Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
64. Pengakuan dan pengantaran


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi hari menyabut Fian dengan suara tangis Habib yang kini menjadi alarm alami untuk dirinya.


Mendengar anaknya menangis, Fian bangun dari tidurnya. Dia menggendong Habib dan mencoba menenangkan Habib, namun Habib masih saja tidak bisa tenang. Dia terus menangis, seolah meminta sesuatu namun tidak di turuti oleh Fian.


Beberapa saat kemudian, Ibu Fian datang dengan membawa sebotol susu hanya untuk Habib. Dia memberikan botol itu kepada Fian setelah itu pergi, namun saat itu Habib terus menangis tanpa henti.


Menyadari hal itu, ibu Fian sadar bahwa Habib rindu dengan ibunya.


"Dia rindu dengan ibunya, makanya dia akan terus menangis dan menangis!" Ucap Ibu Fian.


Fian yang mendengar hal itu, dia hanya diam dengan mencoba menenangkan Habib, namun tetap saja, Habib tidak ingin tenang.


Setalah mengatakan hal itu, Ibu Fian pergi dari kamar Fian.


Beberapa saat kemudian, Ibu Fian duduk di ruang tamu dengan suaminya. Saat itu Fian tiba tiba datang dengan Huda yang terus menangis di gendongannya.


"Mama.... " Panggil Fian.


Mendengar panggilan itu, Ibu Fian pun diam. Dia menaruh cangkir kopi yang ada di tangannya. Melihat hal itu, Fian berjalan perlahan. Dia mendekati ibunya, ketika dia berada di dekat ibunya. Fian mengiyakan apa yang di inginkan oleh ibunya untuk membawa Huda bertemu dengan Tasya.


"Mama, tidak papa. Kalau memang Habib bisa tenang bersama dengan Tasya, aku ikhlas mengantarkan nya ke rumah Tasya.


Mendengar ucapan itu, Ibu Fian tersenyum. Setalah itu dia bangun dari duduknya dan menghampiri Fian.


Ketika dia sudah berada di dekat Fian. Ibu Fian tersenyum kepada Fian dengan memegangi salah satu bahu Fian.


"Mama bangga dengan kamu Fian," ucap Ibu Fian dengan senyum di bibirnya. Mendengar hal itu, Fian pun juga membalas senyuman kecil di bibirnya.


Waktu berlalu begitu cepat, akhirnya Fian pun membawa Habib menuju ke rumah Amar dan Sintia agar mereka bisa bertemu dengan Tasya. Sesampainya di rumah Amar dan Sintia, Fian terus melihat ke arah Habib yang tertidur pulas.


Melihat hal itu, Sintia menghampiri F Fian dan memegangi salah satu bahu Fian dengan baik.

__ADS_1


"Apa yang kamu pilih adalah pilihan yang terbaik Fian, aku sangat bahagia dengan pilihan kamu. Aku janji ke kamu, aku akan buat Habib selalu bisa bertemu dengan kamu, walaupun sudah di tangan Tasya!."


Mendengar hal itu, Fian tersenyum. Dia memegangi tangan Sintia yang memegangi bahunya, setalah itu dia bangun dan mengajak yang lainnya bergegas pergi ke rumah Tasya yang baru.


Di rumah Tasya, terlihat Tasya sedang mempersiapkan makan siang untuk Sintia dan keluarganya. Melihat banyak makanan yang berada di tas meja, Ibu Zaka terlihat kebingungan dan heran.


"Ada apa ini Tasya? Siapa yang akan datang ke rumah kita? Kenapa kamu masak banyak sekali hari ini?" Tanya Ibu Zaka dengan baik sambil sedikit memberi senyuman kecil di bibirnya.


"Mama, untuk menghibur kita sejenak. Aku undang teman aku untuk makan siang di sini, tidak papa kan Mama?" Jawab Tasya.


Mendengar apa yang di katakan oleh Tasya Ibu Zaka tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya dengan memeluk erat Tasya.


Saat Ibu dan Tasya berpelukan, tiba tiba ponsel Tasya berbunyi. Dia melihat nomor Scurity menghubungi dirinya, menyadari hal itu. Dia meminta Ibu Zaka untuk melepaskan pelukannya dan dia mengambil ponselnya yang berbunyi di atas meja.


"Iya Pak, ada apa?" Tanya Tasya dengan baik, namun tiba tiba raut mukanya berubah. Dia terlihat kesal.


"Iya Pak, saya segera keluar!."


Mendengar hal itu, Tasya hanya tersenyum lalu dia bergegas keluar dari dalam rumah.


Ketika dia di luar rumah, Tasya melihat Sarah di hadang oleh beberapa Scurity. Namun saat itu dia terus memaksa agar di s


Izinkan untuk masuk ke dalam rumah.


Melihat hal itu, Tasya menelepon salah satu scurity yang menghadang Sarah. Tasya meminta scurity itu untuk membuka pintu dan membiarkan Sarah masuk ke dalam rumah.


Di waktu yang bersamaan, Ibu Zaka datang dan dia berdiri di belakang Tasya. Melihat kehadiran Sarah di rumahnya dia terlihat sangat marah dan ingin mengusir Sarah, namun di saat dia ingin melangkahkan kaki nya. Tasya menghentikan ibunya dengan menghalangi ibunya melangkah ke depan.


Ketika Sarah sudah berada di depan Tasya dengan wajah sedihnya Sarah duduk bertekuk lutut di hadapan Tasya. Dia meminta maaf kepada Tasya dan berharap Tasya dapat memaafkan dirinya.


"Saya mohon maaf Bu, tolong maafkan saya. Saya janji dengan ibu, jika ibu memberikan maaf kepada saya, saya akan memberi tahu keberadaan Huda kepada Ibu," ucap Sarah dengan derai air mata yang terus mengalir membasahi matanya.

__ADS_1


Saat itu mata Tasya berkaca kaca, melihat kesedihan dari Sarah. Dia membantu Sarah bangun dari duduk bertekuk lutut di hadapannya.


Di waktu yang bersamaan, Sintia dan yang lain lainnya tiba di rumah Tasya.


Melihat seperti ada masalah antara Tasya, Sintia meminta suaminya untuk menghentikan mobilnya dan melihat dari kejauhan. Fian yang saat itu menyadari salah satu dari wanita itu ada ibu dari Habib. Dia turun dari mobil dan melihat ke arah Sarah dan Tasya.


"Kamu ingin aku memaafkan kamu lagi? Baik, aku akan memaafkan kamu. Sekarang beri tahu aku, di mana Huda?" Tanya Tasya dengan sangat tegas.


Mendengar pertanyaan itu Sarah masih diam, dia seolah berat memberi tahu keberadaan Huda kepada Tasya.


"JAWAB!!!"bentak Tasya kepada Sarah dengan air mata yang memenuhi matanya.


"Aku ... Aku membuang Huda!" Jawab Sarah dengan menundukkan kepalanya.


Mendengar apa yang di katakan oleh Sarah, Tasya hanya diam dengan mata terbuka lebar. Dia sangat terkejut dengan apa yang di katakan oleh Sarah, tidak hanya Tasya. Ibu Zaka juga terlihat sangat terkejut dengan apa yang di katakan oleh Sarah.


"Apa?! Sarah!!!!" Teriak Tasya dan dengan sekuat tenaga dia menampar Sarah hingga Sarah jatuh tersungkur di tanah. Tasya benar benar tidak bisa mengontrol emosinya, dia kembali membangunkan Sarah dan kembali menampar Sarah.


"Apa kamu kurang puas? Kamu membunuh Mas Zaka dan sekarang kamu membuang Huda, di mana hati nurani kamu? Di mana hati kamu menjadi seorang ibu? Tega kamu, " ucap Tasya dengan berteriak sambil sesekali memukul mukul tubuh Sarah .


Tasya benar benar tidak berdaya setelah apa yang di katakan oleh Sarah. Dia hanya bisa duduk dengan tertunduk dan berurai air mata.


Melihat hal itu, Sarah mendekati Tasya. Dia mencoba menyakinkan Tasya kalau Huda baik baik saja.


"Bu Tasya, saya mohon maafkan saya. Saya janji dengan ibu, Huda baik baik saja!. Dia aku buang di teman yang layak untuk masa depannya," ucap Sarah dengan air mata yang terus mengalir membasahi matanya.


"Pergi kamu!" Bentak Tasya dengan mendorong Sarah, namun saat itu Sarah kembali mendekati Tasya dengan memegangi salah satu tangan Tasya.


"Maafkan saya Bu."


"Pergi!!!!" Bentak Tasya dengan semakin keras kepada Tasya. "Jika kamu tidak mau pergi, maka aku akan usir kamu!."

__ADS_1


Jawab Tasya dengan nada tegas, namun Sarah masih saja tidak ingin pergi. Melihat hal itu, kemarahan Tasya semakin memuncak. Dia mengangkat Sarah dengan penuh emosi dan mendorong Sarah hingga Sarah jatuh tersungkur di kaki Fian.


__ADS_2