Takdir Rahel

Takdir Rahel
TR 21


__ADS_3

Malam itu tak terjadi apa-apa dengan Debora dan Addy peria itu lebih memilih untuk tidur di lantai dari pada seranjang dengan istrinya, wanita itu sedikit kecewa karan ia sudah berdandan secantik mungkin dan bahkan ia mengunakan pakian tidur seksi sesuai arahan ayahnya dan malah di kecewakan karna peria itu malah tidur dilantai di sisi lain debora mengerti kenapa ini terjadi karna Addy tak mencaintainya dan ia perlahan bisa memakluminya di balik sifatnya yg manja, cemburuan ia memiliki hati yg baik hanya saja pergaulanya yg membuatnya memutuskan untuk menjadi orang yg sombong. Debora terbangun di pagi hari dan pada saat ia kenoleh pada suaminya yg tidur di lantai, terlihat peria itu menekuk tubuhnya karna selimut yg ia pakai sangat kecil dan hanya bisa menutupi bagian tubunya debora kasian padanya lalu memasangkan selimut padanya lalu ia mengecup kening peria itu.


Gadis itu perlahan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri sedangkan Addy malah semakin keanakan ketika di berikan selimut dan malah memperlama tidurnya, akhirnya ia di bangunkan oleh ibunya jam 7 pagi karan Debora istrinya masih belum berani membangunkan Addy yg kini menjadi semuanya "Addy ayo bangun nak, sarapan udah jadi sekarang tingal makan aja." Addy perlahan membuka matanya "Iya nanati Addy menyusul ke bawah.." ibunya pun perlahan meninggalkan putranya, pada saat Addy bangit ia terkejut rupanya ia di selimuti selimut tebal "Ini kok bisa di bawah??" Addy sempat berpikir kalok yg memakaikan padanya adalah Debora namun ia menepis pemikiran itu jauh-jauh "Gak mungkian anak manja itu, mungkain akau tanpa sadar menarik selimut dari kasaur tadi malam." Peria itu mempercayayi bahwa ini perbuatanya dan bukan di pakaikan oleh Debora.


Di meja makan Deboran duduk di samping Nabila dan pada saat Addy datang ia terkejut karna bangku kosong hanya pada di samping Debora ia mendekat pada ibunya "Mama duduk di sana, biar Addy duduk di samping papa." Ibunya menatap bingung putranya "Ngapain, kamu lah yg duduk di sana, orang itu memang temapt duduk mu." Addy menoleh sebenatar pada Debora dan wajah peria itu terlihat kesal "Tapi Addy gak mau di dekat dia maa." Seketika Debora menunduk ia merasa dirinya hanyalah penggangu di keluarga mereka. Edi yg meliaht wajah menatunya yg menjadi lesu sontak menatap putranya sinis "Addy, jaga sikap mu Debora ini adalah istrimu dan tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu tentangnya." Addy sekarang tak peduli lagi dengan ucapan ayahnya dan melawan ayahnya "Apa papa lupa, Addy nikah dengan dia cuman karna di paksa ayahnya, jika dia gak suka dengan sikap ku yg seperti ini silahkan ceraikan aku."

__ADS_1


Edi yg mendengar hal itu lantai memukul meja makan yg membuat Nabila dan Debora terkejut, Edi menunjuk-nunjuk Addy "Addy sudah berani kamu melawan ayah mu ini, kenapa sikap mu jadi begini dulu kamu penurut sekarang kamu mulai melawan kata kata papa, apa jangan-jangan karna  wanita itu lagi apakah papa perlu mengusirnya dari kampung ini baru kamu bisa memperbaiki sikap mu lagi." Ibu Addy berusaha menengkan suaminya, "Sudah sayang jangan di perpanjang lagi.." Addy tersenyum "Dulu akau memang bodoh mau menurut perkatan papa tapi sekaran Addy sudah dewasa dan Addy bebas berpendapat karna ini menyangkut masa depan ku, walau papa mengusirnya sejauh mingki  maka Addy bakal nekat keluar dari rumah ini untuk mencarinya, Addy gak peduli apa kata orang...."


Dan mereka mulai berdebat hinga Debora bangkit dari duduknya "Nabila kita tukar tempat saja , aku di sana dan kamu di sini." Seketika mereka berdua berhenti berdebat dan Nabila pun bertukar tempat dengan kakak iparnya itu "Ayo kak Addy silahakan duduk." Addy tak mempedulikan perkataan istrinya itu lalu segera duduk, nabila mencibir kakaknya yg bera di sebelahnya dengan suara kecil "Puas sekarang lo.." Addy tersenyum lalu menjawab dengan nada yg besar "Iya gua sudah puas." Dan Debora yg mendengar hal itu menjadi sedih sedangkan Nabila merasa bersalah menanyakan hal itu pada kakaknya dan sarapan pagi pertama kali Debora bersama keluarga itu berjalan dengan penuh dengan keheninggan.


Seorang peria dengan mengunakan mobil carry baru saja kembali dari rumah Rahel karna mereka baru saja melakukan jual beli getah karet dan untungnya pendapatan cukup banyak, Adam yg penasaran dengan berapa yg mereka dapat mendekat pada Rahel "Berapa hasilnya Hel??" Gidis itu menjawab Adam "Tiga juta dua ratus." Adam tersenyum "Jadi kita sudag bisa beli seng dong untuk atap." Rahel mengangguk lalu ia melihat balok yg ada di bawah kolongnya "Sepertinya Balok ini juga cukup untuk mengganti dinding rumah yg sudah rapuh." Adam menatap Rahel "Lalau siapa yg akan kita suruh perbaiki rumahnya ." Rahel tersenyum "Ngapain sibuk sibuk catri tukang orang aku bisa kok, bapak ku dulu seorang tukang jadi aku banyak tau tentang masalah pertukangan."

__ADS_1


Adam tak percaya dengan oerjataan Rahel "Yg bener, entar pas di bongkar gak tau pasang lagi." Rahel dengan santai menhawab "Lihat saja nanti." Mereka pun mulai membongkar di bagian ruang tamu, setelah selesai di bongkar dindingnya di ganti denga  balok yg baru, dan sumanya lancar hingga ke bagian yg paling atas Rahel sudah tak bisa memalu pakunya yg terlalu tinggi dan tugas itu di serahkan pada Adam "Rio, kamu yg memalu nanti aku yg tahnya." Peria itu menerima satu buah paku dan palau, ia sebenarnya ragu karna ia tak pernah melakunya dan tak punya pengalam sama sekali namun karna gengsi ia mau melakukanya masak seorang gadis bisa melakunya sedangkan seorang peria seperti dia tak bisa menyayinginya.


Mereka menaikan satu balok kayu dan Rahel mulai menahanya sedangkan Adam yg akan menukulnya, ia awanya menarub ujung paku dia atas balok dan satu tanya lagi bersiap memukul pada saat tanganya di ayunkan ke depan buknaya mengai pakai tukul itu malah mengai jempolnya menahan pakau tersebut "Aw..." Adam merintih kesaitan tanya seperti berdenyut denyut dan rasanya samgat luar biasa sakit, Rahel yg melihat hal itu hawatir tapi dia tak bisa melepas baloknya takutya jatuh lagi "Rio kalok gak bisa gak usah, biar aku aja nanti lanjutakan..." Adam pantang menyerah "Gak usah, aku pasti bisa, kamu cukup memberi arahan saja....".


Adam pun kembali menaruh ujung paku ke atas balok sambil mendengar arahan Rahel "Kamu pukul pelan saja dulu sampai pakunya tertancap dan bisa kamu lepas, baru nanti kamu pukul kuat." Adam mengguk mengerti lalu memukul pelan dengan jarak palu dan paku tak begitu jauh, setelah sudah tetancap walau tak terlalu dalam tapi sudah bisa ia lepas lalu ia mengambil ancang-ancang dan memukulnya kuat hingga paku itu masuk ke dalam  kayu, Adam yg menyadarai akhinya ia bisa melakukannya dengan baik begitu bahagia "Apa kamu lihat tadi hel, aku menukul pakau dengan  palu untuk pertama kalinya." Rahel hanya bisa menahan tawanya karana baru kali ini ia menemukan peria seaneh Adam, biasnya banyak peria yg mendekat padanya  hanya menunjukan kehabatanya mereka berbeda dengan Adam santai saja memperlihatkan kekuranganya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2