Takdir Masa Depan Cinta

Takdir Masa Depan Cinta
Kebohongan yang dipertahankan


__ADS_3

Brian berlari dan bergegas menuju meja Rini. Ternyata Rini tidak ada di mejanya melainkan sedang bersiap untuk pergi makan siang dengan teman di sebelahnya.


Brian menelfon Rini namun tak diangkat. Salah seorang karyawan yang berada disamping mengatakan kalau Rini baru saja turun lewat tangga darurat.


Pantas saja, udah jelas ada lift malah pakai tangga.


Brian segera menuju tangga darurat dan kembali berlari lagi. Akhirnya Brian menjumpai Rini yang sudah sampai di lantai satu. Mereka di dekat pintu keluar kaca yang besar dari perusahaan dan menyapa satpam yang membantu membukakan pintu.


Brian yang melihat Rini usai keluar dari tangga langsung menghampiri dengan sigap menarik tangan Rini. Rini yang tidak siap langsung efek teriak dan tangannya yang terlepas dari Brian membuat ia terjungkal.


“ kak Brian, aww sakitt.” Rini mengusap tangannya yang tertumpu pada tanah.


Rini melihat apakah adakah goresan di tangannya. Brian langsung menarik dan menelusuri sambil membolak-balik tangan Rini dan melihat tiap detil jari tangan dan memastikan Rini tidak apa- apa.


“ uhh untung gak luka ya.” Ucap Brian.


“ Untung gak luka, kak Brian sengaja ya. Atau pak Brian mau pakai nama kekuasan lagi.” Rini menekan gigi gerahamnya karena kesal.


“ Maaf Rini saya gak sengaja, soalnya saya panik.” Brian terlihat khawatir dan bercampur panik sesuai ucapannya.


“ Panik kenapa?.” Rini kebingungan.


“ Bapak saya datang. Minta ketemu sekarang.”


“ ya udah kak Brian tinggal temuin susah amat.” Rini mengkode rekannya agar menunggu.


“ Menurut kamu Bapak saya mau ketemu saya saja, ya mau ketemu pacar saya lah. Dan pacar saya saat ini siapa, kamu kan.” Brian tidak melihat situasi dimana ia mengatakan hal itu.


Rini langsung menutup mulut Brian yang sudah terlanjur kelepasan. “ kak Brian ngomong apa sih.”


Dua satpam yang berjaga reflek melihat dengan tatapan terkejut. dan Rekan Rini, teman sebelahnya lebih kaget lagi. Ternyata ada yang menjalani romansa perusahaan yaitu Rini. Biasanya Rini sangat serius dengan pekerjaannya dan terus menjelekkan Brian pada rekan-rekannya. Sekarang malah dapat info tak terduga.


“ Udah ah, kalian pergi tanpa Rini ya!.” Brian langsung memegang tangan Rini lagi menuju mobilnya diikuti anggukan karyawan yang berada disana.


Di dalam mobil Rini langsung menyesalkan Brian yang memberi tahu rekannya. Bagaimana jika berita itu tersebar ke perusahaan, sementara mereka sudah lama menyembunyikan hal itu kecuali pada sahabat mereka masing-masing. Brian hanya memikirkan satu hal yaitu Rini harus membantunya sesuai kesepakatan mereka.

__ADS_1


Sebenarnya Rini tau hal ini pasti tidak Bisa disembunyikan. Kebohongan yang harus mereka tutupi akan terus berlanjut dan membesar. Kenyataan bisa tenggelam pada kebohongan yang terus diperluas dan dipertahankan.


Apakah Mereka mampu mengatasi masalah yang akan timbul nantinya. Ataukah mereka harus menerima konsekuensi dan merekayasa kenyataan yang pasti muncul ke permukaan.


***


Brian dan Rini duduk di tempat duduk kaki lima. Bapaknya Brian sudah berada disana dilengkapi seragam polisinya. Orang yang baru datang ragu untuk duduk setelah melihat muka gahar Bapaknya Brian.


“ Duduk aja mas mbak !. Itu bapak saya gak lagi tugas kok.” Ucap Brian pada orang-orang. Sementara Bapaknya terus diam tak menanggapi.


“ Pak ngomong dong, kasian kan rejeki orang tuh.” Brian menunggu respon Bapaknya.


“ Iya benar, saya mau ketemu calon anak saya.” Ucap Bapaknya membuat orang-orang langsung bergegas duduk di tempat yang mereka inginkan.


Brian segera duduk. "Calon apa sih pak. Kita itu baru pacaran, baru menjalin hubungan.”


“ Maksud kamu kalian gak akan lanjut. Kamu mau pacaran sampai kapan hah.” Bapaknya menaikkan nada.


Rini yang belum duduk langsung salaman dengan Bapaknya Brian dan mengatakan mereka masih menyesuaikan diri atas sifat masing-masing. Bapaknya Brian langsung luluh dan mempersilahkan Rini duduk.


"Lembut, baperan kali." Brian berbicara pelan namun didengar oleh Rini.


“ Kamu bilang apa?” Bapaknya yang sudah tua tidak mendengar jelas gumamam Brian.


“ Bener banget pak.” Brian membentuk gerakan hormat membuat orang lain yang melirik mereka tersenyum dan menahan tawa.


Aneh banget, kak Brian ngapain pose kayak gitu di tempat ini.


Bapaknya bertanya bagaimana Brian berprilaku dan memperlakukan Rini. Rini yang awalnya ingin menjawab jujur bahwa Brian itu sangat aneh dan seenaknya tidak jadi mengatakan hal itu. Rini menyebutkan hal lain yang biasa disebut oleh rekan kantornya saat memuji Brian.


Bahkan Rini berusaha menahan rasa mual terhadap hal yang ia ucapkan sendiri. Bapaknya Brian langsung percaya dan pamit undur diri karena sudah terlambat untuk menghadiri acara yang ingin ia ikuti.


Ternyata pertemuan mereka kebetulan karena Bapaknya Brian akan menghadiri acara di daerah itu. Rini dan Brian tertinggal berdua di meja santapan kaki lima tersebut.


“ Rini, pindah kesana, jangan duduk disamping saya, sempit saya kegerahan!.” Brian menunjuk kursi yang berada dihadapannya tadi diduduki Bapaknya.

__ADS_1


“ Bukannya kak Brian yang harus pindah. Aku tadi hampir jatuh loh. Aku juga udah capek muji kak Brian padahal harusnya aku ngomong yang seharusnya.” Rini tidak mau beranjak.


“ Ngomong yang seharusnya, jadi tadi gak seharusnya gitu. Oke saya aja yang pindah berhubung saya memang baik hati dan mau mengalah.” Brian akhirnya pindah.


Mereka memesan nasi goreng dan minuman yang sama karena tidak mungkin bisa makan siang bersama rekan yang lain. Saat asik menyantap nasi goreng dan melihat Hp, Rini tersedak. Brian segera menyodorkan minuman pada Rini.


“ Kalau makan itu hati-hati Rini. Jadi tersedak kan.” Brian mengambil butiran nasi goreng yang jatuh di mukanya.


“kak Brian kita diomongin sama orang. Ini tu gara-gara kak Brian yang tadi asal ngomong tau gak.” Rini meminum teh yang mereka pesan sampai habis.


“ Gak ada kok, situs perusahaan kita itu yang megang si Doni. Jadi dia gak akan nyebarin yang enggak-enggak tanpa persetujuan saya dan Raka.” Brian menyantap nasi gorengnya kembali.


“ Bukan di situs resmi, tapi di grup karyawan.” Rini memperlihatkan Hpnya pada Brian.. Sebuah chat panjang yang heboh di bahas dalam grup yang ia masuki.


Brian yang sedang minum sambil membaca malah gantian tersedak. Brian melihat betapa hebohnya reaksi orang yang berada dalam grup itu. Banyak yang menandai nama Rini dan chat masuk lain juga bertubi –tubi bernotifikasi di hp Rini.


“ Ya sudah biar saya yang konfirmasi di grup itu.” Brian meminta Rini agar ia yang memberikan pernyataan.


“ Caranya kayak mana, Kak Brian mau ngapain?” Rini tidak sepaham dengan Brian.


“ Saya bisa pakai pesan suara.” Brian menatap Rini yang menahan kesal.


“ Kalo kak Raka ngomong pakai nama aku, itu artinya kak Brian malah bikin orang lain semakin menjadi-jadi.” Rini membuang nafasnya.


'Pantesan pengen cewek pintar, ternyata kak Brian itu cukup bodoh buat menangani situasi seperti ini.' Rini berbicara pelan dan di dengar oleh Brian.


Brian menatap Rini lekat. “ Kamu gak percaya saya bisa selesaikan masalah ini.”


“ Enggak tuh.” Rini menjawab pasti.


“ Ya sudah kita kembali ke perusahaan sekarang.” Brian membayar pesanan mereka berdua.


Setibanya di perusahaan mereka mengatakan kalau mereka memang berhubungan. Brian meminta kerjasama Rini dengan alasan lebih banyak yang tau maka orang tua mereka yang nanti mencari tahu akan merasa puas.


Awalnya Rini menolak, tapi setelah Brian menawarkan untuk selalu membayar kebutuhan dan pesanan saat mereka keluar, tanpa basa-basi langsung disetujui oleh Rini. Jadilah hubungan mereka menjadi hubungan palsu yang menguntungkan dan sekaligus mengkhawatirkan. Terlebih lagi pasti itu akan menjadi jangka panjang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2