
Hari demi hari sudah di lalui oleh Sarah, Tasya dan Zaka yang sudah tinggal satu atap. Tampak perut Sarah pun juga semakin membesar di taman, dia tengah menyirami tanaman di rumah Zaka. Melihat perut Sarah yang semakin membesar, Tasya merasakan dilema. Dia bingung harus melepaskan Zaka atau mempertahankan Zaka.
Saat itu dia tengah berdiri di dekat sebuah jendela dengan pandangan mata yang melihat ke arah Sarah dengan mata yang terus di penuhi air mata. Waktu itu, Zaka dan Tasya sudah berbaikan. Mereka tampak sudah kambali menjadi sepasang kekasih yang harmonis seperti sebelumnya.
Melihat Tasya terus melamun dengan pandangan mata ke arah Sarah, Zaka memeluk Tasya dengan sangat erat. Tasya yang menyadari hal itu, dia memecah lamunannya dan membalas pelukan Zaka.
"Ada apa?" tanya Zaka kepada Tasya.
"Tidak ada papa Mas, " jawab Tasya dengan menutupi kesedihan yang dirasakan nya.
Mendengar jawaban itu, Zaka memutarkan tubuh Tasya. Dia memegangi kedua lengan Tasya dengan penuh kasih sayang. Dia menatap tajam Tasya dan mencoba mencari tahu apa yang di sembunyikan oleh istrinya.
"Kamu jangan bohong, aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dari ku. Apa kamu masih marah dengan aku hingga kamu tidak ingin memberi tahu apa yang sedang kamu pikirkan," ucap Zaka dengan baik kepada Tasya.
"Bukan Mas, aku tidak marah dengan Mas. Aku hanya rindu dengan Vira," jawab Tasya untuk menyembunyikan kesedihannya.
Mendengar jawaban itu, Zaka pun percaya terutama sebelum masalah perselingkuhannya terbongkar Tasya memang selalu sedih ketika dia merindukan Vira. Menyadari hal itu, Zaka pun memeluk Tasya dengan sangat erat dan mencoba menangkan Tasya.
Di waktu yang bersamaan, ternyata di halaman rumah Vira dan Dokter Afridi datang ke rumah Zaka. Menyadari hal itu, Zaka tersenyum.
"Apa yang kamu rindukan, akan segera kamu temui," ucap Zaka dengan tersenyum dengan sesekali melihat ke arah Tasya. Menyadari sikap aneh dari suaminya, Tasya melepaskan pelukannya dan melihat ke bawah. Ketika dia melihat Vira datang ke rumahnya, dia tampak sangat bahagia. Dia bergegas turun dari kamarnya. Ketika dia berlari keluar dari kamar, Zaka memperingatkan Tasya untuk berhati hati, namun Tasya tidak mendengar.
Saat dia turun dari tangga, dia terpeleset dan jatuh berguling dan terkapar di lantai dengan berlumur darah. Kejadian itu benar benar membuat Zaka tidak bisa berkata-kata, dia hanya diam dengan kaki bertekuk lutut.
__ADS_1
Hal itu terjadi karena Zaka melihat kejadian itu secara langsung, begitu pula Vira yang saat itu juga berlari ke arah Tasya. Dia benar benar tidak bisa berkata kata atas apa yang dilihatnya di depan mata.
Setalah beberapa saat terdiam, Zaka bergegas pergi dan turun dari kamar atas menghampiri Tasya yang sudah tergeletak di lantai dengan darah mengucur di kepalanya.
Dia berlari dengan sekuat tenaganya untuk menyelamatkan istri yang di cintainya. Ketika dia sudah di dekat Tasya, Zaka menaruh kepala Tasya di pahanya dan mencoba membangunkan Tasya dengan memukul pipi Tasya perlahan.
"Sayang bangun ... Bangun, tolong jangan tinggalkan aku," ucap Zaka dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Setalah itu dengan sekuat tenaga, dia mengangkat Tasya dan membawa Tasya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Tasya di bawa ke ruang IGD, dia berada di masa yang mengkhawatirkan dan memerlukan donor darah.
Waktu berlalu begitu cepat, setalah berjam jam melakukan operasi donor darah. Akhirnya operasi berjalan dengan lancar, tidak ada kendala apa pun, namun sayang Tasya berada di masa koma.
Saat itu, Zaka melihat Tasya terbaring dengan tidak berdaya. Melihat hal itu, dia hanya diam dengan air mata yang teru mengalir membasahi pipinya.
Beberapa saat kemudian, Dokter yang merawat Tasya menghampiri Zaka. Dia memberi tahu Zaka kalau Tasya sudah dapat di jenguk, namun hanya bisa di jenguk secara bergantian saja. Mendengar ucapan itu, Zaka bergegas pergi ke ruang IGD untuk menjenguk istrinya.
Ketika berada di dalam ruang IGD, tangis Zaka semakin pecah. Dia berjalan perlahan dengan berusaha menguatkan dirinya yang melihat Tasya. Dia duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Tasya.
Saat Zaka sudah duduk di kursi itu, dia meraih tangan Tasya dengan air mata yang terus mengalir membasahi matanya.
"Maafkan aku Sayang, aku benar benar minta maaf karena aku tidak bisa menjaga kamu. Aku mohon dengan kamu, tolong maafkan aku," ucap Zaka dengan air mata yang terus berderai sambil sesekali mencium tangan Tasya yang mengenakan infus.
Waktu itu Zaka benar benar sedih dengan keadaan dari Tasya, dia hanya bisa menangis dan memikirkan keadaan Tasya tanpa memikirkan keadaannya sendiri.
__ADS_1
Di rumah Dokter Afridi memeriksa tangga yang membuat Tasya terjatuh, saat itu dia menyadari kalau Tasya terjatuh karena dia kurang hati hati berjalan.
Disisi lain, kedekatan Sarah dan Vira terjalin ketika Tasya masuk ke rumah sakit. Di kala itu, Vira memeluk Sarah dengan sedih. Dia terus bertanya kepada Sarah tentang keadaan Tasya.
"Tante Sarah, Tante Tasya baik baik saja kan, tidak terjadi sesuatu kan dengan dirinya?" tanya Vira dengan sedih dan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Tenang Vira, Tante Tasya akan baik baik saja Tante janji," jawab Sarah dengan baik sambil membelai halus Vira.
Mendengar ucapan itu, Vira sedikit lebih tenang dari pada yang sebelumnya.
Beberapa saat kemudian, Ibu Zaka dan ayahnya datang ke rumah sakita. Dia ingin menjenguk Tasya.
Saat itu mereka meminta Vira, Sarah dan Afridi untuk menjaga rumah.
Sesampainya di rumah sakit, orang tua Zaka tampak sedih dengan keadaan Tasya yang jatuh koma di ruang IGD. Dia sungguh tidak percaya kalau kejadian ini akan menimpa Tasya. Melihat anaknya yang terus sedih, Ibu Zaka mencoba untuk masuk ke dalam ruangan itu, namun salah satu suster menghampiri dirinya dan melarang ibu Zaka masuk ke dalam ruangan. Dia mengatakan kalau hanya satu orang yang dapat menemani pasien atau menjenguknya.
Mendengar hal itu ia pun hanya diam dan melihat keadaan Tasya dari kaca transparan.
Melihat ada orang tuannya di luar ruangan, Zaka yang bersedih. Dia keluar ruangan itu dan menghampiri ibunya. Dia tampak sangat sedih.
Ketika dia sudah berada di luar ruangan, Zaka memeluk ibunya dengan sangat erat dengan menangis tersedu sedu. Dia tidak masih tidak percaya kalau Tasya akan merasakan hal seperti ini.
"Mama, Tasya ... Dia ..." ucap Zaka, namun tidak dapat melanjutkan apa yang ingin di katakannya.
__ADS_1
"Mama tahu, kamu yang sabar. Mama yakin, Tasya pasti bisa melewati ini semua," jawab Ibu Zaka untuk menenangkan Zaka.