
Sisilia datang menggunakan ojek online. Ketika ia turun nampak Raka sedang duduk di skuter miliknya dengan sebelah tangan memainkan Hp. Sisilia menghampiri Raka.
" kak Raka, aku pikir ada pengunjung yang terlalu pagi datang"
" Ini kuncinya". Raka memberikan kunci skuter Sisilia.
" Makasih kak Raka, wah udah gak ada goresan lagi. mmm " Sisilia berpikir apa biaya perbaikan bisa ia tanya terang-terangan atau tidak
'Biarin tanya aja kali, kalo enggak ditanya kesannya benar benar nerima tanpa terima kasih lagi, okeeh berani in Sisilia '
"oo masalah biaya perbaikannya. Berapa biayanya kak Raka?". Sisilia membuka tasnya ingin mengambil dompet.
" gak usah, itu tempat langganan perusahaan saya sama karyawan saya. Diskonnya banyakk"
" makasih kak Raka, tapi aku malah bikin kak Raka yang bayar."
" gak apa apa, lain kali kalau saya butuh bantuan yang mendesak kamu bisa bantu kan?"
" Pasti kak Raka, selagi aku bisa bantu pasti dibantu."
" kak Raka yang ngendarain kesini sendiri?". Sisilia iseng nanya karena orang yang lewat melirik ke arah Raka.
" Iya lah, kapan lagi saya bisa bawa sesuatu yang sangat wanita style ini kan". Sambil menepuk kepala skuter dan mengelusnya.
Sebenarnya Raka sedikit malu saat membawa skuter dan duduk di atasnya menunggu Sisilia. Orang yang lewat seperti selalu membicarakan seleranya yang aneh. Tentu saja bagaimana mungkin lelaki semacho dirinya punya selera yang feminim.
Raka hanya pura-pura tidak mendengar, bersiul, atau pura-pura menelfon. Brian dan Doni yang masih mengumpulkan nyawa ikut di telfon Raka.
" Halo apakah ini saudara Brian". Raka mengubah suaranya.
" Iya, loe Raka kan ngapain sih"
" maaf saya dari kreditor, teman anda memiliki masalah".
" Jangan nipu gue loe". tut tut..Brian langsung mematikan telfon iseng Raka.
Kali iNi giliran Doni
" Halo, hwuaaah" Doni nyawanya memang belum terkumpul, Ia juga tidak membaca panggilan dari Raka dan langsung mengangkat dengan mata tertutup, sambil meraba tombol yang benar.
" Apakah ini saudara DoNi". Raka kembali merubah suaranya.
" Iya saya sendiri, iNi siapa ya?"
" Saya, kreditur. teman anda memiliki masalah"
" hehh, kreditur ,,teman saya yang mana?". Terdengar panik.
" Raka".
" Raka keNapa dia ngapain". Sepertinya aura kebodohan Doni muncul di pagi hari
" Dia menunggak sama saya".
__ADS_1
" oh ya udah saya ke sana sekarang. "
" bawa tebusannya Cepat atau, temanmuu akann". panggilan pun berakhir karena Sisilia nampak turun dari ojek oleh Raka.
Doni disana malah menelfon Brian.
" Apaan Donii"
" Raka, Raka Brian , dia di tahan kreditur"
" Doni bisa gak sih loe itu pintaran dikit!."
" Bukan masalah pintar, ini Raka temen kita. Loe kenapa kagak punya hati banget sih"
" Kreditur yang nelfon loe kagak punya hati, loe juga ,,gue lagi tidurr. Loe pikir Raka itu terlalu miskin sampai harus ke kreditur ha,, dia kalau butuh uang, tinggal mintaa men sama keluarganya. Kekayaan keluarganya cukup buat biaya in dia sampe ke keturunannya. Udahh ah gue tutup ".
Brian menutup panggilan Doni kesal, kantuknya sudah ilang, sungguh punya teman tak berperasaan seperti Raka adalah derita, bahkan Doni yang Lurus pikirannya juga menjadi korban. Doni yang sedang mengganti bajunya tanpa mandi mengangguk sadar bahwa Brian memang benar. Ia kembali membuka baju dan segera mandii.
***
Raka melihat pekerjaan Sisilia, tak lama kemudian terdengar bunyi motor Vito yang membonceng Sesilka. Raka melihat dari balkon ke bawah, Vito dan Sesilka melambaikan tangan seolah akan berpisah, padahal cuma bada lantai saja. Siapapun yang melihat apalagi yang jomblo seperti Raka pasti merasa Lebay.
Setelah Raka Selesai melihat Restoran Sesilka, Raka kembali menengok Sisilia. Semua nampak lancar, Raka meminta Sisilia yang mengantarnya. Sisilia setuju untuk membonceng Raka.Raka memegang pinggang Sisilia.
" kak Raka Bisa pegang pegangan belakang". Sisilia merasa aneh kalau Raka memegang pinggangnya.
" Saya biasanya naik motor memang begini. Jangan- jangan kamu gak mau antarin saya ya?". Raka mencoba membuat Sisilia merasa bersalah.
" enggak kok kak Raka, aku mau, terserah kak Raka aja , kalo biasanya pegang pinggang yaudah". Sisilia pasrah.
" Sisilia"
" ah, apa". Sisilia tidak jelas mendengar suara Raka.
" pelan-pelan saja ". Raka ikut teriak
" ini kecepatannya udah bagus, biar seger, seger kan kak Raka ". Sisilia ingin cepat sampai makanya ia menaikkan kecepatan.
" Iya, tapi bahaya. Saya bos kok, jadi kalau terlambat gak ada yang memarahi saya. Jadi kamu pelan- pelan saja ya!". Raka merasakan mulutnya kering setelah berbicara karena gesekan udara.
" aku bisa kok kak Raka "
" kalo saya jatuh, kamu harus bayar 100 juta". Raka sediKit kesal sekaligus takut Sisilia jatuh lagi.
Akhirnya Sisilia mengurangi kecepatannya. Setelah mendengar 100 juta Sisilia tidak bisa mengabaikan hal itu. Sepertinya Raka punya obsesi dengan 100 juta. Seingat Sisilia di kantor Raka ada semacam mading bertuliskan '100 juta pelanggan bisa'.
Ketika Raka turun dari skuter dan melepas helm, Brian dan Doni menghampiri mereka.
" Wah kang phising habis diantar ya,hati hati neng". Doni nampaknya kesal dibohongi Raka.
" Kenapa kak Doni?". Sisilia yang mau turun dari skuter dihentikan Raka.
" Udah kamu masih harus ngurusin toko kan, gak usah diladenin". Raka memasang kembali helm di kepala Sisilia.
__ADS_1
" Aku mau berterima kasih sama kak Brian dulu udah bantuin buat..". Belum Selesai Sisilia berbicara.
" Saya udah terima ucapan terimakasih kamu Sisilia, boleh balik lagi kok"
" Bapaknya Brian itu polisi, itu memang tugas bapaknya".
Sisilia bingung, tapi ia tetap harus balik karena harus kembali ke tokonya. Ia pamit pada Brian dan Doni dan minta maaf tidak bisa turun menyapa mereka. Doni dan Brian melambaikan tangan.
" Bye saudara iparr".
" Kok saudara ipar ". Doni protes
" Oke calon, deh Akhirnya Raka Bisa moveon".
" Raka udah move on lama kali, ". Doni protes lagi.
" Benar Doni". Raka mengacungkan Tos nya namun diacuhkan Doni
" Apa sih lu kang phising"
" Doni kesal loe nipu dia tadi pagi, dia bahkan udah mau berangkat tanpa mandii". Brian tertawa kemudian.
" Loe kok biasa aja gak kaget?". Raka mengingat nada santai Brian tadi saat ditelpon.
" Ya kan loe tau bapak gue polisi. masalah penipuan lewat panggilan palsu adalah makanan sehari-hari, waktu gue kecil bapak gue udah jelasin ketenangan adalah kuncinya" Brian menepuk dadanya Bangga.
" Tapi loe kenapa dianterin Sisilia"
" Gue udah malu bawa motor skuter dia sebelumnya, kaki gue yang panjang juga kagak cocok ngendarain itu. dan jugaa!, gue tau Sisilia kalo bawa skuter gak main- main, wajah gue ampir terbang dan kekeringan, nih lihat nih.". Raka memperlihatkan wajahnya yang tertarik angin jalanan.
Doni yang ikut penasaran melirik Raka. Doni jalan di depan mereka berdua lagi dan dari punggunggnya seperti bertuliskan ' gue lagi kesel'.
" Doni"
"Doni"
Dua panggilan sahabatnya diabaikan Doni.
" Entar gue traktir yang mahal sepuasnya, sebagai tanda permintaan maaf".
Doni langsung berbalik dan menanyakan bagaimana wajah Raka. Tulisan gue lagi kesal sudah tak berlaku jika makanan sudah menggoda Doni.
" aah, makanan lagi. Besok loe nipu Doni aja lagi, bilang dia gak bisa makan ". Brian memancing Doni.
" Maksud loe apa ?".
" Apa loe yang mudah ditipu".
" Ulang lagi!".
" Loe mudah ditipuuu". Brian berlari diikuti Doni yang mengejar.
" Udah woy, loe berdua malu kek, ini perusahaan kita". Raka menjaga wibawanya ketika sudah di dekat pintu masuk.
__ADS_1
Doni dan Brian berhenti. Kini mereka masuk dengan gagah. Bagaimanapun mereka di luar, di dalam perusahaan mereka adalah panutan dan image mereka adalah pemimpin. Banyak yang harus diurus dan diatur. Para karyawan yang berpapasan akan memberi hormat pada mereka.
Bersambung...