Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
10. Natasya mengetahui


__ADS_3

Di jalan hujan yang turun dengan lebat mengguyur tubuh Vira hingga basah kuyup.


Waktu itu, Vira berlari untuk mencari tempat yang teduh dan ia meneduhkan dirinya di halte bus yang tengah kosong.


Ketika ia sudah berteduh, raut mukanya terlihat sangat khawatir jika kue yang berada di dalam box basah. Dia pun akhirnya memutuskan untuk memeriksa kue kue itu, tapi saat ia tengah memeriksa. Perutnya yang sudah tidak bisa di tenangkan dan di tambah tampilan kue yang terlihat sangat menarik dan sangat menggiurkan. Akhirnya Vira pun terjerumus dan mengambil beberapa kue untuk di makannya.


Ketika ia sudah memakan beberapa kue, tanpa dia sadari oleh dirinya. Ibunya yang jahat, sudah berdiri dari kejauhan dan memperhatikan dirinya.


Melihat kalau Vira mengambil makanannya, dia benar benar sangat marah dan dia tidak bisa mengontrol emosinya. Dia yang sudah tidak tahan dengan yang di lakukan oleh Vira, langsung menghampiri Vira dan memarahi Vira.


"Oh jadi kamu yang habiskan kuenya, pantas kue selalu habis tapi uang sama sekali tidak mencapai target, ternyata kamu makan." Ucap Ibu Vira dengan sangat marah dan penuh dengan emosi.


"Maaf Bu, Vira lapar. Vira benar benar minta maaf, Vira janji tidak akan melakukan hal itu lagi." Vira pun mengatakan hal itu dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


Mendengar ucapan itu, Ibu Vira tidak percaya. Dia meneduhkan dirinya di halte yang sama dengan Vira.


Saat di sudah berteduh, dengan marahnya dia menutup payung yang di pakai, lalu tanpa berpikir panjang Ibu Vira memukuli Vira hingga Vira menggeliat liat kesakitan.


Dia sampai memohon ampun kepada ibunya, namun ibunya tidak mendengarkan dirinya dan terus memukul mukul kaki dan beberapa bagian tubuh Vira yang lainnya.


Di saat itu, aku masih bingung mencari anak itu. Aku melihat ke sana kemari dengan melajukan mobil ku perlahan.


Ketika aku berada di dekat sebuah halte, aku melihat kejadian itu di mana ibu Vira memukuli Vira tanpa ampun. Melihat hal itu, aku yang sangat sayang dengan Vira, langsung bergegas turun dari mobil. Aku menerjang hujan yang turun, ku berlari menghampiri anak dan ibunya itu. Ketika aku berada di dekat kedua orang itu, ku dorong wanita yang memukul Vira hingga dirinya terdorong beberapa langkah dari hadapanku.


"Kamu itu apa apaan sih, apa kamu tidak kasihan? Dia itu masih kecil, kenapa kamu memukul mukul dia dengan payung. Dimana hati nurani kamu?" Ucapku dengan nada tinggi dan tegas kepada wanita yang tidak lain adalah ibu dari anak yang aku bela.


"Diam kamu!" Bentak wanita itu.


"Kamu yang diam!" Balasku dengan ku bentak balik wanita itu. Wanita yang menerima bentakan ku pun ia langsung terdiam melihat kemarahan ku. "Lebih baik kamu pergi, pergi dari hadapanku!."

__ADS_1


Mendengar ucapan ku, wanita itu diam selama beberapa saat. Matanya melihat ke arah Vira dengan kemarahan.


"Awas kamu Vira, lihat saja nanti kalau kamu di rumah. " Ancam wanita itu kepada Vira sebelum dia pergi meninggalkan Vira dan Tasya.


Ketika wanita itu sudah pergi, ku ajak anak itu masuk ke dalam mobil. Ku periksa tubuh anak itu, saat itu terlihat di beberapa bagian tubuhnya terlihat beberapa memar di punggung nya akibat pukulan dari benda tumpul.


"Nak, ikut Tante ya. Tante janji, Tante tidak akan menyakiti kamu," ucapku kepada anak itu.


Pada awalnya anak itu terlihat ingin menolak, namun lama kelamaan anak itu mau ikut dengan Tasya.


Di sepanjang perjalanan, air mata anak itu terus menetes. Aku yang melihat hal itu, aku mencoba untuk menenangkan anak itu dengan ku belai lembut anak itu. Namun, anak itu masih terus menangis karena merasakan sakit akibat dari pukulan itu.


Tak berselang lama, aku dan anak itu berada di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit ku minta anak itu untuk merebahkan dirinya di atas tempat tidur rumah sakit. Namun, karena memarnya banyak terjadi di punggung, akhirnya dokter meminta anak itu untuk mengganti posisinya menjadi tengkurap.


Ketika dokter sedang mengobati luka anak itu, anak itu terus mengerang kesakitan. Mendengar hal itu, aku meneteskan air mata. Kulihat betapa menderitanya dirinya dengan perilaku yang di lakukan oleh ibunya sendiri.


Ketika Tasya menyadari kalau Vira akan pergi dari rumah sakit, Tasya yang saat itu tengah berbincang dengan dokter tentang keadaan Vira, langsung bergegas pergi dan mengejar Vira.


"Kamu mau kemana?" Teriakku kepada anak itu dan kemudian ku kejar anak itu.


Setelah beberapa saat berlari, aku berhasil menghentikan anak itu. Ku pegang salah satu tangan anak itu.


"Kamu mau kemana?" Tanyaku kepada anak itu.


"Tante, aku harus pulang. Kalau aku tidak pulang, ibu akan menghukum aku lagi. Aku mohon Tante izinkan aku pulang," ucap Vira dengan air mata yang berderai.


"Kamu tidak boleh pergi, kamu masih sakit. Kalau seandainya ibu kamu marah, biarkan Tante yang menghadapinya!" Jawabku dengan tegas kepada anak itu. Namun, anak itu masih saja menolak. Dia tidak ingin jika orang yang sudah baik dengan dirinya akan di sakiti oleh ibunya.


"Tidak Tante. Tante tidak boleh bertemu dengan ibuku lagi, Tante jangan bertemu dengan aku lagi." Anak itu terus menangis memohon kepadaku.

__ADS_1


"Oke, Tante tidak akan bertemu dengan ibu kamu lagi. Tapi, Tante mohon. Biarkan Tante mengantarkan kamu pulang ke rumah kamu," jawabku.


Mendengar ucapan ku anak itu terdiam selama beberapa saat. Setelah itu ia menuruti apa yang aku inginkan.


Tak berselang lama, aku dan anak itu berada di gang yang menjadi jalan menuju ke rumah Vira.


Sesampainya di dekat gang itu, Vira berterimakasih kepada Tasya kerana sudah baik dan menolong dirinya. Ketika Vira pergi dengan langkah tertatih dan kesakitan di punggungnya.


Natasya mengikuti Vira hingga sampai di rumah Vira. Ketika Vira sudah sampai di depan rumah dengan perlahan ia mengetuk pintu rumah.


Pada awalnya tampak biasa, laki laki yang berumur sekitar 30an membuka pintu dengan baik. Namun, saat pintu baru keluar wanita yang sama keluar dengan seember air dingin yang di campur dengan es. Melihat hal itu, aku sangat terkejut.


Aku bergegas berlari dan berusaha menyelamatkan anak itu dengan ku tarik anak itu kebelakang tubuhku.


"Gila ya kamu! Ibu macam apa kamu, hah? Tega - teganya kamu menyakiti anak kamu sendiri. Dan kamu ... Dimana hati nurani kamu sebagai ayah? Melihat anak kamu di perlakukan seperti itu, kamu hanya diam. Kalau kamu tidak ingin punya anak lalu kenapa? Kenapa kamu membuatnya?" Ucapku dengan nada tinggi dan tegas kepada kepada kedua orang itu.


"Ini bukan urusan kamu, kamu itu bukan siapa siapa di hidup kita." Jawabnya bertambah lantang dan bernada tinggi di hadapan ku.


Plak


Suara tamparan terdengar di ruangan itu. Saat itu, tanpa ragu aku menampar wanita itu hingga dia memalingkan wajahnya. Ku tatap wanita itu dengan tajam dengan nafas yang naik turun tidak beraturan.


Menerima tamparan itu, Ibu Vira hanya diam dengan menatap tajam dan marah Tasya.


"Aku memang bukan siapa siapa, tapi ... Kalau kamu melakukan kekerasan dengan anak, maka kamu punya urusan dengan aku!" Ucapku dengan tegas kepada wanita itu.


"Jangan macam macam kamu dengan saya!. Saya bisa laporkan kamu ke polisi, ingat itu!" Ucapku dengan tegas memberi peringatan kepada wanita itu.


Semua orang pun terdiam mendengar peringatan ku, setelah itu dengan kemarahan yang membara. Dia masuk ke dalam rumah dan mengunci rapat rapat pintu rumah. Bahkan, ia sampai tidak peduli suaminya masih di luar rumah.

__ADS_1


__ADS_2