
Raka mengajak Sisilia mengikutinya ke belakang panggung. Sisilia hanya ikut saja.
Raka mendatangi balik panggung melihat keberadaan Kesya. Sisilia tak tau apa yang ada di pikiran Raka.
" Raka kamu mau lihat koleksi pakaian yang aku rancang?." Kesya kembali antusias.
Raka mengangguk membuat Sisilia merasa gelisah.
" Ini Raka." Kesya menunjuk deretan pakaian ya g mewah dan elegan hasil mahakaryanya.
" Berapa harganya?." Raka tersenyum licik.
" Raka ini gak dijual karena belum resmi." Kesya terdengar gugup.
'Kenapa sama kak Raka. Apa dia mau beli rancangan Kesya. Apa maksud tatapan mata Kak Raka itu, seperti mengandung muatan lava yang bersiap untuk dimuntahkan.'
Raka melihat sekeliling, dan mengambil gunting di meja. Lalu Raka menyuruh Sisilia memegang gunting itu.
'gunting buat apa lagi nih. Kak Raka benar-benar bikin aku bingung.'
Raka mengeluarkan segepok uang. " Saya punya uang, kalau kurang bisa saya tambah. Baju itu sudah saya beli."
" Maksud kamu apa Raka." Kesya semakin gugup.
" Pilih baju yang mau kamu hancurkan Sisilia. Saya sudah kasih kamu gunting kan?." Raka mengetuk pundak Sisilia.
"Hah." Sisilia langsung kaget.
'hancurkan baju yang aku pilih. Ini kan rancangan Kesya.'
" Sebentar, Kayaknya ada yang kurang." Raka berpura-pura berpikir.
Raka membuang uang itu ke bawah. Uang sudah berserakan. " Nah sama kan. Ayo Sisilia hancurkan!."
" Raka." Kesya menaikkan suaranya.
Fandi yang sedang mengambil minum dari kejauhan mendengar suara Kesya. Lalu ia segera bergegas mendatangi mereka.
" Kamu harus tau apa yang kamu lakukan pada tanaman Sisilia." Raka berpangku tangan.
" Tapi ini mahakarya aku. Butuh usaha buat bisa terpilih dalam acara ini Raka. Aku satu-satunya lulusan dalam negeri yang berhasil." Kesya menahan air matanya.
Fandi memegang bahu Kesya. Tampak menahan amarah atas kelakuan Raka.
Sisilia menatap gunting di tangannya dan deretan baju itu. Lalu Sisilia berjalan untuk meletakkan gunting di tempatnya kembali.
" Kenapa kamu Letakkan lagi Sisilia. Saya akan bayar kerugiannya. Sudah saya bilang kan. Saya bisa tidak profesional jika itu untuk kamu. Hal yang penting buat kamu adalah sepuluh kali lebih penting buat Saya." Raka heran dan menekankan suaranya.
__ADS_1
" Jangan Kak Raka. Aku tau Rasanya kok." Sisilia memegang ujung lengan Raka berusaha menenangkan.
" Kak Kesya, Bajunya bagus." Sisilia tersenyum pada Kesya.
'Kenapa dia menyia-nyiakan kesempatan dari Raka. Dia bisa saja ikut menghancurkan karya aku. Kesya melihat ekspresi yang tulus dan polos dari Sisilia.'
Akhirnya Raka meminta berbicara sebentar dengan Kesya. Sementara Sisilia menunggu bersama Fandi.
" Kamu lihat kan?." Raka berbicara sambil menatap Sisilia dari kejauhan.
" Lihat apa." Kesya masih menyangkal.
" Lihat bagaimana Sisilia. Dia sudah jelas sangat terluka atas perlakuan kamu sama tanamannya. Tapi dia masih memuji kamu dan gak mau ngerusak baju itu padahal sudah saya beli." Raka terdengar biasa lagi.
" Waktu itu aku kesal aja Raka. Karena kamu lebih memilih dia." Kesya jujur.
" Kamu harus tau apa yang namanya kerja keras kalau dirusak seseorang akan sangat menyakitkan. Makanya dia gak mau ngelakuin hal itu ke kamu. dan juga, bukan hanya waktu itu, Tapi sampai kapanpun pilihan saya hanya ada Sisilia saya gak bisa membandingkan keistimewaannya dengan orang lain." Raka tersenyum.
Senyum di bibir Raka menggambarkan segalanya. Raka sudah benar-benar mencintai Sisilia. Tulus bukan karena apapun, Kesya memang hanya berpikir sepihak kalau Sisilia memanfaatkan kekayaan Raka.
" Tapi kalian sekarang masuk situs kampus." Kesya mencoba memancing Raka.
" Kita dulu terobsesi dengan hal itu kan, pasangan sempurna. Kita selalu menyangka kalau kita adalah pasangan yang bisa membuat semua orang iri." Raka mengingat rasanya.
" Iya Raka. Kalau kamu sama orang lain kan gak bisa." Kesya membujuk.
'Benar juga apa yang dikatakan oleh Raka. Orang langsung berusaha membuat judul yang menggugah. Seolah mereka hanya ingin melampiaskan perasaan yang terjadi dan ikut-ikutan saja. Dulu juga bisa jadi aku dan Raka hanya kebetulan menjadi pasangan saja, dan orang lain tiba-tiba kagum.'
" Kesya, kamu tau gak. Perasaan kita sebenarnya sudah lama tidak murni lagi. Makanya kita melakukan kesalahan pada hubungan kita." Ucap Raka.
" Kesalahan itu untuk dimaafkan Raka " Kesya percaya.
" Memang, tapi kamu tau gak. Kita salah, kamu dan perbuatan kamu. dan saya yang tak perduli dengan hal itu sehingga kamu bisa berbuat demikian." Raka tetap tenang.
" Bukannya kamu sudah memaafkan aku Raka." Kesya memelas.
" Sudah. Saya juga berharap kamu maafin saya. Sebenarnya bukan hanya karena kelakuan kamu yang buat kita putus. Tapi memang perasaan kita sudah tidak murni lagi. Kita hanya ingin dilihat orang lain, kita selalu ingin jadi yang paling bagus. Sehingga kita lupa kalau kit gak bisa main-main dengan hati yang terluka." Raka mulai pelan.
Setelah lama terdiam, akhirnya Kesya juga mengaku. Kesya tau sesuatu memang sudah lama tak sama diantara mereka. Ia memang hanya berpikir untuk terlihat pantas dengan Raka. Menginginkan semua orang iri padanya, dan membuat Raka kecewa. Padahal Raka sudah ingin serius, tapi ia mengelak dengan berbagai alasan.
Raka kembali menatap Kesya." Saya selalu jatuh hati pada Sisilia. Ketulusannya, semua kepribadiannya yang tidak dibuat-buat. Saya tidak tau mengapa saya begitu menyukai seorang gadis pemalu, memerah kalau lagi terpojok atau digoda tiba-tiba. Tapi saya sadar bahkan rasa cinta itu tak butuh sebuah kesempurnaan. Rasa cinta akan sempurna kalau kita saling mengerti dan menganggap bahwa orang yang kita cintai adalah pelengkap kesempurnaan kita." Raka menghela nafas, bahagia dengan pemikirannya.
Kesya tersadar. Selama ini sudah bukan cinta lagi yang ia harapkan. Ia lupa kalau kesempurnaan tak hanya yang bisa dilihat mata. Tapi yang bisa dirasakan dalam hati.
Mereka kembali pada Sisilia dan Fandi. Sisilia sudah memungut uang Raka kembali dan memberikan uang itu pada Raka.
" Gak jadi nih." Raka masih menggoda Sisilia.
__ADS_1
Sisilia menggeleng mantap. Kesya lalu menarik Sisilia ke dekatnya. Meminta maaf dengan sikapnya pada Tanaman Sisilia. Sisilia memaafkan Kesya.
***
Raka kembali meminta Sisilia mengikutinya. Ada hal lain yang ingin ia beritahu.
Ternyata mereka bertemu dengan orang yang mengundang. Brian dan Doni tampak sudah mengobrol dengannya.
Sisilia tak tau mengapa ia ikut diajak. Tapi lebih baik ia ikut daripada ditinggal menganga dan kebingungan sendiri.
Ternyata Raka memberikan kunci mobilnya pada orang itu. Orang itu langsung mengangguk dan tampak senang.
'Kak Raka kok ngasih kunci mobilnya. Apa dia terjerat hutang.'
"Kak Raka punya hutang, kenapa gak bayar pakai uang yang tadi." Sisilia berbisik pada Raka.
" Uang yang mana." Raka pura-pura bingung.
" yang udah aku kumpulin buat kak Raka tadi. Atau kenapa gak minjam uang Kak Brian sama kak Doni aja." Sisilia masih dengan ekspresinya.
Brian dan Doni yang mendengar berusaha untuk tetap tegar. Brian malah ikut berakting dan terlihat lunglai.
Raka sudah tak tahan dan tersenyum. Ekspresi Sisilia yang menahan rasa kasihan.
Orang itu lalu berterima kasih. Ternyata yang ia lihat adalah gantungan kunci milik Raka. Gantungan itu hanya dibuat dengan satu warna untuk setiap pasangan dan diletakkan di toko yang berbeda. Bentuknya sangat sederhana dan jarang yang menginginkannya. Bahkan merek desainernya sangat kecil dan jarang yang menyadarinya.
Itulah alasan mengapa Raka langsung ingin bekerja sama dengan perusahaan itu. Jadi bukan karena akan menjadi tempat untuk Kesya, melainkan karena Raka tau merek gantungan kuncinya adalah dari perusahaan itu sebelum merambah ke dunia fashion.
Sisilia dalam perjalanan pulang melihat tentang gantungan kunci itu. Sisilia langsung kaget dengan harganya. Walaupun terllihat sederhana, namun ternyata sangat rumit.
Raka menyuruh Sisilia melihat filosofi dalam gantungan itu. Sisilia langsung menselancari internet.
Filosofinya adalah Pasangan yang sesuai tak selalu terlihat bagus untuk semua orang. Tetapi akan terlihat bagus bagi yang melihatnya dengan perasaan nyata dan memiliki takdir untuk memilikinya.
Itulah mengapa tak diproduksi banyak. Sisilia salut dengan perusahaan itu. Tapi Sisilia langsung kaget.
'Harga gantungan itu bukanlah 100 ribu. Harus nabung berapa lama baru bisa aku beli.'
" Jadi yang waktu itu, kak Raka sengaja bohong soal harganya. Karena aku pingin beli gantungannya. Jadi kak Raka yang teraktir." Sisilia takut-takut.
"Gak apa-apa, kalau kamu suka. Lagian sebentar lagi, uang saya juga kamu yang pakai. Uang saya, uang kamu juga." Raka mengelus kepala Sisilia.
Brian dan Doni harus berpura-pura tak iri duduk di depan mereka. Mobil melaju menuju Tempat tuannya.
Bersambung...
KARENA JIKA BENAR-BENAR MENCINTAI. KEKURANGAN PASANGANMU ADALAH WADAH UNTUK DILENGKAPI. CINTA ITU MILIK YANG MERASAKANNYA, BUKAN YANG MELIHATNYA.
__ADS_1