
Setelah mencuci baju dengan Adam ia dengan santainya ia menjemur baju beserta ****** ***** pria itu dekat barang pribadai miliknya dan Adan yg melihat hal itu hanya bisa mengalihkan pandanganya karna wajahnya kembali memerah, Rahel yg melihat Pria yg sedari tadi duduk di depan pintu itu terus memalingkan wajahnya, menjadi kesal.
"Kenapa kamu dari tadi memalingkan wajah mu??" Adam menoleh pada Rahel "Gak apa kok, hanya saja aku merasa tidaknyaman." Rahel manatap bingung padanya "Tidak, nyaman kenapa??." Adam mengalihkan pembicaraan "Karan aku tak memakai itu..." Rahel kembali bertanya.
"Itu apa??" Adam masih tak mau menagatakn hingga Rahel pun menebak satu persatu "Perban di kepala mu." Adam menjawab "Bukan, pakai itu.." Rahel membali menebak "Kamu taknyaman mengunakan baju itu??" Adam menjawab "Bukan.." Rahel pun berpikir dan ia pun menumukan jawabnya dengan suara yg besra ia bicara "****** *****."
Adam tak menjawabnya sama sekaki seolah-olah itulah jawabanya, Rahel kembali berbicara "Tapi aku tak punya ****** ***** peria, apa kamu mau memakai ****** ***** milik ku saja sementara."
Adam yg mendengar hal itu dibuatanya melongok "Apa kamu gila, meminta ku memakai ****** ***** milik mu." Rahel menjawab "Oh jadi kita petlu beli, kalok gitu aku lihat dulu ukuran mu."
Rahel dengan santai mengambil CD milik Adam dan mencari-cari ukuranya, sedangkan Adam yg melihat hal itu menjadi malu. Dan Rahel pun menemukan ukuranya "Oh jadi ukuran ****** ***** milik mu XL. Kalok gitu tungulah sebentar aku ambik uang dulu sekalian kita ke pak Mentri."
Rahel pun masuk ke dalam rumah dan mengambil uang di tabunganya yg di simpan di sebuah kotak kayu yg ia kunci dengan gengbok, rupanya uang yg ia punya lumayan banyak yg ia simpan untuk merenofasi rumahnya nanti, setelah mengambil sebanyak 500 ribu ia pun kembali menaruh tabunganya ke dalam lemari.
Ia mengambil hpnya dan menaruh uang tadi ke dalam dompet kecil mikinya tidak lupa ia mengunci pintu kamar dan pintu dapur lalu ia ke luar.
"Ayo kita pergi."Adam menoleh pada Rahel "Kita naik pakai apa???" Rahel menjawab "Pakai jet lah." Adam pun menutup pintu rumah lalu Rahel pun memberikanya sendal "Pakai sementara Sendal ku."
Adam pun mengunakan sendal tersebut dan pada saat mereka turun dari tangga Rahel langsung ke bawah kolong untuk mengambil sepedanya , dan Apa yg di pikir Adam serta yg datang tidak sesuai dengan apa yg ia pikir "Ini Jetnya??" Rahel mengagguk sambil menepuk tempat duduk sepeda ontel miliknya "Bagus kan." Adam menajwab "Gak."
__ADS_1
Rahel yg mendengarnya menjadi kesal "Yaudah, kamu jalan kaki aja aku naik sepeda." Pada saat Rahel menaikinya dan akan mengayuhnya Adam langsung menahanya "Eah tunggu dulu, aku juga ikut." Rahel menjawab "Kamu jalan aja, katanya Jet dia ngambek katanya kamu bilang dia gak bagus, jadi dia gak mau mengonceng kamu."
Adam pasrah "Iya iya dia keran , sekarang aku udah bisa naik kan??" Rahel mengelus sepedanya "Jet apa ia sudah boleh naik..." dan dia sendiri yg menjawab "Kata Jet kamu boleh naik, asals..." Adam menjawab "Asal apa??" Rahel tersenyum lalu menjawab.
"Asal kamu yg gonceng." Adam yg mendengar hal itu seperti di permainkan oleh seorang gadis desa yg licik "Iya iya..." dengan terpaksa Adam menggonceng Rahel sedangkan wanita itu tanpa dosanya ia tertawa atas kemenanganya.
*
*
*
*
*
Orangtuanya yg sudah panik kembali menelfon Fitri siapa tau dia ada bersamanya namun jawaban Fitri sama ia tak bersamanya, Ibu Adam Mariam Jons beserta Ayanya Dion satria Jons memutuskan untuk melapor pada polisi namun sampai pagi ini belum ada informasi yg di dapat polisi.
Di ruang tamu Ibu Adam Mariam masih terus menangis dan di sebelahnya Fitri yg mencoba menenangaknaya "Mama sabar yaa, Fitri yakin Adam pasti akan ketemu, percaya saja dengan polisi." Mariam menjawab dengan air mata yg tak henti mengalir dari sudut matanya "Bagai mana mama bisa tenag sayang, dia satu satunya putra mama."
__ADS_1
Fitri memeluk Ibu mertuanya itu dan sudut matanya mengeluarkam Air mata buaya, sedangkan Ayahnya juga membantu Fitri untum menenagkan istrinya "Sayang sudahalah, percayalah anak kita pasti tidak papa, kita hanya perlu percaya pada kepolisian dan terus berdoa pada tuhan supaya putra kita selalu di lindungi."
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan seorang pembantu langsung membukanya , ruapanya yg datang adalah Abel dan polisi yg menyelidiki kasus Adam mereka terlihat sedih terlebih Abel yg terlihat berusaha menahan air matanya, mereka yg tadinya duduk di ruang tamu kini segera menghampiri para polisi tadi.
"Bagai mana dengan anak kami tuan??" Para polisi itu terlihat sedih dan menjawab "Kami sudah mencari keberadaan anak anda dan kami menemukan mobilnya terpakir jauh dari kota dan berada di tengah hutan sudah hangus terbakar dan di duga Jasat Tuan Adam sudah terbakar hangus di dalam mobilnya, dan kami menemukan surat terakhir ini di rerumputan, ini surat terakhir dari anak tuan Dion ."
Polisi itu menyerahkan sepuncuk durat, ibu Adam segera mengambil surat tadi lalu membacanya ia tak kuasa menahan tangisnya membaca surat itu, hingga kehilangan keseimbangan dan pingsan.
Untung saat itu Ayah Adam langsung menangkap istrinya, dia pun di bawa ke kamar. Di kamar Fitri dan Dion terus menjaga istrinya yg sudah pingsan selama setengah jam, sedangkan Fitri masih terus mengeluarkan Air mata buaya suapaya ia tidak di curigai dan Ekting mereka berhasil, Fitri memegang tangan Calon Ayah mertuanya itu.
"Apa papa lapar, papa sudah dari kemarin belum makan." Dion menoleh Fitri yg sudah di angapnya putri sendiri itu "Tidak nak, papa tidak lapar." Fitri memegang erat tangan Calon Ayah mertuanya itu "Papa harus makan, nanti kalok papa tidak makan entar sakit bagai mana Mas Adam bisa tenang di sana jika melihat papa begini."
Dion merasa tenang "Baiklah, kamu abil sedikit buat papa." Fitri tersenyum pada saat ia berdiri tiba tiba tanganya di pegang oleh Dion, lalu ia kembali menoleh Pada calon Ayah mertuanya itu "Makasih yah nak, kamu juga yg sabar yah" Fitri tersenyum kecut lalu segera pergi, di luar ia langsung meminta pelayan untuk mengantar kan makanan untuk taunya di atas.
Tiba tiba seorang pembantu memangil dia katanya Abel mencarinya dan ingin bicara sebenatar padanya, ia dengan terpakasa keluar dari ruamah dan menemui Abel yg menungunya dari tadi di dalam mobil, dengan suara yg kecil ia berbicara.
"Ada apa sayang??" Abel langsung mengecup bibirnya "Gak papa, aku kagi rindu sma bibir manis mu saja." Fitri menatap kekasihnya itu "Tapi jagan sekarang, nanti kita ketahun.
Kamu gak mau di penjara kan??" Abel mengganguk "Tenag saja sayang, mobil yg ku bawa kacanya itu sudah hitam jadi kita takan terlihat dari luar."
__ADS_1
Fitri tersenyum "Benarkah??" Fitri pun langsung meyamabar bi*ir kekasinya itu dan tanpa mereka sadari seorang tukang kebun mendengar semuanya ia mungkin tak dapat melihat apa yg mereka lakukan di dalam namun ia bisa mendengar pembicaraan mereka.
Bersambung....