
Malamnya Rahel menindurkan putranya di ruang rawat adam sedangkan peria itu masih ada di kamar ibunya bersama ayahnya, setelah menidurkan Felix Rahel menunggu sebentar namun pria itu tak datang juga "Apa aku perlu menyusulnya." Rahel pun berinisyatif untuk menyusul, ia segera keluar dari kamar danĀ mengampiri kamar tersebut pada saat ia akan membuka ia mendengar suara dari dalam "Sudah mama katakan ribuan kali adam mama tak setuju kamu dengan wanita yg tidak jelas seperti itu yg bahkan berasal dari kampung." Adam yg tak terima istrinya di sebut wanita tak jelas sangat marah pada ibunya "Mama dia wanita yg baik dan menurut Adam dia sangat pantas untuk menjadi nona kelura Jons." Ibunya menatap Adam "Apa wanita itu sudah mencuci otak mu setelah menemukan mu, mama sampai kapan pun takan setuju kamu dengan dia dan untuk hak asuh mama akan mengambilnya, untuk masalah wanita yg akan kamu nikahi akan mama cari wanita berpendikan dan memiliki tingkah laku yg baik dari dia.".
Rahel tak jadi membuka pintu dan hanya bisa terdiam, terdengar lagi suara ayah Adam "Sayang jangan seperti itu, papa yakin dia itu gadis yg baik dan pendidikan bukanlah masalah lagi pula dia masih muda dan masih bisa melanjutkan kuliahnya nanti." Mariam sama sekali tak mau menjawab suaminya, Sedangkan Adam sangat marah "Memang sifat egois mama dari dulu tak pernah berubah, tak ku sangka ayah ku menikahi wanita seprti mu." Ayahnya yg mendengar hal itu langsung menoleh pada putranya "Adam.." adam dengan prasaan jengkelnya "Aku bersyukur tidak terlahir dari rahim ibu sepertimu, jika kalian ingin mengusir ku dari rumah karna tingkah laku ku usir saja aku tak masalah aku bahagia jika bisa bersama istri dan anak ku." Adam pun membalikan badanya dan langsung pergi dari kamar tersebut pada saat ia membuka pintu ia terkejut melihat istrinya begitu juga deangan Rahel lalu Adam segera menutup pintu "Apa suaranya terdengar sampai luar??" Rahel mengangguk "Sepertinya kita perlu bicara." Adam pun menarik tangan istrinya pergi ke kamar rawatnya.
__ADS_1
Setelah kepergian Adam Mariam masih sangat kesal karna anak itu membahas mengenai masa lalu, sedangkan Dion mencoba membujuk istrinya "Sayang kamu terlalu mengekangnya, dia itu sudah besar dan ia juga sudau tau yg mana yg baik dan buruk kenapa kamu meragukanya." Mariam menatap suaminya "Jika aja aku bisa hamil tidak mungkin aku memiliki anak yg tidak tau sopan santun seperti dia, sepertinya kamu memilih wanita yg salah." Dion menghela napas pelan "Sayang sudah masa lalu jangan di bahas, bukanya menyewa rahim seorang wanita untuk mendapat keturunan itu ide mu??" Mariam tak mempedulikan suaminya "Sayang Rahel itu sangat tulus pada Adam kenapa kamu menghalang mereka untuk bersama." Mariam menjawab suaminya dengan kesal "Tapi mereka beda, anak kita sudah kita kulaihkan sampai ke luar negri sana sampai lulus S2 malah dapat gadis yg cuman lulusan SMA, apa yg harus mama katakan pada teman sosialita mama." Akhirnya Dion tau penyebabnya ia menatap sinis istrinya "Jika saja ketika aku memperkenalkan mu pada kedua orang tua ku waktu itu dan mengatakan bahwa kamu mandul jadi kah kita menikah saat itu, mungkin aku akan di jodohkan dengan salah satu anak kolega orang tua ku waktu itu. Kamu jangan memandang seseorang dari kekurangan mereka karna tak ada manusia yg sempurna begitu juga dengan diri mu, aku ingin kamu merestuai mereka jika kamu masih sayang pada anak mu itu yg setip hari selama 5 tahun ini menjaga mu." Dion pun segera mengigglkan Mariam dam mariam yg melihat hal itu menjadi merasa bersalah.
Di kamar mereka duduk di pingiran kasur tempat Adam berbaring, sempata ada keheningan setelah itu Adam mulia memberanikan diri untuk cerita "Sebenarnya ibu ku itu bukan ibu kandung ku, aku ini hanya terlahir dari rahim seorang wanita bayaran." Rahel yg penasaran "Jadi kamu bukan??" Adam tersenyum "Aku memang bukan Anak dari ibu ku tapi aku anak dari ayah ku, jadi tak ada masalah dalam hak waris karna ayah ku lah pemilik Askara Grup." Rahel semakin bingung "Apa Ayah mu yg hamil kamu, bagai mana bisa seorang pria hamil??" Adam tertawa mendengarnya "Hahaha... kamu ini belum paham juga." Adam mencubit hidung Rahel "Sakit..." Adam pun melepas cubitanya "Bukanya sejak awal aku sudah bilang kalau ibuku adalah seorang wanita yg me jual rahimnya pada ayah ku." Rahel berusaha berpikir namun wawasnya yg kurang itu jadi membuatnya kurang mengerti "Coba aku jelaskan tahapanya??" Adam pun menjelaskan "sebenarnya dia sama seperti orang hamil pada umunya tapi yg membedaknya adalah, ketika suami istri ingin memiliki anak maka mereka akan berhubungan setelah itu kan terjadi pembuahan lalu hadirlah seorang anak, kalau dalam kasus papa ku itu seperti sel sepermanya yg di tanamkan ke tubuh seorang wanita mengunakan alat dan terjadilah pembuahan tanpa ada kontak Fisik sama sekali. " Rahel yg penasaran kenapa ayah mertuanya melakukan hal itu padahal ia punya seorang istri "Kenapa ayah mu melakukan itu, bukanya ayah mu punya seorang istri yah??" Adam pun menjelaskan pada Rahel "Karna ibuka itu tak bisa memiliki anak kalau bahasa kasarnya ia mandul."
__ADS_1
Dion duduk di sebuh kursi yg ada di depan rumah sakit sambil melihat bulam di malam hari, lalu ia teringat dengan kata kata istrinya yg mengatakan kalu dia salah memilih wanita yg mengandung Adam padahal orang yg ia pilah adalah orang yg kriterianya seperti yg di inginkan Mariam agar suatu saat nanti anaknya terlahir tampan dan benar saja jadilah Adam yg tampan dan memiliki darah campuran orang lokal dan Bule itu sebanya Adam tampan "Kenapa semua yg ku lakukan selalu salah di hadapan mu, padahal aku sudah melakukan yg terbaik. Bahkan ia menghina putra ku di hadapan ku, ayah mana yg tidak marah jika anaknya di perlakukan seperti itu." Dion terlihat pusing dan mencoba menghirup udara segara di malam hari untuk menetralkan rasa pusingnya.
Bersambung.....
__ADS_1