satu lagi, Brian itu bisa dibilang cukup belagu dan gayanya slengean. Rini ingin disukai dan menyukai lelaki tampan namun sopan dan membuatnya nyaman. Sementara Brian malah membuatnya selalu kesal setengah mati, mulai dari mencari alasan agar ia membocorkan rahasia mengenai Sisilia, sampai menyuruhnya melakukan hal diluar tugas saat di perusahaan.


" eee jadi menurut Rini laki- laki itu, hah Tante bakal cariin yang lain lagi kalau Rini bilang gak cocok". Sisilia meminta Rini segera merespon apa yang harus ia bilang pada Mamanya Rini.


" Menurut aku mereka cocok sih Tante, kalau gitu Tante ngomong langsung aja sama Rini Tante".


Rini yang mati matian menolak akhirnya tetap harus berbicara dengan orang tuanya di dekat Brian.


" Kamu bilang aja apa yang kamu gak suka dari saya, saya gak keberatan kok". Brian memaksakan senyumnya ' awas kalau ngomongin yang aneh-aneh ya Rini, .nanti pas di perusahaan saya kasih kamu tugas yang aneh-aneh juga hehe'

__ADS_1


" Bagus mah, tapi kan akuu". Belum selesai Rini mengatakan kalau ia tak mau berhubungan dengan Brian tapi Mamanya sudah menutup panggilan.


"Kamu mau ngomong apa?". Brian penasaran


" Bilang kalau aku gak mau menjalin hubungan yang serius sama kak Brian".


Brian tertawa , menjalin hubungan serius. Ternyata orang tua Rini menganggap pertemuan ini seperti pertemuan yang penting saja. Dia kan sudah sering ikut pertemuan semacam ini jadi sudah biasa.


Brian juga ikut menerima video call dari bapaknya. Brian ingin menolak tapi Rini menekan tombol terima, sambil mengejek "bilang aja apa yang kak Brian gak suka dari aku hmm!"


" Rini kamu, awass yaa ".


Ketika Bapaknya bertanya mengenai perempuan yang diatur dengannya. Brian langsung tersenyum dan mengangguk. Mengatakan kalau Rini sangat cocok dengannya, Brian juga meminta agar Bapaknya berhenti mengatur pertemuan dengan perempuan lain.


Bapaknya langsung setuju dan meminta Brian agar membahagiakan dan menjaga putri temannya. Brian mengangguk pasti dan menutup panggilan.


Semua yang ada di meja menatap Brian heran, terutama Rini yang sepertinya akan menelan Brian hidup-hidup.


Brian beralasan kalau ia tak terima Rini, mungkin ia akan diatur dengan perempuan lain. Hal itu membuatnya muak, karena ia tak kenal bagaimana sifat asli perempuan itu.


Kalau Rini, kurang lebih ia mengetahui sifat Rini. Mereka juga di perusahaan yang sama hingga dapat memudahkan hubungan, bisa dibilang mengulur waktu agar bisa mencari pasangan. Kalau sudah cukup lama dan sudah berhasil menemukan pasangan yang tepat, mereka bisa berhenti.


Rini memikirkan hal itu dengan saksama. Benar juga pemikiran Brian menurutnya, apalagi sudah lama Orang tuanya ingin menjodohkan ia dengan seorang lelaki. Orang tuanya khawatir


jika ia terjerat pergaulan yang menyesatkan dan malah menyesal, Rini menyetujui hal itu.


Rini dan Brian akan berpura-pura saling tertarik dan mencoba menjalani hubungan saling mengenal. Sementara yang ada di meja lainnya harus ikut membantu mereka. Raka dan Doni tentunya langsung setuju tanpa basa basi. Apapun keputusan Brian adalah yang terbaik walaupun mereka harus berkorban.


Sisilia yang bingung terpaksa menyetujui saja karena ia tidak berhak bersuara lain karena sudah jelas kalah suara. Nasibb nasibb, Sisilia selalu kalah suara dengan hasil satu banding dua, dahulu ia lawan Vito dan Sesilka. Kini Ia melawan Raka dan Doni Hadeuuh.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2