
Setelah 1 jam permainan akhirnya mereka bersiap-siap untuk membuang Adam dan mereka sudah kembali ke tugas masing masing, ruamah Abel yg letaknya jauh dari kota dan kebetulna saat itu juga kedua tetanganya tidak ada di rumah.
Sedangkan rumah yg ada di depan juga masih kosong belum ada yg menempati dan Abel yg jarang bersosialisasi membuat orang-orang tidak ada yg curiga sama sekali padanya, mereka melajukan mobil ke pingur kota lalu masuk sebuah hutan yg jalanya berbatu dan mereka terus masuk ke dalam hutan dan sampai di sebuah aliran sungai.
Tanpa mereka sadari karna jalan yg berbatu membuat Adam sadar dari pingsanya namun ia tak menggingat apa pun karna luka yg ada di keapalanya yg membuat dia hilang ingatan, ia perlahan membuka matanya, dengan suara yg lemah "Aku di mana.."
Tiba-tiba mobil itu berhenti dan terdengar suara orang dari luar mobil "Aku harap tak ada orang yg akan menemukan mayatnya dan aku berharap lagi dia di makan Buaya saja." Adam yg mendengar hal itu terkejut "Apa orang ini pembunuh, apa mungkin aku ingin di bunuh.
Apa yg harus aku lakukan..." tak lama kemudian terdengar suara mobil yg datang dan terdengar sara pintu yg terbuka lagi "Ayo kita buang jasanya sekarang." Fitri mengangguk lalu segera membuka bagasi mobilnya dan Adam kembali menutup matanya, lau dua orang tadi menggangkatnya dan bersama-sama membuangnya ke sungai dan hanyut di bawa air.
Lalu dua orang tadi kembali ke mobil dan langsung pergi.Tanpa mereka sadari Adam teryata mencoba berenang ke pinggir namun ia tak bisa menggapai pinggiran suangai karna derasnya air namun setidaknya ia bisa mengapung.
Cukul lama ia mengapung dan masih berusaha untuk berenag ke pinggir masih saja gagal dan ia mulai pasrah dan berguma dalam hatinya "Oh Tuhan, jika aku memang di takdirkan mati maka aku terima Tuhan."
Dan ia mulai pasrah karna dirinya juga sudah tak kuat lagi untuk berenang dan baihkan ia sudah menelan air cukup banyak dan pingsan, beruntungnya pada saat pingangsan ia malah tersangkut pada sebuah ranting pohon yg besar pada saat terjadi longsor pohon yg terjatuh kesuangai itu hanyut dan tersangkut di pinggiran suangai dan pada ranting Pohon yg besar itu lah Adam ia tersangkut.
*
__ADS_1
*
*
*
*
Hari itu cuca mendung dan Rahel hawatir dengan ikan asin yg ia jemur lalu meminta izin pada nyonya nya untuk pulang duluan, ia berangkat dengan tergesah-gesah menemui nyonya nya yg sedang bersantai di ruang tengah sambil menikmati minumannya "Permusi bu..."
Sontak wanita paruh baya itu menoleh padanya "Ada apa nak Rahel??" Rahel pun mulai berbicara "Bu, boleh saya pulang cepat hari ini, karna kebelutan cuaca mendung dan rumah saya jauh dari desa jada saya hawatir takunya hujan dan saya tidak bisa pulang." Wanita itu tersenyum "Tapi pekerjaan mu sudah kan??" Rahel mengangguk "Bagus, kalok gitu kamu pulang aja yg penting kerjaan mu sudah selesai."
Rahel tersenyum paa Addy "Mau pulang dulu kak, soanya kerjaan Rahel juga sudah selesai Ragel mau langsung pulang buat angkat pukat, takutnya nanti di bawa arus sungai lagi." Addy tersenyum karna terpana akan semangat Rahel yg walau setaip hari harus belok balik kampung dan kebun ia tetap semangat ia berguma dalam hati 'Astaga kenapa aku baru menyadarinya seakarang.
Ia begitu rajin dan ia seperti kriteria wanita idaman ku.' Addy menjawab "Mau kakak antar??" Rahel langsung menolak "Gak usah kak,Rahel juga ada bawa sepeda , Rahel duluan dulu kak." Rahel pun segera pergi.
Di perjalan angin mulai kencang dan Rahel dengan tergesah gesahnya melajukan sepedanya hinga sampai ke rumahnya yg ada di kebun ia langsung memarkirkan sepedanya ke bawah kolong rumah lalu ia naik setelah itu ia membuka pintu ruamah ia menaruh semua barang-barangnya.
__ADS_1
Ia kembali menaiki tanga kayu yg ada di terasnya untuk naik ke atap rumahnya untuk mengambil Ikan yg ia jemur tadi, ia turan dengan tergesah gesah dan terjatuh ke teras rumahnya untung saja dia tidak tinggi jadi ia tidak terluka.
" Astaga kenapa bokongku hari ini begitu sial." Ia berdiri dengan kesalnya dan bokongnya masih sakit dan ia masih berusaha berjalan lebih cepat karana angin semakin kencang.
Setelah menaruh ikan yg ia jempur tadi ke dalam rumah, ia kini berjalan ke sungai untuk mengangakat pukat tadi pagi tidak ia angkat walanya pada saat naik rakitnya tak ada yg aneh pada saat ia menarik tali yg ia ikat pada sebuah ranting kayu dan matanya tertuju pada seorang pria yg tubuhnya tersangkut ranting pohong yg besar, sontak ia menutup mulutnya.
"Apa itu mayat." Ia menarik talinya mendekat pada ranting pohon tersebut karna kebetulan juga di dekat situlah ia memasang pukatnya. Ia mengikatkan rakitnya pada tali tadi lalu ia perlahan menarik tubuh pria tadi ke pingin namun karna arus yg deras pada saat tubunya terlepas ia malah akan hanyut lagi dan dengan cepat Rahel melompat lalu menarik peria tadi ke pinggr sungai.
Sesampai di pingir suangai ia dengan susahnya mengangkat peria itu ke darat lalu memeriksa detak jantungnya dengan menempelkan telinganya pada dada peria tersebut , ia mendengar jantung pria ini sangat lemah ia kebingungan harus melakukan apa.
"Apa yg harus aku lakukan, jantunya sangat lemah kalok aku biarkan nanti dia bisa mati." Dan tak lama kemudian hujan gerimis mulai turun namun karna mereka di bawah pohon karet jadi mereka tak merasakan apa pun.
Dan ia teringat Filem sinetron yg pada saat adegan pemeran utama wanita tenggelam dan sang pemeran utama pria yg menolongnya menekan nekan dadanya lalu memberikan napas dari mulutnya lalu pemeran utama wanita sadar.
"Apa aku harus melakukanya seperti di sinetron." Dengan terpakasa dan ia menekan dada peria tadi dengan seluruh kekuatanya yg tersisa sembari sekali-sekali ia juga memberikan napas buatan dari mulutnya ke mulut peria tadi.
Dan hujan deras pun mulai turun pria tadi belum sadar, Rahel yg kesal karna ia belum sadar sadar juga memukul-mukul tanganya pada dada petia itu hinga ia tersadar dari pingansanya dan memutahkan air dari dalam mukutnya , Rahel yg meliaht peria itu sudah sadar langsung mendekatinya.
__ADS_1
"Ayo kita berteduh di rumah ku sebentar, hujanya pasti akan semakin deras." Peria itu sama sekali tidak mengerti dengan papa yg dia katan Rahel karna saking derasnya hujan, Rahel pun membantunya berdiri lalumembatunya berjalan sampai ke rumahnya.
Bersambung....