Takdir Rahel

Takdir Rahel
TR 26


__ADS_3

Setelah mengusir ular itu mereka kembali ke aktifiatas masing-masing pak Hendra memperbaiki gententeng sedangan Addy membantu Adam memasang papan baru penganti papan yg sudah di lepas tadi, namuan dua orang itu masih saja berdebat sedanagkan Debora membantu Rahel untuk menyipkan makanan untuk sarapan mereka pagi ini sekarang Rahel hanya menunggu nasik matang sedangakan Debora membuatkan minuam saset yg dibuat di sebuah teko besar lalu di tambah air dan batu ice, Rahel sebenarnya sudah tak ada lagi yg ia lakukan tiba-tiba ia merasa penasaran bagai mana malam petama Addy dan Debora, Rahel segera mendekati gadis itu "Kak Debora Rahael penasaran setelah menikah bagai mana malam pertama kalian??".


Debora yg mendengar pertanyaan Rahel sedikit sedih "Tak ada yg istimewa." Rahael dapat melihat ekspresi sedih dari wajah Debora "Maaf kan aku aku tak bermaksud..." perkataan Rahel terhenti karna Debora langsung menjawabnya "Tak papa, lalu bagai mana dengan malam pertama mu dan suami mu." Rahel menjawab dengan begitu bahagia "Kami berbincang sedikit lalu tidur bersama." Namun Debora tak mengerti kenapa hal yg sederhana itu dapat membuat Rahel begitu bahagia padahal jika di bayangkan hal itu adalah hal yg bisa saja, Debora yg penasaran bertanya "Dengan hal yg sedehana seperti itu dapat membuat mu bahagia??." Rahael menjawabnya "Menurut ku malam pertama tak semestinya berkaitan dengan dua orang pasangan yg memadu kasih , tapi menurutku malam pertama adalah hal dimana kamu menghabiskan waktumu bersama pasangan untuk yg pertama kali. Apa kamu tau terkadang kita tidak harus berekspektasi lebih pada sesuatu karna kalau tidak sesuai keinginan itu hanya akan menyakiti diri kita sendiri jadi lebih baik menikamti hari tanpa harus memikirkan hal yg hanya akan menyakiti diri kita sendiri."

__ADS_1


Debora yg mendengar hal itu jadi mengerti, dan Rahael langsung mendekat pada Debora "Coba saja nanti malam bicaraka pada Kak Addy, dia itu oranya kalok di ajak bercerita pasti paliang suka." Debora yg mendengar hal itu menjadai malu "Apa kamu yakin dia akan mendengar cerita ku??" Rahel menjawabnya dengan semangat "Pasti, dia kalok sudah mendengar orang cerita atau curhat pasti bakal ikutan, kamu hanya peru mendengarnya saja dan jangan di balas dan kalaupun mau di balas biasa saja jangan terlalu heboh entar dia makain heboh." Debora mengangguk mengerti namun tiba-tiba ada perasan binggung di pikiranya lalu ia bertanya pada Rahel "Dari mana kamu tau kalok kak Addy suka bercerita." Rahel menjawab dengan santai "Itu karna ia sering ikut bercerita ketika mekihat aku, mamanya dan bik Anisa bercerita di dapur." Rahel pun segera bagkit dan mematika kompernya karna sudah tercium bau kalau nasiknya sudah matang "Kamu sipkan makananya aku akan ke luar dan memanggil mereka makan."


Rahel langsung berjalan ke luar rumah dan memangil Addy , Adam dan pak Herman "Kak Addy, Rio, Pak Herman ayo makan dulu, ini sayurnya  dan nasiknya sudah matang." Addy menjawabnya "Iya Hel.." lantas Adam yg tak terima "Hey dia istri ku, istrimu ada di dapur." Dan dua peria itu kembali berdebat dan Rahel yg melihat hal itu hanya bisa menggeleng gelengkan kepanya, pah Herman turun dari atas mengunakn tangga kayu yg biasa Rahel gunakan untuk ke atas "Astaga sudah menikah perilaku mereka masih seperti anak-anak." Rahel tensenyum "Biasa pak Herman mukaknya aja yg cepat tua tapi sifat, orangnya  masih kayak anak-anak, ayo kita masuk pak Herman." Rahel dan pak Herman pun bersama sama masuk dan duduk di dapur, "Wah sepertinya dari kelihatanya dan aromnya sepertinya enak-enak semua."

__ADS_1


Seketika Rahel terdiam mendengarnya dan yg menjawab pak Hwrman adalah Adam "Ini lagi usaha pak..." sontam Rahel yg malu-malu memukul bahu Adam pelan  dan peria itu menoleh padanya "Orang memang benar, kita masih usaha buat punya momongan." Dan pak Herman yg melihat hal itu tertawa "Bagus kalok gitu, kita tunggu kabar baiknya. Lalu bagai mana dengan Nak Addy dan nak Debora??" Debora binggung harus menjawab apa hinga addy lah yg manjawab "Addy belum kepikiran sapai situ, Addy mau fokus dengan pekerjaan saja dulu sambil menungu Rahel jadi janda." Adam yg tadi makan langsung kesedak makanan dan Rahel segera mengambilkan minuman untuknya "Pelan pelan makanya." Pak Herman menatap binggung Addy "Nak Addy kok ngomong gitu, orang nak Deobra juga cantik kenapa harus Rahel di tunggu jadi janda kan Rahel sudah ada nak Rio." Addy menjawabnya "Tapi Addy gak pernah cinta sama dia.." Debota yg mendengar hal itu menjadi sedih dan pak Herman mendengar itu malah tertawa "Oh jadi ini masalah sukak atau gak suka, pak herman baru ingat, kalian ini di jodohkan bukan." Debira mengangguk "Iya pak Herman." Pak Herman memberi Arahan untuk mereka "Kalok masalah itu mah nanti datang sendiri dulu bapak juga di jodohin begitu kayak kalian tapi karna lama tinggal bersana jadi mulai suka dan bisa menerima kekurangan satu sama lain."


Addy tak peduli dengan perkataan pak Herman ia terus menikmati makananya, Debora yg penasaran tentang sejak kapan Rahel program hamil "Hel akau mau tanya sejak kapan kalian program apa sudah ada tanda-tandanya." Rahel merasa kesal karna kata kata  Adam tadi wanita itu jadi penasaran dan Rahel terpaksa berbohong "Baru berapa hari yg lalu jadi belum ada tandanya." Debora mengangguk mengerti, sedangkan Adam terlihat tak bisa menahan senyumanya karna berhasil menjebak Rahel, sebenarnya Addy sangat kesal mendengarnya namun apa boleh buat ia tak bisa berbuat apa apa karna Rahel bukan istrinya dan wanita itu juga sudah menikah.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2