
Kesya dan Fandi sudah pulang hari ini. Saat semua orang bersiap untuk sarapan, Fandi dan Kesya yang tak tampak membuat jiwa penasaran Sisilia gatal untuk bertanya.
" kak Kesya, sama kak Fandi mana kak Raka." Sisilia berbisik pada Raka.
" Lagi makan gak boleh ngobrol." Raka menaruh beberapa lauk ke piring Sisilia.
Selesai makan, Sisilia langsung bertanya pada Raka. Raka hanya mengatakan mungkin mereka sudah kembali.
" Bukannya pas malam dia ngobrol sama Kak Raka. Jangan bilang kak Raka ngusir mereka." Sisilia berspekulasi sendiri.
" Saya gak ngusir. saya bilang kalau mereka datang buat bikin kacau acara saya lebih baik pulang." Ucap Raka tak bersalah.
'walahh itumah Artinya kak Raka mengusir mereka secara halus
Masih tersisa dua hari lagi sampai mereka kembali, acara hari ini mencari ikan atas ide Doni. Esoknya mereka bisa berbelanja oleh-oleh dan langsung pulang.
Para Laki-laki menangkap ikan di pantai. Beberapa orang terbagi dalam beberapa tim, sementara para perempuan membuat berbagai rajutan yang diajarkan oleh Maminya Doni beserta tetangga yang bersedia menjadi tutor.
Setelah hampir setengah hari, semua orang akhirnya kembali. Membawa banyak jenis ikan dan tangkapan lainnya.
" Bagaimana Sisilia, kalau kita tersesat pasti bisa beetahan. Melihat dari keahlian saya dalam berburu, kamu tidak akan kelaparan." Ucap Raka dengan percaya dirinya.
" iya kak Raka." Sisilia menjawab dengan keyakinan penuh sambil melihat berbagai jenis ikan itu.
Salah satu ikan yang dipegang oleh Brian ia gunakan untuk menakuti perempuan yang berada disana. Sampai teman Tina berteriak hingga ada yang hampir terduduk.
Sisilia yang sudah ikutan kaget dan memegang baju Raka tidak tau harus bereaksi apa. Semua orang sudah teriak dua kali lebih nyaring dari Suara serine.
" pak Brian, anda seharusnya layak ditampar oleh ikan." Rini dengan kesal mengusap jantungnya yang berdebar.
Sesuai perkataan Rini, saat Brian memasukkan ikan itu ke dalam kotak berisi air malah ikan itu melompat ke wajah Brian. Semua orang tertawa terbahak melihat Brian yang kesakitan.
" Rini kamu sekongkol sama ikan itu ya." Brian mengusap pipinya.
" Mungkin itu yang dinamakan pembalasan langsung. Lagian loe juga memfitnah ikan itu sembarangan sih." Doni menyelanya
Lain mereka lain juga Raka, antara senang Sisilia mencari perlindungan dengan menarik bajunya atau meminta Sisilia segera pindah.
' Duh suruh Sisilia pindah gak ya, tapi ini sakit banget, kaki gue keinjek lagi sama Sisilia, tapi dalam situasi sekarang bisa aja dia malu.
__ADS_1
Sisilia melihat Wajah Raka yang menahan sakit. Lalu ia melepaskan tangannya perlahan dari baju Raka.
Sisilia melihat bawah kakinya yang sudah berada di atas kaki Raka. Perlahan ia pindah dan sedikit memberi jarak.
" maaf kak Raka, aku malah nginjak kaki kak Raka. Soalnya tadi aku ikutan panik juga." Sisilia tersenyum canggung.
" Tidak apa-apa Sisilia, saya bahkan bisa diinjak ratusan kali oleh kamu." Raka tersenyum paksa.
" Beneran kak Raka?."
" Enggak, saya bercanda Sisilia." Raka takut jika Sisilia nanti malah mempraktekkan hal itu saat marah, bisa-bisa kakinya akan berubah menjadi datar.
Semua kegiatan berjalan lancar hingga malam, lalu semua orang diminta bangun pagi-pagi sekali agar mereka bisa pergi beli oleh-oleh dan setelahnya bisa naik kapal dengan baik.
Doni dan Tina yang sudah menerima ulasan untuk penginapan segera mengadakan rapat kecil. Berbagai inspirasi dan saran mereka diskusikan dan coba merencanakan semuanya.
***
Keesokan harinya..
Saatnya semua orang pergi membeli oleh-oleh yang mereka inginkan. Sisilia pergi dengan rombongan lainnya, sampai ia berpisah dan hanya berduaan saja dengan Raka.
" Mmmmm." Raka menyahutinya.
" mmm, suara kamu kayak kak Raka aja, hah." Ternyata memang benar yang menjawab adalah Raka. Sisilia melihat sekeliling tetapi tidak menemukan Rini.
" Rini pergi dengan yang lain, kalau saya gak ngikutin kamu kesini mungkin kamu akan nyasar sendiri Sisilia." Raka menurunkan kacamata hitamnya.
" Menurut Kak Raka tas ini cocok nggak sama aku?." Sisilia mendekatkan wajahnya pada tas itu.
" Apa aja yang kamu pakai cocok saja kok, menurut saya. Berapa buk?." Raka langsung membayar tas itu.
" Lho kenapa kak Raka yang bayar, aku bisa kok." Sisilia mengeluarkan dompetnya, tapi sudah keduluan dibayar Raka.
" Kita beli oleh-oleh saja ya, biar saya yang beli." Raka menarik tangan Sisilia dan membeli semua makanan khas daerah itu.
Semua orang segera kembali dan berkemas. Semuanya berpamitan untuk kembali.
Sebelum ke pelabuhan. Raka, Brian dan Doni memberikan mereka masing-masing sebuah kado yang terbungkus rapi. Rini yang juga salah satu penerima tak kuasa menahan wajah senangnya.
__ADS_1
Raka juga memberikan kado yang sedikit lebih kecil untuk Sesilka, Vito dan Sisilia, sebagai bawahan yang mau ia ajak. Doni juga memberikan beberapa kado pada teman Tina sebagai ucapan terimakasih.
" Pasti awalnya kalian mengira kami ini pelit ya, bawa kesini untuk refreshing karena ini tempat Doni." Brian menunjuk wajah para karyawan.
Doni menurunkan tangan Brian. " Jangan gitu. Pokoknya kami terutama saya berterima kasih sudah mau mampir, jangan lupa tetap pamer dan kasih tau ke teman dan kerabat kalian ya." Doni masih mempromosikan penginapan dan restorannya.
Salah seorang protes karena tidak ada penginapan untuk pria. Doni berjanji akan segera membangunnya jika penginapan yang sekarang berhasil sambil melirik Tina yang tidak tau apa-apa.
Sesaat sebelum ke atas kapal, Sisilia memberikan Raka hasil rajutannya. Sisilia merasa tidak enak hanya menerima pemberian Raka.
Raka menerima rajutan itu dengan senang hati. Apalagi Sisilia menambahkan angka 100 juta malam sebelum mereka berangkat.
" Kenapa ada angka 100 juta Sisilia." Raka penasaran.
" Bukannya kak Raka terkait dengan angka itu. Biar bisa dipajang." Sisilia tersenyum.
" Tapi warnanya..." Raka tak sanggup harus memajang benda bewarna pink yang mencolok tersebut.
" Ooh, kak Raka gak suka warnanya ya, ya udah besok aku buat lagi deh." Sisilia mencoba mengambil kembali rajutan itu tapi Raka menolak dan akan menerimanya.
Ia bilang warna pink mewakili Sisilia, dan 100 juta adalah tujuannya. Tujuannya akan bermakna dengan dukungan Sisilia. Entah darimana lagi datangnya kesimpulan itu, namun maklumi saja untuk orang yang sedang menjalin kasih.
Mabuk laut Sisilia masih seperti saat mereka datang ke kampung Doni. Kini saat Kembali juga mabuk laut Sisilia menemani Perjalanan pulang.
*****
Raka mampir ke perusahaan. Dengan diikuti oleh Brian dan Doni.
" Ngapain kita ke perusahaan, bukannya ke apartemen langsung. Gue lelah nihh.." Ucap Brian yang tetap ikut dengan Raka menaiki lift.
Setelah masuk ke ruangan Raka. Ternyata Raka memajang rajutan pemberian Sisilia. Brian merasa sia-sia mengikuti sampai ke atas ternyata hanya untuk melihat kebucinan dengan matanya.
" Bagus nggak, Brian, Doni?. Sisilia yang ngasih hehe." Senyuman besar dari wajah Raka membuat Brian geleng-geleng.
" Eh Doni, Lihat tuh Raka. Masih sempat-sempatnya pamer sama kita." Brian melihat Doni yang juga masih asyik melakukan panggilan dengan Tina.
Doni memberi isyarat agar Brian tidak mengganggu ia yang sedang telfonan. Brian hanya bisa menerima kenyataan bahwa ialah orang yang butuh asupan energi dari seorang wanita. dan yang paling penting ia memang seorang Jomblo dan belum menunjukkan tanda-tanda akan memiliki pasangan dalam waktu dekat.
Bersambung...
__ADS_1