Takdir Rahel

Takdir Rahel
TR 29


__ADS_3

Maaf kalok banyak Typonya, selamat membaca 🤗


----------------


Keesokanya seperti biasa Rahel bangun pagi walau semalam tadi sangat menguras tenaganya namun ia tetap bangun pagi, Rahel mencoba melepas tangan suaminya yg melingkar di pingganya, lalu bangkit dari baringnya Adam pun mulai bertanya "Kamu mau ke mana??" Rahel mengikat rambutnya "Aku mau pergi memasak dulu." Adam bangkit dari baringnya lalu mendekat istrinya dan mencium pipinya "Apa kamu tak lelah??." Rahel menggeleng "Aku tidak lelah." Pada saat Rahel akan bangit Adam langsung menahan tanganya "Jangan pergi dulu..." Rahel menatapnya "Apa lagi??" Adam tersenyum lalu menunjuk bibirnya "Cium dulu dong." Rahel menghela napas pelan lalu mengecup bibir adam setelah itu ia bangit dan langsung pergi ke dapur. Adam begitu senang akhinya istrinya yang canggung itu sekarang sudah tak canggung lagi ketika ia minta di cium, Adam pun memperbaiki tempat tidur mereka dan matanya tertuju pada ambal tempat mereka tidur karna ada sedikit bercak Darah "Sepertinya aku harus mencucinya." Adam menggkat ambal itu ke dapur lalu ditaruh sebentar karna ia masih menunggu ada matahari baru ia akan pergi karna hujan juga baru reda jadi otomati jalan masih licil juga jadi ia memutuskan untuk menyapu dalam rumah dan di dapur juga, sedangkan Rahel sibuk memasak.

__ADS_1


Debora terbangun karna mencium bau masakan dari dapur sontak ia terbangun dan pada saat ia menoleh pada suaminya peria itu masih tertidur pulas dan ia tak mau membangunkanya dan memutuskan untuk keluar, dan saat ia keluar mata hari sudah terlihat karna itu sudah jam 6 pagi ia berjalam ke dapur "Selamat pagi.." Raheal menjawabnya "Selamat pagi juga.." Debora melihat sekelilingnya "Dimana suami mu." Rahel menjawabnya "Dia ke sungai untuk mencuci ambal, emang kenapa??" Dobora menggelengkan kepalanya "Aku hanya bertanya, Soalnya jarang aku melihat peria yg bangun begitu pagi seperti dia." Rahel tersenyum "Dia terbiasa bangun di pagai hari seperti karna aku yg salau membangunkanya jadi ia mulai terbiasa." Rahel masih sibuk mengaduk-aduk masakanya, Debira terlihat menguap "Semalam pas hujan apa kamu merasa ada gempa??" Seketika Rahel terdiam, dan Debora melanjutkan pembicaraanya "Semalam, kayu yg ada di bawah ku seperti bergetar, jadi aku pindah tapi sepertinya gempanya berhenti." Rahel yg mendengar hal itu sangat malu,ia tau temat debora tidur itu dekat dengan temapt mereka tidur jadi ketika mereka berhubungan kayu yg ada di bawah mereka sontak bergerak juga dan otomatais Dobora bisa merasakan getaranya juga, dan Rahel hanya menjawabnya "Mungkin itu gempa lewat." Debora berpikir "Mungkin saja gempa yg kebetulan lewat." Setelah pembicaran itu Debora pun membatu Rahel memasak.


Pagi itu banyak pekerja yg pergi ke taman, sedangkan kepala pelayan yang gak tau apa-apa jadi ia bertanya pada salah satu pembantu yg akan pergi juga "Tunggu kalian ngapain berkumpul seperti itu??" Pelayan wanita itu menjawbnya "Tuan Dion katanya akan membayar gaji yg dua bulan yang sempat tertunda itu." Setelah menjelaskan pelayan itu pun pergi, sedangkan kepala pelayan itu terlihat kesal "Siapa sih pelayan yg benari-beraninya melapor pada tuan soal gaji mereka yg belum di bagikan selama dua bulan ini." .Di sana Dion menggaji semua pekerjanya dan bahkan ia juga memberi lebih sebagai permohonan maafnya karna lambat menggaji mereka, ia tau para pelayan itu pasti sangat membutuhkan uang untuk di kirim ke keluarga atau istri serta anak mereka, setelah mendapat gaji mereka kembali bekerja, Dion pun memanggil salah satu pengawalnya "Kamu panggil kepala pelayan ke sini, kalau tak mau seret saja dia." Peria berjas hitam itu mengangguk lalu pergi masuk ke dalam rumah.


Tak lama kemudian terlihat dari jauh kepala pelayan itu di seret hingga ke hadapan Dion , wanita itu menatap sinis bosnya, dan Dion yg melihat siakpnya yang tak sopan mulai kesal "Sikap mu saja sudah tidak sopan, Sama saja dengan mu yg tak punya akhlak seperti tidak pernah didik saja. Pengacara Bayu sekarang jelaskan padanya.." Bayu yg merupakan pengacara keluarga Jons menghadap ke arah kepala pelayan itu lalu mengeluarkan sebuah surat dari pengadilan"Tuan Dion menuntut anda telah melakukan pengelapan dana 100 juta yg seharusnya di bagikan kepada para pekerja di rumah malah kau gunakan untuk berjudi." Kepala pelayan itu tak terima dengan tuduhan itu "Gak, saya tidak menggelapkan dana apa pun, uangnya yg bapak berikan pada saya sudah saya bagikan ke para pelayan tidak mungkin saya mengambilnya dan menggunakanya untuk berjudi saya saja punya anak di rumah yg harus di beri makan." Pengacara Bayu kembali membalasnya dengan mengeluarkan berberapa gambar di berapa tempat judi "ini buktinya, dari info yg aku dapat jika di hitung berapa kali anda kalah jumlahnya lebih dari  100 juta, dari mana kamu mendapat uang sebanyak ini??" Wanita itu masih bersikeras "Itu semua uang ku,kalian tak bisa menuduhku. Hanya karna kalian orang kaya dan dengan senaknya menindas orang lemah seperti saya dimana kalian menaruh malu." Pelayan itu menangis hinga terjatuh ke tanah seolah olah dia sedang di tindas.

__ADS_1


Namun Dion tak peduli ia meminta Bayu untuk mengelurkan bukti lain, peria itupun mengeluarkan bukti lain   dari hpnya "Kami juga mempunya bukti bahawa kamu menghapus Rekaman CCTV yg ada di kamar tuan Adam, dan kamu di tuduh karna telah menghalang-halangi pencarian barang bukti dan kamu juga dapat di tuduh sebagai tersangka atas perbuatan mu, dan kamu bisa di hukum 20 tahun penjara atau semumur hidup." Ketika ia mendengar bahwa ia akan di penjara seketika ia bangkit dari duduknya lalu menghapus air mata buayanya "Tuan saya tidak mungkin melakukan itu, ini semua finah tuan.." belum selesai ia bicara ia langsung di taraik oleh para Bodyguardnya tadi, wanita itu yg panik berteriak padanya  "Tuan tolong lepaskan saya. Bukan saya yg membunuhnya..., saya hanya di suruh oleh mereka..." pelayan itu kalia ini ia menangis dan kali ini bukan lagi airmata buaya sekarang ini adakah air mata penyesalan, Dion meminta Bodyguardnya untuk berhenti dan membawanya kembali ke hadapanya.


Bodyguard itu pun menariknya menghadap Dion "Tuan saya hanya di suruh, saya sama sekali tidak membunuh tauan..." Dion sebenarnya sudah sangat marah namun ia berusaha tenang dan pelayan itu kembaki berbicara "Saya di bayar oleh nona Fitri dan tuan Abel untuk menghapus semua bukti yg ada." Dion yg mendengar penyataan itu juga menyebut Fitri seketika tak bisa menahan amarahnya "Berani sekali kamu menyebut Fitri sebagai pembunuhnya..." tiba-tiba Dion merasa pusing pada kepalanya sontak Bayu menahanya "Tuan tenang dulu, biar saya bertanya padanya." Bayu berjongkok lalu ia menatap pelayan itu "Apa saja yg ia suruh pada mu, dan berapa banyak yg sudah ia berikan pada mu??" Wanit itu menjawab dengan bibir yg gemetar "Saya di minta untuk mengawasi rumah jika terdengar ada barang bukti yg di dapat saya di minta untuk melapor setekah itu saya akan di minta untuk memusnahknya, dan saya lah yg membunuh tukang kebun itu..., saya memaksanya untuk bunuh diri dan mengan cam jika ia tak melakukanya putri dan istrinya akn saya bunuh, saya juga membuang sampah yg di dalamnya ada suarat terakhir tuan Adam dan yg meminta saya untuk melakukan semua itu adalah Nona Fitri dan kekasihnya Tuan Abel dan saya sudah di bayar selam dua bulan ini sebesar 80 juta." Pelayan itu menangis terisak-isak sedangkan Bayu segera bangkit dan menghadap tuanya "Tuan nominal yg ia katakan sama dengan nominal uang yg lebih ia bawa judi." Seketika Tubuh Dion jatuh ke tanah dan airmatanya tak berhenti keluar dari sudut matanya ia tak menyangka dua orang yg sudah ia anggap seperti anaknya sediri rupanya orang yg telah membunuh putranya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2