Takdir Rahel

Takdir Rahel
TR 41


__ADS_3

Akhirnya mereka sampai jalan yg di beria tau Adam melihat mobil berwarna hitam dan terlihat dua orang pria yg ia curiga adalah penjaga Fitri dan karna hari sudah mulai gelap jadi mereka tak tau Adam bersama dengan Windi "Hel kamu tinggu di mobil aku akan ikut mereka." Sontak Rahel menoleh pada suaminya "Bagai mana nanti jika mereka melukai mu??" Adam menoleh pada istrinya "Percaya pada ku." ia keluar dari mobil dan terlihat hari sudah mulai gelap Adam pun turun dari mobil setelah itu ia menghampiri dua orang tadi.


"Sekarang antar akau pada bos mu." Dua orang itu mengantarnya ke sebuah gudang bekas tempat perusahaan kayu menaruh persediaan kayu mereka namun karna prusahaan itu bangkut jadi gudang itu terbengkalay dan sekelinya yg tadi gundul kini di tumbuhi banyak pohon,  di sana ia bertemu seorang wanita berkulit putih dan gemuk dan putranya di ikat di atas kursi dan terlihat sedang pingsang "Lama tak berjumpa Adam Jons." Adam menatap sinis wanita itu "Siapa kamu sebenarnya dan apa mau mu??" Wanita itu tersenyum "Apa kamu lupa  tunangan mu yg cantik jelita ini, gara gara mu lah karir ku hancur dan pria yg aku cinta harus di penjara, aku terus berpindah pindah tempat karan di incar polisi pada akhinya aku bertemu suami ku yg baru saja mati berapa bulan yg lalu dan untunya ia dengan bodonya memberikan setengah warusanya untuk ku dan hanya memberikan sedikit untuk Anaknya, bukankah dia sama bodohnya seperti diri mu yg dulu." Wanita itu pun menodongkan pisau ke leher putranya"Lepaskan dia ku mohon jangan melukainya." Fitri tersenyum "Nyawa harus di balas naya dong, jika kamu ingin nyawa putra mu selamat maka kamu harus mengorbankan nyawa mu juga." Adam yg mendengar hal itu mengangguk "Baiklah, tapi jauhkan lah pisau itu dari putra ku."

__ADS_1


Fitri tersenyum lalu membuang pisanya Adam Terlihat tenanga tak lama dari belakang dua pria itu menusuknya dengan pisau hingga adam terjatuh ke tangan lalu mereka menusunya tersus menerus setelah kuluarnya banyak darah yg mengalir akhirnya mereka mengikat belakangnya lalu menyeretnya mendekat pada putrnya, Fitri tersenyum "Sekarang bakar mereka." Para anak buah Fitri pun menyiramkan bensin pada sekeliling gudang lalu mereka membakarnya.


Tanpa mereka sadari Adam masih sadar ia tak mau putrnya kenapa-napa jadia ia berusaha bangkit walau harus kehilangan darah dan kehilangan nyawanya ia tak peduli yg penting ia berhasil menyelakan putranya  pertama tama  melepas ikatan tali putranya dengan jari-jarainya yg masih bisa di gerakan  setelah terlepas ia sengaja mendorng bangku tersebut hinga terjatauh dan membuat anak itu terbangun , ketika ia melihat sekitarnya seketika ia menjadi ketakuatan, dan Adam yg sadar segera mendekat pada putranya "Tenang saja kamu akan aman bersama ku." Felix yg sadar rupanya bukan hanya dia yg berada di sini, mendekat pada Adam dan memeluk kakinya "Om Felix takut."

__ADS_1


Anaknya itu mulai menangis dan Adam mencoba meyakinkanya "Tenang saja om ada di sini, sekarang kamu bantu lepas ikatan tangan om saja dulu." Adam memberi taunya mengenai tanganya yg terikat, Feix pun mencoba melepasnya namun karan sangat kuat tanganya kesakitan "Tak bisa om keras." Adam baru ingat pisau yg Fitri buang tadi "Oh iya kamu ke sana dan, ada pisau di sana "Adam menunjuk sudut ruangan "Tapai om ada api." Adam baru ingat anaknya masih terlalu kecil, ia pun berjalan pelan dan mengambil pisau yg tergeletak itu lalu di bawanya ke hadapan putranya "Sekarang kamu potong tali pada tangan om." Adam memperlihatkan tali yg ada di tanganya dan anak itu menurut lalu memotong tali tersebut walau ini pertama kalinya ia menggunakan pisau ia cukup lihai karna sering melihat ibuanya menggunakan pisau di dapur.


Setelah berahasil di rusak Rahel segeta memadamkan api yg ada di bajunya  dengan menepuknya dangan tanganya untung hanya sedikit yg mengenainya jadi tak terlalu susah untuk memadamkanya, di dalam adam berlari membawa putranya keluar dari kobaran api itu dan mereka berhasil keluar dan segera menurunkan putranya anak itu segera belari memeluk ibunya "Mama." Felix menangis di pelukan ibunya "Astaga mama hawatir pada mau sayang." Adam tersenyum melihat itu tam lama kemudia ia ada sesuatu yg keluar dari dalam mulutnya rupanya darah segar dan Raheal yg mehat hal itu lantas nenurunkan anaknya lalu menghampiri suaminya "Biar ku bantu ke mobil dulu." Raheal pun mengkata suaminya hingga sampai ke dalam mobil.

__ADS_1


Karan adam terluka otomatis tak ada yg menyetir "Bagai man ini aku tak tau menyetir ." Adam tersenyum menatap istrinya sambil tetus memegang perutnya "Aku percaya pada mu, kita jalan pelan pelan saja karna  ini sudah dekat dengan kota ." Rahel sedikit ragu namun apa boleh buat tak ada lagi yg bisa ia lakukan jadi ia menjalankan mobil tersebut karna jika mereka harus menunggu suaminya bisa mati kehabisan darah dia menjalankan mobil Adam dan terus mengikuti arahan dari peria itu sampai mereka di pingir kota Rahael menghetikan mobil mereka lalu mencari seseorang yg bisa mengendari mobil, ia menghampiri salah satu Rumah warga yg kebrtulan ramai karna ada acara "Permisi bapak ibuk ada yg  bisa kenolong saya, suami saya terluka dan saya harus mengantarnya ke rumah sakit tapi daya tak bisa mengendarai mobil di kota." Salah salah satu warga yg mendengar hal itu mau mengantar mereka lalu ia mengikuti Rahael pada saat ia membuka pintu mobil ia terejut melihat pakian adam yg penuh dengan darah dan peria itu sudah sangat pucat, Raharl membuka pintu di bagian suaminya lalu memeriksanya "Apa kaita harus ke rumah skait terdekat saja, banyak darah mu yg keluar." Rahael terlihat hawatir dan adam menggeleng "Aku ingin ke rumah sakit tempat mama di rawat saja." Rahel menurut lalu menutup pintu lagi kini ia duduk di belakang bersama putra kereka yg sudah tertidur dan warga tadi membantu Adam ke rumah skait tempat ibunya Adam di rawat.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2