
Setelah obrolan panjang Raka dengan papanya ,pak Rama pemilik 'RAMAGI INVEST' itu, Raka meminta semua file mengenai perusahaan kreditur itu pada Doni agar mengirimkan lewat surel pada pak Rama.
malam harinya pak Rama memberikan informasi tak terduga pada Raka, Brian dan Doni. Informasi itu membuat Raka menggabungkan rencananya dengan informasi papanya itu.
****
Sisilia sudah beberapa hari ini merasa selalu diawasi oleh seseorang. Vito juga merasa demikian, Vito sering melihat orang aneh menatap toko mereka atau orang yang masuk tanpa membeli tanaman.
Saat Vito memberitahukan Raka mengenai hal itu, Raka hanya meminta agar Vito bisa selalu bersama Sisilia. Apapun yang terjadi Raka memohon pada Vito agar tidak membuat Sisilia dalam bahaya. Raka juga meminta seorang ahli bela diri sebagai pengawal, berada di dekat toko Sisilia. Sisilia merasa sedikit aman karena orang itu duduk di bawah payung dekat meja balkon, memperhatikan orang mencurigakan.
Namun sepertinya hari ini, pengawal itu kurang keberuntungan. Seorang wanita datang menghampirinya, dengan baju belahan tinggi mondar-mandir di depan pengawal yang sedang bersiaga itu.
3 orang berbaju kaos biasa Datang, yang satu melihat keadaan dan yang dua lagi menghampiri Sisilia dan Vito. Yusuf langsung memberitahukan pada Raka apa yang terjadi.
2 hari sebelumnya...
" Jadi apa rencana kita?". Brian bertopang dagu sambil memakan beberapa kripik di meja tamu ruangan Raka.
" Tunggu, Yusuf datang bentar lagi ". Raka berkacak pinggang.
Yusuf kemudian datang, " saya sudah mengurusnya pak".
" Ngurus apaan, kok gue gak tau apa-apa. Raka loe Enggak mau ngelibatin Gue sama Doni?". Brian merasa teracuhkan.
" Gue nyuruh Yusuf buat dapat minta rekaman CCTV jalan yang biasa dilewatin Sisilia, dan lagipula apapun urusan gue, loe berdua kagak mungkin gue lupain, malahan loe berdua harus ikut karena ini penting". Raka menenangkan Brian yang merasa diabaikan itu.
" Iya, gue pasti ngebalas kekalahan gue waktu itu,". Doni membunyikan jemarinya.
Mereka lalu berunding dahulu.
****
Hari eksekusi...
Orang yang melihat keadaan itu menutup camera CCTV dengan lakban yang ia bawa. lalu memukul Vito hingga pingsan. Sisilia diancam jika tak ingin Vito terluka lebih baik ikut mereka.
__ADS_1
Pengawal tadi berusaha menyelamatkan namun gagal karena ia mengancam akan memyakiti Sisilia. Pengawal itu tak bisa berbuat apa-apa, Sesilka menyadari keributan di atas dan berlari melihat keadaan, namun Vito dan Sisilia sudah tidak ada. Sesilka mengirim chat di grup menanyakan apa yang terjadi. Raka hanya membalas agar Sesilka mencoba untuk tenang karena ia akan mengurus Hal itu.
Pengawal yang memakai earphones terhubung dengan Raka itu mengabarkan kalau Vito dan Sisilia dibawa oleh mereka. Raka terdengar emosi mengapa pengawal itu tidak menjaga Sisilia dengan benar.
Brian dan Doni mencoba menenangkan Raka. Lalu Raka mendapat panggilan dari perusahaan kreditur itu. Mereka Mengatakan jika ingin anak buah Raka selamat, silahkan datang hanya bertiga, orang yang membuat anak buah mereka cedera dan dibawa ke kantor polisi.
3 sekawan itu langsung bertindak. Raka menerima pesan Alamat yang terhubung me sistem pelacakan komputer otomatis. Tempatnya adalah sebuah gudang kosong yang ditinggalkan.
Raka dan dua sahabatnya langsung bergerak menuju ke sana. Karena jika lebih lama lagi, entah bagaimana dengan Sisilia. Setibanya mereka disana, Raka langsung mencari Sisilia, Ternyata Vito dan Sisilia diikat dengan lakban di kursi sebelah samping. Mulut Vito dan Sisilia juga diberi lakban.
" Akhirnya kalian datang juga". Seorang lelaki yang duduk di kursi diantara anak buahnya yang berdiri mulai berbicara.
Raka,Brian dan Doni kesana sambil memakan permen karet. Brian lalu meludah sembarangan ke dinding bagian kiri. " Doni, bahkan ludahan permen karet gue setinggi itu, Gue juga bisa bikin anak buah mereka terbang setinggi itu, loe bisa nggak?". Brian mengeluarkan nada menantang. "
" Wah nantangin, ". Doni mengeluarkan bekas permen karetnya ke dinding sebelah kanan, lebih tinggi dari Brian. " nah lemparan gue lebih tinggi, pasti gue bisa ngelempar anak buah mereka lebih tinggi". Doni percaya Diri.
Sementara Raka membuang permen karet ke belakang secara cuma-cuma. Lelaki itu mengatakan bahwa Raka,Brian dan Doni terlalu menganggap hal ini remeh hingga masih sempat makan permen karet.
" Udah gak penting. Pokoknya Kita udah datang, sekarang lepasin mereka berdua!". Raka melihat Sisilia yang menatapnya berkaca-kaca, nampak aura ketakutan di wajah Sisilia.
" ooh, Dasar tukang dendam". Raka tak terdengar serius.
Perempuan yang berbaju belahan tinggi tadi membuka paksa lakban di mulut Sisilia. " awwh" Sisilia merasa perih. Raka mengepalkan tinjunya.
Perempuan itu mengeluarkan sebatang rokok dan membakar ujungnya dengan mancis. Ia mengeluarkan rokok itu setelah sekali mengisapnya, dan ingin melukai wajah Sisilia.
Ketika ia sudah mendekatkan ujung rokok ke wajah Sisilia, Sisilia langsung meludahi ujungnya hingga basah dan mati. Perempuan itu menarik rambut Sisilia, membuat Sisilia merintih kesakitan.
" Lepasin gadis itu, saya gak pernah libatin wanita lemah dalam urusan saya!". Suara lelaki di kursi itu terdengar marah.
Raka yang hampir mau ikut menjambak wanita yang menarik rambut Sisilia, tapi segera berusaha meredam emosinya. Untung si lelaki di kursi segera menghentikan perempuan jahat itu.
" Tapi". Perempuan itu mengelap jarinya yang basah sambil tak terima.
" Kamu cuman berdiri saja disana saya suruh, jangan melakukan Hal yang saya larang!". Perempuan itu langsung tertunduk.
__ADS_1
" Kalian tau gak perbuatan kalian ini bisa dipidanakan?". Raka memulai basa-basi
" tentu saja, makanya saya pilih tempat ini, gak akan ada CCTV dan apapun yang bisa membuktikan Hal ini." Lelaki itu menyombong.
" Kalian terlalu percaya diri, seharusnya kalian tidak melibatkan wanita yang sangat berharga bagi saya. Karena hal itu membuat saya Sangat marah". Raka masih tenang walaupun ucapannya seharusnya bernada marah.
" Tentu saja saya tahu, dalam rekaman di kantor polisi, kamu melindungi gadis itu. "
" Kenapa kalian libatin dia, otak bisnis kalian gunanya buat apa?". Raka masih tenang.
" Justru karena ini bisnis, saya harus melakukan penawaran bagus agar hasil yang saya dapatkan bagus. Rencana saya harus mulus. dengan membawa dua manusia lemah itu kalian Bisa diancam dan langsung patuh hanya datang bertiga saja". Lalu lelaki itu tertawa.
" Kalian harus tau, atau anda harus tahu pak, tidak ada rencana yang sempurna. anda juga tidak adil membawa banyak anak buah hanya untuk melawan kami bertiga". Raka masih meladeni ucapan lelaki itu.
Lelaki itu membalas" menurut otak bisnis saya, membuat musuh bertekuk lutut apapun caranya adalah Cara yang terbaik"
"Anda Salah, menurut otak bisnis saya, mengenali musuh adalah yang terbaik. saya gak suka musuh saya bertekuk lutut. Jadi, Lebih baik musuh saya tau kalau rencana saya lebih baik. Kalau bisa sih musuh saya harus sadar akan kesalahan, lalu bersatu membuat bumi menjadi dipenuhi oleh orang yang berdedikasi. " Brian dan Doni yang bingung mendengar ucapan Raka hanya mengangguk seolah mengerti. Sisilia juga tidak bisa mencerna kata kata Raka.
Semua anak buah lelaki itu sudah bersiap dengan senjatanya masing-masing. Tapi Raka mengusulkan untuk tidak memakai senjata seperti laki-laki sejati.
" Sebelum kalian saya paksa bertekuk lutut, kenapa tidak sukarela saja dulu". Lelaki itu menyunggingkan senyumnya.
" Gak ada yang namanya sukarela, kita gak salah, kalian yang salah." Doni menekankan suaranya sambil menunjuk lelaki di kursi itu, membuat Raka dan Brian bertepuk tangan.
" Doni tenang, loe pasti bisa ngalahin mereka kali ini". Brian berbisik.
" Iyalah, waktu itu cuma keberuntungan pihak mereka, kali ini gak akan gue biarin lolos". Doni masih berbisik.
" Sepertinya kalian menolak Cara terbaik dari saya. Ya sudah, selamat menikmati hari kesakitan kalian. oh salah hari kematian kalian" . Lelaki itu kembali tertawa.
" Ketawa lagi ,loe pikir komedi. Eh loe lagi, Anda pikir ini komedi. Ini baru bener". Raka menepuk pundak dua sahabatnya.
"Kalian Terlalu banyak omong kosong, seraang!!!!". Lelaki itu memberi aba -aba.
Bersambung...
__ADS_1