Takdir Masa Depan Cinta

Takdir Masa Depan Cinta
Unek- Unek


__ADS_3

Raka, Brian dan Doni sudah nangkring di sofa apartemen mereka. Menunggu panggilan dari Rini.


Panggilan pun masuk. Hp itu diletakkan di meja. Mereka menatap dengan saksama.


Sisilia membuka berbagai camilan dan memakannya dengan brutal. Menghidupkan TV dengan volume full bass.


Rini meletakkan gelas berisi jus di depan mereka. Mengambil remote TV dan mengecilkan suaranya.


" Rini kamu tau gak aku ada masalah sama kak Raka." Sisilia masih makan camilannya asal-asalan.


" Kenapa Sil." Rini bersikap seolah ia tak tau.


Sisilia mengeluarkan unek-uneknya. Semua kejadian yang ia alami sejak pergi dengan Bimo sampai ke kantor Raka.


Sisilia juga menjelaskan kalau selama ia bersama Bimo yang ada didalam pikirannya hanyalah Raka. Sisilia tak bisa menikmati beragam wahana dan ingin segera mengakhirinya, dengan berulang kali meminta untuk kembali.


"Tapi Rini kak Raka bahkan gak kasih aku kesempatan untuk jelasin." Sisilia merubah nadanya menjadi kesal.


"Dia egois, gak ada otak. Aku terpaksa ikut kenapa dia gak bisa ngertiin. Bahkan tiap hari aku selalu muji dia di depan Ibu. Waktu Ibu mau ngomongin soal Bimo, aku langsung memotong Ibu dan ngasih tau hal apa saja yang kak Raka bisa omongin. Terus dia malah terkesan bilang aku gak pernah berusaha buat yakinin orang tua aku. Jahat jahatt." Sisilia memukul bantal untuk Sofa.


" Jangan sampai rusak Sil, bantalnya." Rini mencoba mengambil bantal itu dari tangan Sisilia.


" Kamu lebih mementingkan Sandaran sofa ini daripada sahabat kamu." Sisilia manyun.


" Enggak, pukul aja Sil, pukul aja." Rini pasrah dan mengembalikan bantal itu.


"dan juga waktu aku tanya. kak Raka capek gak. Dia bilang gak capek. Tapi tadi dia bilang dia capek. Kenapa dia gak jujur. Huhu hu" Sisilia mengeluarkan airmata.


"Iya Sil...". Belum selesai Rini Bicara.


"Kayaknya aku sama kak Raka punya masalah Rini hubuhu. Gimana kalau ini adalah pertanda." Sisilia merasa takut.


"Pertanda apa Sil." Rini jadi mulai khawatir.


Tak jauh beda Raka Brian dan Doni ikut menunggu kelanjutan ucapan Sisilia. Mereka bahkan sampai menahan nafas.


" Pertanda kalau kita gak bisa nikah..huhuhu." Sisilia mengambil tisuu.


" Gak aku gak boleh nangis. Kalau kita emang gak jodoh. Ya aku bisa apa." Sisilia menghilangkan tangisannya sekejap.


Raka yang mendengar Sisilia tak bisa menahan suaranya lagi. " Kenapa kamu langsung menyimpulkan seperti itu Sisilia."


Sisilia yang mendengar suara Raka langsung terdiam sambil mencoba menghapus sesenggukannya. " Rini kok aku dengar suaranya kak Raka.


" Iya ini saya Sisilia, kita bisa bicarakan ini. Seharusnya saya gak bersikap seperti itu sama kamu padahal saya yang lebih dewasa dan saya adalah seorang lelaki." Raka masih mencoba berbicara.


Rini mengeluarkan persembunyian Hpnya di belakang badannya. Terlihat dalam layar yang ditunjukan Rini, panggilan berlangsung dengan nomor Raka.


Sisilia merebut Hp itu dan mematikannya. " Rini kok kamu ngelakuin itu sih."

__ADS_1


Raka langsung berdiri." Ayo kita kesana."


Brian tetap duduk. " Loe aja kita gak ada urusan."


" Kalau gue sendiri apa kata orang. Loe harus ikut. Ayo." Raka juga menarik Doni.


Jadilah mereka bertiga lari dari apartemen ke asrama Rini. Keringat membanjiri badan mereka sampai disana.


Mereka menekan bel, memukul pintu. Sisilia di dalam yang sedang adu mulut dengan Rini berhenti seketika.


"Bentar dulu Sil, aku bukakan pintu." Rini berjalan menuju pintu.


" Eh Rini, ini kan udah malam. Siapa yang bertamu malam-malam.?" Sisilia bergidik ngeri.


" Biar aku lihat dulu Sil." Rini berjalan menuju pintu


Rini melihat dari dalam. Terlihat ada Raka disana. Dengan cepat ia bergegas membuka pintu. Raka segera masuk dengan cepat. Brian dan Doni menahan pintu agar tetap terbuka, juga menghindari pemikiran orang lain jika melihat laki-laki bertamu malam hari.


Raka berjalan mendekati Sisilia. Sisilia langsung pergi namun Raka segera berlari dan menghadangnya. Orang lain selain mereka berdua hanya melihat di dekat pintu.


" Tunggu Sisilia, saya tau saya salah paham sama kamu. Dari tadi setelah saya mendengar penjelasan Vito. Saya mencoba menghubungi kamu tapi kamu menolak panggilan saya." Raka masih ngos-ngosan.


" Buat apa, kalau cuma buat disalahin." Sisilia melihat ke bawah.


" Sisilia saya gak bisa berbasa-basi lagi karena sekarang sudah malam. Saya gak enak sama pemikiran orang, saya akan menjelaskan semuanya. Kamu bisa tanya alasan saya bersikap seperti itu di kantor. " Raka mengatur nafasnya.


Ini jebakan harus tau kesalahan sendiri. Kalau salah ngomong mungkin Sisilia benar-benar tidak mau nikah lagi. Merendah adalah yang terbaik Raka.


" Saya salah karena nuduh kamu. Saya juga salah bilang kalau capek minta Restu ayah kamu padahal itu hanya perasaan kesal saya saja. Tapi jujur Sisilia saya gak capek." Raka berhenti.


" Terus?." Sisilia minta kelanjutan.


oh tidak apalagi ya


" Saya juga salah maksa Rini ngelakuin hal tadi, Kita jadi dengar percakapan kalian." Raka tak tau lagi.


" Terus." Sisilia masih minta lanjutan.


" Terus, saya salah membuat kamu berpikir untuk gak bisa nikah dengan saya." Raka tak tau lagi


" Bukan itu." Sisilia membantah.


" Terus apa Sisilia."


" Kenapa kak Raka gak bisa mendengar penjelasan aku. dan malah dengar dari Vito." Sisilia berpangku tangan.


" Kamu mau jawaban jujur atau tidak." Raka memberi pilihan.


" Kak Raka masih ada pilihan untuk tidak jujur?." Sisilia berjalan pergi.

__ADS_1


Raka segera menahan tangan Sisilia. " Ya sudah saya jujur. Saya Cemburu Sisilia."


Sisilia langsung memerah. Sisilia melepaskan tangan Raka dan ingin segera pergi. Tapi Raka menahannya dan mengangkat dagu Sisilia agar menatapinya, pandangan mereka segera beradu.


" Saya cemburu, wanita yang saya cintai pergi dengan laki-laki lain. Laki-laki itu juga sudah menyatakan ingin mengejar wanita yang ingin saya nikahi. Saya kesal bukan karena kamu pergi karena saya percaya kamu. Tapi saya cemburu orang lain bisa menghabiskan waktu dengan kamu sementara saya tidak bisa. Saya sibuk dan saya gak bisa mikirin hal itu. Saya juga cemburu kalau Pria lain bisa mengajak kamu ke tempat yang menyenangkan tapi saya tak bisa." Ucap Raka panjang lebar.


" Aku gak terlalu senang juga karena pria itu bukan kak Raka. dan Kak Raka aku juga sadar kalau salah. Aku.."


"sssuuttt.." Raka meletakkan telunjuknya pelan ke bibir Sisilia. " Kamu gak usah jelasin. Saya tau kamu juga kepaksa. Lain kali, saya akan lebih dewasa menyikapi hal ini."


Sisilia tersenyum. " Tapi kak Raka kesini lari?."


" Iya anggap saja olahraga malam." Raka tak memikirkan perasaan Brian dan Doni yang juga terpaksa ikut berlari dengannya.


Sisilia melihat keringat yang menetes di pelipis Raka. " Maaf kak Raka. Kak Brian sama kak Doni." Sisilia merasa bersalah.


" Saya kesini lari juga karena kamu mau batalin nikah." Raka membuat Sisilia membelalakkan matanya.


" Maaf, kan aku lagi frustasi." Sisilia membela Diri.


" Iya, dan juga Sisilia. Lain kali, Jangan berpikir seperti itu lagi ya." Raka menatap Sisilia lekat.


" Apa kak Raka." Sisilia bingung.


" Jangan berpikir kalau saya egois, gak punya otak dan jahatt!." Raka mengeluarkan senyumnya.


Waduh, jadi kak Raka ingat yang aku bilang tadi.


Sisilia kembali tersenyum, Raka mengambil remahan yang tertinggal di pipi Sisilia


dan juga mengusap bekas air mata yang tersisa. Tindakan Raka sukses membuat wajah Sisilia memerah lagi.


Raka pamit dengan Brian dan Doni. Setelah mereka meninggalkan asrama, Sisilia menutup pintu.


Sisilia berlari memeluk Rini." Makasih Rini kamu udah ngebantuin kesalahpahaman aku dan kak Raka."


" Iya aku lebih pentingkan persahabatan kita Sil. Tadi kamu bilang mau mutusin persahabatan kita" Rini tersenyum.


" Iya tapi kok kamu bisa setuju ngelakuin hal itu buat kak Raka. Kamu diancam kak Raka." Sisilia penasaran.


" Aku gratis uang sewa bulan depan." Rini ragu-ragu.


" Hah, jadi kamu mencoba mengambil keuntungan dari masalah aku ya." Sisilia mengambil sandaran sofa yang tadi.


" Enggak Sil. Awalnya aku nolak tapi gratis Sil. Apalagi kalian cuma salah paham saja ya kan. Maklumi sekali aja Deh Sil." Rini memelas tapi ikut mengambil sandaran sofa yang lain.


Dalam beberapa saat, mereka nostalgia. Perang bantal seperti saat dulu. Bedanya kali ini tak sampai membuat kapas beterbangan, tapi sukses membuat ruangan jadi super berantakan karena camilan yang tertendang dan terhamburkan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2