Takdir Rahel

Takdir Rahel
TR 44


__ADS_3

Tak terasa malam tiba dan kini Felix sudah tidur di samping ayahnya sedangkan Rahel yg baru kembali dari Ruang rawat ibu Adam, pada saat membuka pintu terlihat putranya yg tidur si samping ayanya dan terlihat Adam yg terus menerus memeluk putranya, Rahel yg melihat hal itu tak bisa berhenti tersenyum "Kamu ini terlalu memanjakanya, lihat sekarang kamu kehilangan setengah dari tempat tidur mu karna dia." Adam yg masih terbangun tersenyum lalu mentap istrinya "Biarkan saja, agar putra ku bisa tidur dengan nyaman." Adam segera bangit dari baringnya, Rahel yg melihat hal itu sontak menghampirinya "Apa kamu mau ke kamar mandi??" Adam menggeleng Aku cuman mau duduk ke di Sofa." Rahel pun membantunya dengan membawa infusnya.


Setelah sampai di Sofa Adam duduk lalu di ikuti Rahel yg duduk di sampingnya "Apa kamu ingin memakan sesuatu??" Adam tersenyum menatap istrinya "Aku mau makan kamu." Rahel yg mendengar hal itu lantas mencubit pipi suaminya "Udah punya anak masih aja gak berubah."Adam pun meraih tangan Rahel lalu mengaitkan tangan mereka satu sama lain "Sudah lama aku tidak memegang tangan mu."Adam pun menyederkan kepalnya pada bahu Rahel "Setelah 5 tahun akhirnya aku bisa bertemu dengan mu lagi, apa kamu tau selama itu aku terus mencari mu terkadang jika aku merasa frustasi akau akan bercerita pada mama dan setelah bercerita padanya aku seperti di beri semangat, pernah kah kamu merasakan ridu yg sama seperti yg aku alami walau hanya sekli."Rahel yg mendengar hal itu menjadi terharu lalu semakin mempererat tangan mereka "Setip saat aku selalu merindukan mu walau ada berberapa orang yg berusaha mendekat pada ku tapi entah kenapa hati ini hanya ingin diri mu, setiap aku melihat putra kita maka yg aku lihat adalah duplikat dari diri mu dan aku selalu berdoa kepada tuhan kenapa aku harus mencintai peria yg setatus sosialnya berbeda dengan ku."


Adam yg mendengar hal itu merasa sesak pada dadanya "Aku tak peduli apa setatus sosial mu, mau kamu seorang janda,orang miskian, wanita hina, atau seorang pembunuh aku akan tetap menempatkan hati ku pada mu, aku pernah baca di sebuah buku yg mengatakan cinta tidak akan memandang setatus sosial seseorang,cantik atau tampanya seseorang apa lagi dengan kata-kata, cinta hanya bisa di lihat dari kesetiaan seseorang." Adam mengangkat kepalanya lalu ia  menatap wajah istrinya dan Rahel juga menoleh padanya lalu mata mereka saling memandang satu sama lain lalu tangan mereka yg saling berkaitan tadi di angkat dan terlihat cincin di jari manis tangan kanan Rahel "Padahal sudah 5 tahun tapi kamu masih memainya." Rahel menjadi malu "Apakah akau harus melepasnya??" Adam tersenyum "Coba kamu lepas sebentar lalu pasang lagi." Rahel menurut ia terlebih dahulu melepas tanganya yg saling berkaitan tadi lalu melepas cincinya, ia sedikit terkejut karna yerlihat bekas cicin itu di jarinya manisnya karana selama 5 tahun ia tak pernah melepasnya "Astaga cincinya berbekas di tangan ku." Adam pun mengakat punyanya lalu melepasnya juga dan terlihat bekas yg sama dengan milik Rahel, dan gadis itu menatapnya "Kenapa bisa sama??" Abraham tersenyum lalu memegang kedua tangan istrinya.


"Itu karna kita saling mencintai, aku tak pernah bisa mencabut cicin ini karna aku masih menunggu mu kembali dan aku senang perjuangan ku selama 5 tahun ini akhirnya terbalaskan."Rahel seperti kehilang kendali dari tubuhnya ia pun membelai pipi suaminya "Sekarang kamu tak perlu lagi mencari karna aku akan selalu ada di samping mu." Adam mencium tangan istrinya "Selamanya." Rahel menjadi malu dan menjawab "Iya selamanya." Adam mengecup bibir istrinya setelah itu beralih ke keningnya dan perlahan ke seluruah wajah istrinya dan Rahel yg di cium seperti itu menjadai geli hinga terbaring di sofa.

__ADS_1


*


*


*


*

__ADS_1


*


Selama pernikahan Debora dan Addy akan berpisah kamar ketika kedua orang tua Addy tak ada, mereka hanya akan tinggal satu kemar ketika ayah dan ibu Addy pulang atau peria itu sedang ingin berhubungan suami istri. Di kamar Debora yg terlebih dulu mandi setelah selesai baru suaminya Debora sama sekali tak menganti bajunya dan hanya memakai handuk, tak lama Addy kelur dengan hanya menggunakan Handuk  lalu segera duduk ke di atas ranjang dan menyendarkan tubuhnya di pingiran ranjang lalu merentangkan kedua kakinya ke depan setelah itu ia menepuk pahanya agar debora mau duduk di pangkuanya, gadis itu sedikit terkejut karna ini seperti hal yg tak biasa Addy lakukan namun sebagai istri yg baik ia menurut dan duduk di pangkuanya lalu addy memeluknya.


Sempat terjadi keheningan yg membuat Debora semakin tak mengerti apa konsepnya ia harus duduk di pangkunya apa lagi ia masih mengunakan handuk dam kamar mereka itu ber ACC yg membuatnya sedikit kedinginan "Kak aku matikan dulu yah ACCnya??" Tak ada jawaban dari Addy namun Debora tak peduli yg penting ia harus segera mematikanya agar tak kedinginan pada saat ia bangkit dari duduknya Addy kembali menariknya setelah itu Debora kembali jatuh ke pangkuanya "Astaga kak, aku hanya mau mematikan ACC."Addy langsung melepas handuknya dan saat itu Addy belum mematikan lapu yg ada di kamar dan Debora yg belum terbiasa menutup tubuhnya  "Kenapa harus di tutup aku mau melihatnya??" Debora begitu malu "Kak Matikan dulu lampunya." Addy malah membalikan Tubuh Debira menghadap padanya dan gadis itu sedikit tidak nyaman "Kak Addy..." Addy merasa tiap lekuk tubuh istrinya sedangkan Debora memalingkan wajahnya karna malu, Addy yg melihat hal itu menatap Debora "Kenapa kamu mengalihkan wajah mu, apa aku kurang untuk mu." Debora tak mengerti apa maksud suaminya lalu ia menghadapnya "Apa maksud kakak??" Addy terlihat Frustasi "Apa aku kurang,kenapa ia terus menolak ku dan malah kembali ke peria itu lagi." Debora yg melihat itu lantas memegang pipi Addy lalu tersenyum menatapnya "Kakak Tidak ada Kekurangan sama sekali kakak baik, kakak pengertian, kakak pekerja keras dan kakak juga tampan, kakak sama sekali tak ada kekurangan. Tapi tak seharusnya kakak sedih karna Rahel sudah kembali ke pada suaminya, kakak harus bahagia karna ini lah impian Rahel selam ini bisa berkumpul kembali dengan suaminya jika kakak benar-benar cinta pada Rahel mak kakak harus bisa kengikalskanya."Addy menangis lalu Debora memeluknya berusaha menenangkan suaminya ini kedua kalinya ia mengis di hadapan Debora.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2