Takdir Rahel

Takdir Rahel
TR 45


__ADS_3

Keesokanya Debora bangun dan pada saat ia akan bangkit ia di peluk erat oleh suaminya "Kak Addy, Debora mau antar Reno sekolah dulu." Addy malah smakin memeluknya erat lalu mencium bagian belakangnya "Kakak, udah ah, ini sudah pagi nanti anak mu lihat bagai mana??" Addy malah menjawabnya "Orang pintu sudah ku kunci." Debora masih berusaha melepaskan pelukan suaminya "Kak udah..." Addy tak peduli dan malah melanjutkan tidurnya sambil memeluk Debora "Kak bangun..." tak ada jawaban dari Addy dan Debora pun pasrah, tak lama terdengar pintu luar di ketuk "Mama, apa mama ada di dalam..." Reno mencoba mendorong dorong pintu dan Debora yg mendengar hal itu berteriak dari dalam "Iya sayang ada pa??" Reno yg mendengar suara dari dalam langsung menjawabnya "Mama, Reno lapar."


Debora yg mendengar hal itu hawatir "Apa bik Anisa sudah datang sayang??." Anaknya menjawabnya "Gak ada bibik di dapur." Debora yg mendengar hal itu berusaha membujuk suaminya "Tuu kamu dengar gak anak mu sedang lapar dan bik Anisa tidak datang apa kamu tega melihat anak mu kelaparan di luar." Addy memang tidur tapi indra pendengarnya masih bisa mendengar apa yg di bicarakan istrinya dan anaknya, ia pun melepas pelukanya dan Debora segera bangkit lalu mengenakan pakian yg ada di dalam lemari setelah itu ia membuka pintu "Maaf mama terlamabat." Reno sedikit menoleh ke dalam "Apa papa masih tidur??" Debora pun mengkat Putranya itu "Ayo mama antar buat sarapan, papa mu jangan di ganggu karana papamu masih mengantuk." Debora dan mengantar putranya ke dapur sedangkan Addy diam diam mengintip meliat kepergian mereka, di ia mulai berpikir 'Haruskah aku menyerah dan merelakanya pergi dan melanjutkan hari-hari ku bersama mereka.'


*


*

__ADS_1


*


*


*


*

__ADS_1


Felix membuka matanya "Mama, kapan kita akan pulang..." Rahel bingung apa maksud perkataan putranya itu "Emang kenapa sayang??" Felix bangkit dari baringanya "Felix rindu main sama temen-temen maa." Windi menoleh pada Adam dan memberi kode pada peria itu suapaya menjelaskan pada putranya itu, Adam yg mengerti langsung mendekati pada anaknya lalu Felix mengampiri Ayahnya lalu Adam langsung memangkunya "Sekarang Felix tinggal sama papa di kota, nanti habis papa selesai berobat, nanti papa ajak Felix kenalan sama teman baru."Anak itu terlihat sedih "Trus teman Felix di kampung kayak mana papa??" Rahel menghela napas pelan "Felix kalok balik ke kampung bagai mana dengan Kakek, papa dan Nenek mu yg sakit apa Felix mau meninggalkan mereka??" Anak itu terlihat sangat bingung untuk memilih, Adam memeluk putranya "Nanti kita pulang sebentar untuk mengambil barang barang mu dan mama. Hari itu nanti Felix puas puas main sama temen teman, bagai mana??" Felix pun mengangguk.


Rahel bangkit dari duduknya lalu segera mengangkat putranya "Seakrang kamu harus mandi, dan nanti kita kakan menemue nenek." Felix yg mendengarnya mulai bertanya "Nenek ku mana??" Tak ada jawaban dari Rahel lalu mereka masuk ke kamar mandi sedangkan Adam mempersiapkan pakian yg akan di kenakan, Rahel kembali keluar untuk mengambil handuk setelah itu kembali masuk tak lama Rahel keluar bersama Felix, Adam tersenyum pada putranya "Airnya dingin??" Anak itu menggeleng "Tidak papa, yang dingin itu air suangai." Adam tersenyum "Apa anak papa sudah bisa berenang?? Rahel pun mulai mengantikan pakian Felix "Felix sudah bisa berenang." Adam mencoba menggenodngnya "Ah masak, papa gak percaya." Felix yg baru bergati baju lalu menghampiri ayahnya "Papa gak percaya, nanti Felix Ajarin papa habis kita pulang, tapi di pingir aja yah kalok di dalam nanti mama marah."


Rahel memakikan pupur pada wajah putranya setelah itu ia menyisir rambutnya, Felix penasaran bagai mana masa kecil ayahnya "Papa, papa dulu apa papa pernah pergi ke kebun binatang??..." Adam menebak mungkin anaknya ingin ke sana tapi ia masih belum jawab di sisi lain Rahel memanfaatkan momen itu untuk mandi dan membiarkan dua orang itu berbicara "Pernah Emang kenapa??" Felix mendekat lalu duduk di samping Ayahnya "Kata temanku Reno di sana banyak hewanya Ada harimau, ada jerapah, ada beruang dan banyak lagi.." Adam tersenyum pada putranya "Apa kamu mau ke sana??" Felix menggeleng "Kata mama kalok ke kebun binatang harus punya uang banyak uang mama tidak banyak jadi Felix gak bisa pergi."Adam yg mendengar hal itu kasian pada putranya "Apa Felix mau ke sana." Felix mengangguk, Adam nerangkul putranya mendekat "Nanti kita pergi ke sana setelah ayah sembuh."Felix yg mendengar hal itu sangat bahagia "Apa papa punya banyak uang untuk ke sana??" Adam dengan sombongnya berbicara di depan putranya "Banyak dong, mau ribuan kali Felix ke sana papa bisa bawa." Felix langsung memeluk papanya "Makasih papa."


Tak lama Rahel keluar dengan pakian yg rapi pada saat ia melihat putranya memeluk ayahnya membuat hatinya tersentuh "Astaga kalian ini pagi pagi sudah peluk pelukan , mama gak ikut di peluk juga." Felix baru ingat pada mamnya"Mama sini juga." Rahel mendekat lalu mereka bertiga berpelukan "Mama sayang pangerang mama yg paling ganteng ini." Felix malah menjawab perkataan mamanya "Papa juga ganteng maa." Rahel malah teratwa lalu melepas pelukanya "Papa mu ganteng dari mana, papa mu itu penakut, takut hantu dan ular kecil." Adam yg merada tersindir tak terima "Sejak kapan aku penakut." Rahel mencoba menggodanya "Oh benar kah , nanti kapan-kapan ku suruh kamu uji nyali di Rumah terbengkalai baru tau." Adam dengan sobngnya menjawab "Siapa takut." Rahel diam diam mengambil sebuah tali pita lalu melepanya ke hadapan suamianya "Aaaa ulaur..." Sontak Adam bangkit dari duduknya "Mana ularnya." Rupanya hanya sebuah pita dan Felix yg melibat itu ikut tertawa bersama ibunya sedangkan Adam menjadi begitu malu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2