Takdir Rahel

Takdir Rahel
TR 50


__ADS_3

Siangnya mariam dan Dion mengantar Rahel, Felix dan Adam keluar rumah karna mereka akan di sana selama tiga hari "Kalian hati-hati nanti di jalan, ingat wanita jahat itu masih buron Adam kamu sebagai suami harus selalu waspada jangan santai saja." Adam mengangguk lalu Dion kembali memberi nasehat "Jangan lupa juga nanti singgah untuk makan papa gak mau cucu papa nanti kelaparan di jalan." Adam mengangguk "Tenang saja papa, mama. Kalom gitu kami pergi dulu." Mereka mengangguk, lalu Rahel berpamitan pada mereka "Pa, ma kami pergi dulu." Mereka pun segera menaiki mobil dan Felix melambaikan tanganya kepada kakek dan neneknya setelah itu mobil mereka keluar dari rumah tersebut.


Selama perjalanan Felix terus tidur di pangkuan Rahel, karna desa mereka tak jauh dari kota jadi tak membutuhkan waktu lama akhirnya mereka sampai di rumah Rahel "Sayang kamu keluar dulu, aku takut pada saat aku bangkit nanti ia terbangun." Adam mengangguk lalu segera turun lalu membuka pintu istrinya lalu segera mengkat putranya hanya dengan satu tangan dan ia mengambil kopernya yg ada bangku tengah dengan satu tanganya lagi sedangkan Rahel segera mengambil kunci di bawah pot bunga lalu membuka pintu rumah lalu ia membatu Adam membawa kopernya mereka masuk dan setiap sudut rumah itu bagaikan dejavu bagi Abraham, ingatan masa lalu mulai kembali tapi ingatan itu tak membuat kepalanya pusing lagi rahel membuka pintu kamar "Kamu baringkan dia ke dalam." Adam mengangguk lalu masuk ke dalam kamar ia melihat di kamar mereka yg sekarang sudah memiliki kasur walu tak terlalu lebar tapi jika yg baring dia tasnaya seperti Rahel dan Putranya mungkin masih cukup, adam pun membaringkan putranya.

__ADS_1


Pada saat ia keluar kamar Rahel sedang menyapu dan menunggu istrinya itu selesai menyapu setelah itu ia ke dapur yg terlihat tak berubah sama sekali lalu ia membuka pintu dapur ia langsung di seguhkan angin kencang yg berasal dari alam "Aku merindukan hembusan aingin ini." Tak lama sebuah nama terlintas di pikiranya yg mebuat hatinya bereaksi panas "Addy..." Adam bingung ia dapat menggingat tempat tempat itu dengan baik tapi ia belum bisa menggingat orang-orang yg pernah ia temui dulu "Siapa orang itu, kenapa dada ini seperti panas ketika mengginta nama orang itu." Tak lama Rahel datang ke dapur lalu melanjutkan menyapu di bagian dapur jadi Adam memutuskan untuk turun dari pintu dapur,ia mengunakan sendal rahel yg bermotif bunga-bunga lalu ia melihat lihat tanaman istrinya yg sudah perlahan layu karna tidak di siram "Sayang sekali." Namuan ada tnaman yg merambat namun warna daunya masih segar-segar "Apa ini ubi jalar." Adam pernah melihat petani yg memanen ubi jalar di internet ia terlihat sangat  mudah ketika mencabutnya ia pun melakukan hal yg sama dan keluar berberapa "Ternyata tak sulit juga, tapi ini terlihat menyenangkan " Adam pun mulai menarik lagi dan lagi.


Sedangkan Rahel merasa penasaran apa yg peria itu lakukan di bawah pada saat ia menengok dari pintu dapur bertama terkejutnya bahwa ubi jalar yg ia tanam sudah di cabut sebagian oleh Adam dan peria itu terlihat sangat bahagia mencabut cabutnya "Astaga ini rupanya yg kamu lakukan di bawah." Rahel segera turuan dan menghampirinya, Adam masih belum sadar kehadiran Rahel "Sekarang apa lagi yg bisa di cabut yah, apa singkong itu sudah bisa di cabut juga."adam melihat berberapa tanaman singkong, Rahel pun menjawabnya "itu masaih berusia 1 bulan dan masih belum memiliki isi 2 bulan lagi baru bisa di panen." Adam terkejut langsung menoleh ke sampingnya "Eh, sejak kapan kamu berada di sana??" Rahel tersenyum "Apa tidak boleh??" Adam menjawab "Gak juga sih tapi aku sedikit terkejut melihat mu." Windi menoleh pada ubi jalat yg Adam cabut "Lalu semua ini akan kita buat apa??" Adam berpikir sejenak lalu menjawab "Keripik atau bukan kita bakar, karna masih banyak kita bagi atau bawa pulang kasih mama sama papa."Rahel menghela napas pelan "Tunggulah di sini aku akan mengambilkan tempat untuk menaruh semua ini." Setelah Rahel pergi Akhirnya Adam bisa bernapas lega "Aku aman dia tidak marah."

__ADS_1


"Menurut mu apa lebih baik kita membakar ayam juga??" Debora menganggung "Lalu siapa yg akan kita suruh pergi beli??" Rahel menoleh pada Addy dan Adam mereka sama sekali belum melepas tangan mereka dan mereka juga saling memandang satu sama lain dengan senyuman paksaan, Rahel mendekati mereka "Sayang, bisakah kamu dan kakak Addy pergi beli ayam sebentar." Sontak mereka melepas tangan mereka lalu menoleh pada Rahel "Kenapa harus dengan dia, aku mau sama kamu saja." Rahel menatap Adam "Aku dan kak Debora akan membuat bumbu bakarnya kalain hanya cukup membeli dua ayam saja, kalian bisa tunggu sebenyar akau akan mengambil uangnya."Adam langsung menahanya "Tak usah pakai uang ku saja, kamu ambilkan kunci mobil ku saja." Pada saat Rahel akan pergi lagi ia di tahan "Tunggu, kami akan pergi mengunakan mobil ku saja." Addy menatap Adam dan peria itu menoleh padanya mereka tampak tak suka di pikiran Rahel mereka sedang menuangkan Rasa rindu mereka karna sudah 5 tahun tidak bertemu "Sana cepat pergi nanti keburu malam lo." Mereka pun segera pergi sedangkan Rahel memperbaiki sebentar perapaian tempat mereka akan membakar lalu meminta anak anak mereka naik lalu Debora dan Rahel ikut naik untuk membuat bumbu bakar.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2