Takdir Rahel

Takdir Rahel
TR 38


__ADS_3

Adam sudah sangat berusaha mencari Rahel namun ia tak di temukan sama sekali bahkan polisi yg bertugas mencarinya di rumah sakit waktu itu tidak juga menemukan keberadanya karan kebetulan waktu itu CCTV rumah sakit kecil itu rusak dan belum di perbaiki dan jika harus memeriksa orang-orang yg namanya Rahael itu banyak, dan tak terasa sudah lima tahun perpisan mereka Adam tak bisa melupakanya dan ia selalu curhat pada ibunya yg masih dalam keadaan koma tentang istrinya yg mehilang dan ayahnya yg melihat hal itu menjadi kasian padanya namun ia juga tak bisa berbuat apa apa.


Di tempat lain tepatnya di rumah Rahel sorang anak laki-laki tengah membantunya memetik sayur di kebun "Mama lihat buah tomat ini warnanya merah." Raheal menoleh pada putranya sambil tersenyum "Felix cepat sudah petik buah tomatnya, dari tadi kamu hanya mengoceh disana katanya mau membantu mama." Ia menatap putrana yg ia berinama Felix itu, dan anak itu kembali berulah ia melihat ulat yg berjalan di salah satu daun mengambilnya setelah itu memberikanya pada ibunya "Mama ini tomat hijaunya." Rahel yg tak memperhatikan apa yg di ambil putranya karan begitu Fokus mengali ubi jalar "Astaga Felix Tomat yg hijau itu belum masak sayang kenapa di petik." Felix tertawa kecil, Rahel penasaran apa yg membuat anaknya tertawa itu "Kok malah ketawa sih, emang apa yg lecu." Pada saat Rahel menoleh pada putranya ia terkejut anaknya memegang ulat dan langsung tersentak ke belakang  "Astaga Tuhan , Felix buang itu, itu ulat bulu." Felix bukanya takut ia malah tertawa karna memang yg ia pegang bukan ulat bulu dan hanya ulat daun biasa  lalu semakin mendekatap pada ibunya "Mama coba lihat dari dekat dia imut lo maa." Dan Rahel yg takut kalau ia ulat buku semakin mundur "Felix buang itu, kalok gak mama pukul kamau nanti." Felix buknya takut ia malah terus mendekat pada ibunya tak lama terdengar suara mobil yg berhenti di rumahnya, yg membuat anak itu terdiam "Itu pasti Reno." Felix berlari sambil membawa ulatnya ke arah suara mobil dan Rahel yg melihat hal itu hanya bisa mengelus dadanya karan putranya itu semakin besar semakin nakal persis seperti dia dulu tapi tak bisa di pungkiri ia juga pintar kemungkinan ia dapatkan dari ayahnya.

__ADS_1


Pada saat Debora turun dari mobil bersama putranya di kuti Addy yg turu juga dan mereka langsung di hampiri Felix yg datangnya dari samping rumah "Reno coba lihat aku ada ulat." Reno yg merupakan putra Addy di buat penasaran dan mendekat "Mana aku juga mau lihat." Debora menghampiri Rahel dan membantunya mengkaut sayur-sayur tadi "Bagai mana apakah kamu dudah memikirkanya??" Rahel yg mendengar pertanyaan yg di lontarakan Debora sedikit tak suka "Sepertinya jawaban ku akan tetap sama." Mereka berdua menaiki rumah sedangkan dua anak tadi sibuk beramain bersama ulat tadi,mereka pun duduk di tengah rumah, dan Debora kembali menatap rahael "Hel kenapa kamu gak mau, apa kamu gak kasian pada Felix." Addy juga menatap Rahael dan berusaha meyakinkanya "Hel, Felix masil kecil ia butuh sosok seorang ayah." Rahel menatap kedal dua orang itu "Bagai mana aku tak mau, kalian meminta aku untuk menjadi seorang madu, lagi pula putra ku dudah besar dan dia juga tak pernah mempermasalah soal Ayahnya, maaf aku tak bisa menjadi orang ketiga."


Debora menatap Rahel "Apa kamu kawatir dengan perasaan ku, kamu tak perlu hawatir aku justru senang jika kamu mau menjadi orang ketiga agar nanti aku tak sendiri dirumah ketika papa dan mama tidak di rumah, apalagi jika di lihat Reno juga sangat dekat dengan Felix mereka pasti akan cocok menjadi adik dan kakak." Rahel tetap menggeleng "Maaf aku tetap tak bisa." Addy yg mendengar hal itu menjadi sedikit sedih, ini sudah menjadi yg ke 6 kalainya mereka bertanya dan jawab gadis itu selalu sama tak lama kemudian dua anak itu naik dan terlihat terengah-engah seperti mereka lari dari sesuatu "Mama, kami lihat hantu maa." Mereka melapor hal yg sama dan Rahel yg mendengar hal itu menatap putranya sambil mengelus rambut putranya pelan "Siang-siang mana ada hantu sayang." Reno berusaha meyakinkan Rahel "Ada Tante, dia rambut panjang dan gemuk aku takut.." Addy pun mendekat pada putranya "Masak anak papa takut sama hantu sih, anak papa kan harus berani dong.." Reno terdiam. Tanpa mereka sadari orang yg di lihat anak tadi memang nyata dan sedang mengintai mereka seolah-olah memiliki rencana yg busuk "Lihat saja pembalasan ku Adam jons, aku akan memebalas dendam pada Anak laki-laki mu dan istri mu juga ."

__ADS_1


Di kantor Adam tengah sibuk mengurus perusahaan tak lama kemudian terdengar ketukan dari luar "Masuk." Seorang pun masuk "Permisi tuan, saya mau membawa berkas yg berisi data para pelamar yg datang." Adam menoleh pada sekertarisnya "Taruh di meja saja." Setelah itu ia kembali memeriksa pekerjanya, sekertarisnya itu mendekat lalu menaruhnya di atas meja "Kalok gitu saya permisi tuan." Adam hanya mengangguk tak lama kemudian peria itu pergi, setelah kepergianya Adam menutup berkasa yg ia baca tadi karna sudah selesai ia baca lalu di taruh di atas meja, ia menghela napas pelan "Rasanya satu hari saja terasa hampa dan aku selalu merindukan sosok itu, kenapa dia sangat sulit untuk di temukan sudah 5 tahun aku mencari." Adam terlihat sedikit sedih lalu ia menarik berkas yg  di bawa tadi "Adam kamu harus tetap Fokus dengan pekerjaan mu, Agar nanti jika istri mu sudah ketemu ia takan kecewa pada mu." Adam pun mulai memeriksa bio data para pelamar di hotelnya hingga ia berhenti karna ada salah satu pelamar yg dari namanya tak asing untuk Adam.


"Nabila putri??" Tak lama Adam merasa kepalnya sakit dan ingatan masa lalunya kembali dimana ia bertemu dengan gadis itu dan bertanya dimana jalan ke luar dari desa, saking sakitnya ia sampai terjatuh dari kursinya "Kenapa ketika ingatan ini kembali harus sesakit ini." Adam membuka lemari yg ada pada meja kerajanya untul mencai obat yg di resepkan dokter untuknya dan pada saat ia berhasil merainya ia menuang di tanganya namun karna tak tahan dengan sakitnya pada sat menunang obat itu sempat berjatuhan dan setelah ada yg ia dapat ia langsung memasukanya ke mulutnya dan segera menelanya setelah itu ia ambruk ke lantai dengan wajah yg berkeringat dan memerah karan berusaha menahan sakitnya "Sepertinya aku harus menemui gadis ini."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2