
Raka, Brian dan Doni membalas serangan mereka yang memukul duluan. Mulailah kegiatan Saling pukul dan saling tendang, kemampuan karate mereka selama bertahun-tahun kini dipertaruhkan. Ada yang terguling, terhempas dan terduduk.
Perempuan dengan baju belahan tinggi tadi malah berlindung di belakang kursi Vito dan Sisilia. Vito lalu terbangun saat pecahnya peperangan. Vito merasa masih bermimpi , sampai Sisilia memanggil namanya.
" Vito, Vito sadar gak?. Banguun !". Sisilia memanggil sambil menahan suaranya.
" mmm mm". Ucapan Vito tidak jelas karena mulutnya masih dilakban.
" Mbak, bukain kek. Kasihan Sepupu saya!". Sisilia melihat perempuan jahat yang bersembunyi itu.
perempuan itu membuka lakban mulut Vito dengan tangan yang ia julurkan. Ia tidak berdiri dan masih bersembunyi, lakban yang ditarik paksa itu membuat Vito merasa perih.
" Sisilia, kita dimana?. Kenapa Bang Raka , bang Brian,dan Bang Doni ngelawan banyak orang". Vito terdengar linglung.
" Aku gak tau kita dimana, kak Raka ,kak Brian, sama kak Doni berusaha nyelamatin kita. Mereka perusahaan yang udah nyerang ke perusahaan BDR CYNOC yang pernah aku ceritain". Sisilia masih berbisik sambil melihat pertarungan sengit dua kubu dengan jumlah yang tidak seimbang itu.
" Ini kenapa kita diikat?,". Vito merasakan ikatan kencang yang melilit semua badannya.
" Karena kita tawanannya, Vito. Kamu sih pingsannya kelamaan". Sisilia kesal.
" Mbak, bukain ikatan kita juga dong mbak yang cantikk". Vito merayu agar dibukakan ikatannya.
" cantik, dia Tadi narik rambut aku ke belakang Vito, karena aku gagalin rencana dia ngasih rokok ke wajah aku". Sisilia tak terima Vito masih sempat bilang perempuan itu cantik.
" Apa, dia ngelakuin itu ke kamu . Dasar wanita jala**, jahat, gak perasaan,! biar aku balas Sisilia". Vito tak sadar kalau ia masih terikat, namun ucapannya sudah membuat wanita itu jengkel.
Wanita itu kini berdiri, dan ia menjambak rambut Vito juga. Tarikan tangan mengandung kekesalan itu berkekuatan 3 kali lipat, Membuat Vito mengerang kesakitan.
Suasana semakin riuh, Raka sudah terlihat berantakan, rambutnya juga acak-acakan. Apalagi Brian dan Doni, rambut mereka, dan pakaian mereka juga terlihat urakan.
" Dasar kalian sebanyak ini gak berguna". Suara lelaki di kursi itu menggelegar.
" Kalian maju !". Kali ini lelaki itu menyuruh anak buahnya yang tersisa yang memakai alat seperti kayu dan besi bekas pagar untuk maju.
" Tapi katanya laki-laki sejati gak pakai alat Bos". Salah seorang dari mereka ragu-ragu.
" Saya gak peduli, ". Lelaki itu semakin marah.
Raka tau mereka pasti akan tetap curang.
" Apapun itu pas bokap gue dateng pastiin gue hidup atau mati oke!"
" Maksud loe?". Brian masih ngos-ngosan
" Nanti kalau Bokap gue dateng pas gue sekarat". Raka semakin ngos-ngosan, karena jumlah yang ia lawan lebih banyak dari Brian maupun Doni.
" Bisa-bisanya loe punya niatan sekarat". Brian tak terima
" Gue udah kehabisan tenaga". Raka masih berusaha melawan anak buah yang tersisa tanpa alat.
__ADS_1
usai mengalahkan lawannya, Raka segera berlari membuka ikatan Sisilia dan Vito, Sebelum Sisilia jadi ikut terluka. Sementara Brian dan Doni berusaha melawan mereka yang menggunakan alat sambil menahan sakit.
Raka menyuruh Sisilia dan Vito segera keluar. perempuan jahat tadi masih meringkuk di balik kursi yang tertinggal.
Selagi Vito menarik Sisilia, Salah seorang yang memegang besi memukul tangan kanan Raka. Sisilia melihat Hal itu dan ragu untuk pergi. " kak Raka".
" Lari Sisilia lariii!". Raka meneriakinya.
Sisilia dan Vito segera berlari. Raka yang sudah terduduk itu tampaknya sudah kehabisan tenaga. Pukulan besi mendarat di kepalanya, Ucapan sekarat tadi benar adanya, ia jatuh tak sadarkan diri.
Bunyi serine tanda mobil polisi datang sudah berkerumun di sekitar gedung. Tak ada yang bisa melarikan diri.
" Kenapa bisa ada polisi,". Lelaki itu sudah terkepung bersama para bawahannya.
Ambulance yang datang setelah ditelfon oleh Yusuf langsung datang. 2 orang yang terluka , Brian dan Doni berjalan mengiringi Raka yang ada di atas tandu.
" Bagaimana keadaannya Raka? ". Pak Rama melihat Raka yang dibalut kain kasa di kepalanya.
" Raka Masih hidup om". Brian menjawab Singkat
" Iya om, masih bernafas". Doni menambahkan
Sisilia melihat Raka yang ada di atas Tandu. Sisilia yang ingin masuk ambulance sudah tidak bisa. Karena hanya ada 1 ambulance sementara Brian dan Doni juga ikut masuk.
Brian pun menyuruh Agar Vito dan Sisilia mengikuti pakai mobil yang tadi ia bawa. Ia meminta Vito mengambil kunci di sakunya karena tangan Brian sudah kesakitan.
****
Lelaki itu sudah terduduk, tangannya diangkat ke atas kepala diawasi 1 orang polisi. Sementara beberapa anak buahnya satu-persatu masuk ke mobil polisi.
Pak Rama alias papanya Raka masuk perlahan ke dalam. Ia bersama pengawal yang tadi mengawasi di depan toko Sisilia.
" Saya mau berbicara berdua dengan lelaki ini,boleh tunggu di luar pak!". pak Rama meminta polisi yang berjaga agar menunggu di luar ia jamin pengawalnya akan memastikan lelaki itu tidak kabur.
" Apa urusan anda sama saya". Lelaki itu menatap pak Rama kesal.
" Urusan kita sebenarnya sudah selesai,,, Ben". Lelaki itu terkejut mendengar namanya disebut seseorang.
" Lalu ngapain anda masih menahan saya, Mengapa anda tau panggilan saya dahulu. ?". Lelaki itu tak biasa dipanggil Ben, namanya adalah Berno, Pak Berno, Bos Berno, itulah biasanya ia dipanggil.
" Saya Rama, kita berada di jurusan yang Sama dahulu, Manajemen. Saya senior kamu Ben". Pak Rama menatap mata Berno.
" Ramaa, ". Ia berusaha mengingat." Ooh anak orang yang mau manfaatin uang orang tuanya "
"saya sudah sukses, saya Bisa bangun perusahaan dan banyak uang sekarang. Ini semua karena kerja keras saya sendiri. Saya gak sama kayak kamu". Berno tertawa.
" Saya memang memanfaatkan uang orang tua saya, karena mereka sudah menjual tanah untuk saya. Bagaimana mungkin saya menolak"
" Tapi saya juga kaya tanpa bantuan orang tua kamu. Ngapain kamu ikut mencampuri Bisnis saya". Berno menghina pak Rama.
__ADS_1
" Bisnis kamu,?. Lalu kenapa kamu masih terus mengusik anak muda yang berjiwa bebas seperti mereka?".
" Mereka merusak harga diri perusahaan saya. Saya mau kasih pelajaran, Apa urusannya sama Anda ,,Rama?". Berno berucap tegas kini menyebut nama pak Rama.
" Urusan sama saya?. Kenapa kamu tidak menyelidiki dahulu siapa mereka bertiga". Rama menekan bahu Berno , pengawal tadi menahan tangan Berno agar tidak bisa melawan.
" Siapa, mereka musuh saya karena sudah berani menghina perusahaan saya. Menghina perusahaan saya, artinya menghina saya". Berno kesakitan saat Pak Rama menekan bahunya lebih keras.
" Kalau begitu kamu juga menghina saya. ". Berno bingung dengan ucapan Pak Rama.
" Karena kamu membuat dia terluka, berarti saya juga terluka. Harusnya saya basmi perusahaan kamu sampai hancur".
" Kenapa?". Berno semakin bingung.
" Karena yang tadi terbaring adalah putra bungsu saya". Pak Rama menaikkan suaranya.
Berno seperti tersambar petir. Bagaimana mungkin perusahaan RAMAGI INVEST yang sangat sukses itu, anaknya hanya memiliki perusahaan sendiri. Bahkan seperti perusahaan rintisan.
" Anak saya itu punya kesenangannya tersendiri, ia menyukai komputer dan jaringan-jaringan seperti program internet, dll". Pak Rama langsung tersenyum.
" ampuni saya, ampuni saya Rama. Saya gak Tau kalau dia anak kamu".
" Kamu pikir saya mau mengampuni kamu?. Tentu saja tidak, setelah apa yang terjadi pada putra saya". Pak Rama menunjukkan raut wajah menahan kekesalnya.
Berno langsung berlutut, setelah berusaha melepaskan cengkeraman pengawal tadi.
" Sebenarnya kamu beruntung, punya prinsip yang sama dengan putra saya, tidak bisa menyakiti yang lemah terutama perempuan". Suara pak Rama perlahan tenang.
Berno lalu disuruh duduk kembali, tanpa dipaksa.
" putra saya malah nyuruh saya mengampuni kamu meskipun dia terluka parah,asalkan dia tidak mati. Kalau anak saya mati kamu saya pastikan tidak punya nama bahkan di batu nisan kamu Ben". Pak Rama mulai tersenyum.
Berno masih terdiam di kursinya.
" Tau apa yang putra saya katakan?". Pak Rama menatap Berno yang menggeleng.
" Dia bilang. selagi gadis yang disukainya tidak apa-apa, dia bersedia terluka. Selama gadis itu tidak terkena goresan, Dia memohon agar saya mengampuni kamu. Dia sepertinya paham dengan perasaan kamu setelah saya menceritakan masa lalu kita.". Pak Rama masih menatap Berno lekat.
" Maafkan saya, jangan hancurkan perusahaan saya Rama. Saya tidak pernah melukai gadis itu".
" Tentu saja,saya maafkan.". Berno merasa lega.
"Tapi..". pak Rama kembali membuat Berno was-was.
"Saya hanya heran memikirkan bagaimana mungkin putra saya memiliki sifat seperti itu. Apakah itu sifat dari saya?. Dia sangat melindungi gadis yang disukainya". Pak Rama mulai tertawa.
" Yang pasti setengah dari sifatnya tentu dari campur tangan saya. Benar kan?". Pak Rama kini tersenyum dibalas oleh senyuman canggung Berno dan Pengawalnya.
Bersambung...
__ADS_1
...'JIKALAU ADA PERTANYAAN, KAPAN KITA BISA MENGORBANKAN DIRI SENDIRI. JAWABANNYA ..KETIKA KITA YAKIN BAHWA ITU ADALAH PILIHAN AGAR BISA MELINDUNGI APA YANG BERHARGA BAGI HATI KITA'...