
Raka ingin membuat suasana di perusahaan kembali Tenang. Karena kejadian beberapa hari lalu saat berurusan dengan perusahaan rasa rentenir.
Brian dan Doni dipanggil ke kantor Raka. Mereka diminta memberikan ide tapi tak ada yang punya. Doni masih terus melihat file kerja sama, sementara Brian hanya melihat internet tanpa membuka apapun, agar kesannya ia seperti mencari ide. Raka tau dua sahabatnya ini tak bisa diharapkan.
Akhirnya Raka meminta rapat darurat kepada seluruh pegawai, diadakan saat Makan malam perusahaan di restoran Sesilka tentunya. Raka meminta Doni membuat grup chat dan menyuruh untuk memasukkan karyawan di luar perusahaan itu.
" Siapa karyawan di luar perusahaan?, Raka loe bikin pekerjaan lain tanpa sepengetahuan kita.". Doni menaruh curiga.
" aah, loe kayak pengen gue pukul ". Raka ingin memukul Doni tapi ditahannya.
" Siapa Brian?". Kini Brian dengan kepekaan yang tinggi mulai diinterogasi.
" Biar gue terawang, kalo loe senyum ngeri gini, jawabannya cuma satu, Sisilia pasti ada di dalamnya." Raka langsung mengangkat jempolnya, dan Brian juga menepuk dadanya sombong.
" Oo, jadi yang mau dibikin tenang bukan perusahaan, tapi Sisilia toh". Doni mulai memasukkan Sisilia dan Vito, lalu meminta mereka memasukkan Sesilka dan dua pegawainya.
Saat Vito bertanya mengapa mereka harus membuat grup. Doni menjawab untuk keperluan perusahaan, karena mereka adalah bagian dari karyawan Raka walaupun secara tidak langsung.
" Andai aja kepekaan loe itu buat dapetin cewek, gue yakin loe udah punya pasangan". Raka menggeleng menatap Brian.
" Makanya gue mau cewek yang pintar, bisa bikin gue penasaran sama dia. Merhatiin dia dan lain-lain. Tapi sayangnya gue belum nemu". Brian mengusap dagunya. Raka dan Doni beranjak Pergi, dan tidak menghiraukan ucapan Brian.
****
Makan malam perusahaan menghabiskan hampir seluruh tempat di restoran Sesilka. Open di pintu kaca Restoran sudah diubah menjadi close.
Sisilia yang sudah berada di dalam grup chat diberi tahu kalau mereka harus ikut makan malam perusahaan juga. Sisilia,Vito, Sesilka dan dua pegawai Sesilka ikut juga.
Raka langsung meminta saran tiap orang disana. Ada yang mengusulkan rekreasi ke luar kota. Ada yang mengusulkan outing olahraga seperti arung jeram. Bahkan Rini ikut mengusulkan untuk Trip ke tempat wisata.
Raka menenangkan semua orang. Raka lalu meminta mereka jangan untuk foya-foya atau liburan, tapi mempererat hubungan antar karyawan. Karena masalah beberapa waktu lalu cukup memusingkan.
Salah satu dari mereka mengusulkan Team Building, kegiatan saling mempererat hubungan antar karyawan sekaligus bisa refreshing sejenak. Namun ada yang protes kalau acara itu harusnya di akhir tahun.
Raka sendiri setuju dengan ide tersebut. dan memutuskan acaranya dua hari satu malam saja. Tempatnya ada di Vila milik Keluarganya. Raka mengatakan akan meminta rekanan atau vendor jasa kegiatan team building, agar dapat mengurangi beban pikiran para karyawan dan membuat seluruh karyawan yang mengikuti dapat fokus menikmati acara secara utuh.
***
Esok harinya, masih pukul 6 pagi..
Semua karyawan sudah berkumpul di parkiran perusahaan Raka. Sisilia dan Rini yang datang bersama masih sesekali menguap.
__ADS_1
Beberapa bus panjang datang kesana. Satu persatu karyawan masuk ke dalam bus. Raka melihat Sisilia dari dalam bus dan menyuruh Doni memanggil. Setelah barang mereka aman di bagasi bus, barulah mereka masuk. Saat masuk , hanya tersisa dua kursi kosong. Satu di sebelah Brian dan satunya lagi di sebelah Raka.
" Kak Brian, bisa pindah gak! biar aku duduk disana sama Sisilia". Rini melihat Brian namun Brian tak beranjak sedikitpun.
" Kamu tinggal pilih mau di samping saya atau di samping Raka. Saya males duduk sama Raka". Brian menampilkan ekspresi jijik.
" Saya juga males duduk sama dia". Kali ini Raka menampakkan ekspresi yang lebih jijik dan sekaligus geram.
Sisilia meminta Rini duduk di samping Raka dengan berbisik. Tapi Raka menyadari dan memberi kode pada Brian.
" Rini kamu duduk disini ya, ada yang mau saya tanyakan". Brian mengarahkan tangannya menepuk kursi disebelahnya menyuruh Rini kesana.
Akhirnya Rini duduk di samping Brian. Mau tak mau Sisilia duduk di samping Raka.
" Kamu gak mau duduk di sebelah saya Sisilia?". Raka menatap Sisilia
" Bukan gitu kak Raka, takutnya kak Raka mau ngurus sesuatu gitu, kan kalau ada aku jadi keganggu". Sisilia mencoba mengelak.
" Bukannya saya udah bilang kita Refreshing ya, jadi gak ada urusan perusahaan". Raka melihat Sisilia yang mengangguk -angguk.
" Tapi kak Brian?". Sisilia menyadari tadi Brian memanggil Rini karena ada yang ditanyakan.
Brian sadar ia yang dituju. " Saya lupa kalau kita refreshing, maaf ya Rini". Brian yang santai lalu tidur menjatuhkan kepalanya ke jendela.
" Enggak kok kak Raka, aku gak ngantuk". Sisilia masih menguap.
" Yaudah,". Raka lalu mau mengeluarkan permennya, ingin memberikan satu untuk Sisilia.
Tapi saat melihat ke Sisilia, tampak Sisilia sudah tertidur. Ucapan dan Tindakan Sisilia sepertinya tidak sejalan. Kepala Sisilia hampir terantuk ke depan Tapi dengan cepat Raka memegang kepala Sisilia dengan lembut agar tidak terbangun. Lalu Raka menyandarkan kepala Sisilia ke bahunya dengan pelan.
Raka tak jadi mengeluarkan permennya. Ia melihat wajah Sisilia yang tertidur dan mulai tersenyum sambil memalingkan wajah ke jendela, takut ada yang menyadarinya.
' Bagaimana bisa dia tertidur tidak sampai semenit sejak ia bilang tidak mengantuk, sangat lucu'. Raka tidak bisa menahan senyumannya, semakin ia lebih dekat dengan Sisilia, semakin ia merasa Sisilia itu menarik dan lucu.
***
Mobil bus Sudah berhenti. Semua orang mulai turun, Rini yang ingin membangunkan Sisilia dilarang oleh Brian.
" Biar Raka yang ngurus Sisilia". Brian berbisik pada Rini.
Rini mengangguk dan ikut turun. Beberapa saat kemudian, Sisilia terbangun. Ia melihat ke kursi Rini tapi sudah kosong.
__ADS_1
" Kok kak Raka gak bangunin aku".
" Saya pikir kamu mungkin ngantuk banget, jadi saya gak berani"
Sisilia langsung turun dari bus, dan menelfon Rini dimana berada. Namun Karena Rini menjelaskan berbelit -belit Sisilia tak paham. Raka mengatakan biar ia saja yang mengantar, karena untuk kamar wanita memang agak jauh agar tetap aman.
Ketika bagasi dibuka, Sisilia mengambil tas bawaannya. Raka juga mengambil tasnya dan kembali menutup pintu.
" Siniin tas kamu Sisilia!. Biar saya yang bawa". Raka mengulurkan tangannya.
" Gak usah kak Raka, biar aku sendiri saja". Sisilia menolak.
" Kamarnya jauh loh, vendor penanggung jawab yang saya bawa cuman mengurus transportasi dan acara, bukan ngurusin Hal yang kita perlu".
" Gak pa pa kak Raka aku gak butuh vendor juga kok, aku bisa sendiri". Sisilia masih menolak.
" Ya udah kamu ikutin saya ya!". Raka mulai berjalan diikuti Sisilia.
Jalan menuju Ke Villa cukup menanjak. Akhirnya Sisilia meminta Raka yang membawa tasnya. Raka setuju dan menyuruh Sisilia berpegang padanya agar tidak jatuh. Sisilia memegang baju jaket Raka seperti berpegangan pada kang ojek.
Sampailah mereka Di depan kamar. Sisilia mengetuk pintu dan Rini keluar sambil makan camilan. di dalam terdengar juga ada suara Sesilka yang sedang telfonan. Raka kemudian berjalan ke kamarnya, tempat Doni dan Brian sudah rebahan dari tadi.
" Lama amat kamu bangun Sil"
" kenapa gak kamu bangunin hah, Rini"
" Ya baguslah, kamu bisa lebih dekat sama kak Raka. Pas kamu tidur kak Raka bikin bahunya senyaman bantal buat kamu Sil". Rini lalu tertawa
" Udah ah, bantuin aku ngerapiin barang-barang!". Sisilia membuka sepatunya yang tampak kotor.
" Kok sepatu kamu kotor sih Sil?". Rini melihat Sepatu Sisilia yang tapaknya dilapisi tanah.
" Jalannya sulit Rini, aku harus pegangan sama kak Raka".
"pegangan?, jalanan sedatar itu kenapa harus pegangan?". Rini bingung.
" Kenapa datar Rini. Jalannya menanjak tau".
Rini menunjukkan jalan yang ia lewati pada Sisilia dari jendela. Jalanan itu memang datar, tapi Sisilia tidak lewat jalan itu bersama Raka. Rini menjelaskan pasti itu jalan pintas bukan jalan utama tapi lebih cepat, Brian sempat mengatakan itu padanya jika keadaan darurat terjadi, bisa lewat sana.
Mengapa Raka mengajaknya lewat jalan pintas yang sulit itu. Sisilia merengut, Rini menenangkan Sisilia mungkin saja Raka ingin membuat Sisilia langsung menegetahui jalan pintas agar bisa cepat selamat. Sisilia terpaksa mengiyakan kata-kata Rini, tak ada alasan lain yang cocok selain itu.
__ADS_1
Sementara Raka, sengaja memilih jalan tersebut agar bisa membawakan tas Sisilia. Alasan yang tak masuk akal memang, tapi Raka hanya memikirkan Cara itu agar Sisilia bisa melihat ia bisa diandalkan kapanpun dan dimanapun.
Bersambung...