Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
13. Ceritaku 2 dan Vira Sakit


__ADS_3

      Waktu berlalu begitu cepat, malam hari pun tiba. Saat itu aku dan Mas Zaka tengah berada di dalam kamar. Dia terlihat bersiap untuk tidur, namun tidak dengan aku. Di waktu itu aku terus melamun memikirkan nasib Vira yang mungkin akan mendapatkan penyiksaan terus menerus dari ibu kandungnya setelah kejadian tadi siang.


Menyadari Natasya tengah kepikiran sesuatu dan hanya melamun. Zaka yang saat itu ingin tidur, bangun dari tempat tidurnya dan menghampiri Natasya.


"Ada apa ini?" Tanya Mas Zaka kepada ku dengan memeluk erat tubuh ku.


Mendengar ucapan itu, aku memecah lamunanku dan ku lihat ke arah Mas Zaka.


"Maaf Mas. Maafkan aku juga karena tadi aku tidak menjawab panggilan Mas," jawab ku dengan lirih.


"Tidak papa, apa kamu kepikiran dengan anak itu? Ceritakan kepada ku apa yang yang terjadi ketika kamu datang ke rumahnya? Aku yakin, pasti terjadi sesuatu di sana. Aku mohon, ceritakan kepada ku, apa yang sebenernya terjadi?" Ucap Mas Zaka dengan baik.


Mendengar ucapan itu akhirnya dengan perlahan aku melepaskan pelukan dari Mas Zaka dan aku bangun dari duduk ku, setalah itu aku berdiri di depan Mas Zaka dengan menatap Mas Zaka.


"Apa yang terjadi tadi siang sangat menyedihkan Mas. Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang aku lihat dan aku lakukan tadi siang," jawab ku dengan air mata yang berderai.


"Memangnya apa yang kamu lakukan?" Tanya Mas Zaka dengan memegangi kedua lengan ku dengan lembut.


Setelah menyadari hal itu, aku menceritakan semua yang aku lakukan tadi siang. Dari berusaha mencari tahu tentang Vira, lalu bertemu dengan Vira hingga dirinya bertengkar dengan Ibu Vira di rumah Vira.


Saat itu aku juga menceritakan tentang penyiksaan yang di lakukan oleh Ibu kandung Vira kepada Vira. Ketika mendengar ceritaku Mas Zaka tampak sangat terkejut dan dia tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh ibu kandung Vira.


Melihat hal itu, ku lanjutkan bercerita ketika aku membela Vira di hadapan ayah Vira dan ibu kandung dari Vira, hingga terjadi perdebatan antara aku dengan ibu kandungnya.


Ketika aku sudah bercerita tentang apa yang di lakukan oleh ibu kandung Vira, kini aku harus bercerita tentang permintaan Vira yang tidak ingin aku temui lagi.


Di saat itu, air mata ku benar benar tidak terkendali. Aku tak kuasa untuk membuka mulutku ketika ku ingat ucapan dari Vira, aku hanya dapat menangis dan menangis di pelukan Mas Zaka.

__ADS_1


"Ada apa dan kenapa kamu tidak melanjutkan cerita kamu lagi?" Tanya Mas Zaka dengan memeluk erat tubuh ku.


Saat itu aku hanya diam dengan memeluk semakin erat Mas Zaka.


Akhirnya, dengan hati yang berat untuk mengingat dan bercerita kepada Mas Zaka. Aku pun akhirnya memutuskan untuk mengatakan kepada Mas Zaka kalau Vira tidak ingin bertemu dengan aku lagi. Dia tidak ingin membuat hidup ku dan keluarganya berantakan.


Mendengar hal itu, Mas Zaka terlihat sangat terkejut dan dia tidak bisa berkata kata dengan apa yang di lakukan oleh Vira. Dia hanya terlihat ikut bersedih atas apa yang di lakukan oleh Vira, dia memeluk erat tubuh Natasya dengan membelai lembut tubuh Natasya untuk menenangkan Natasya.


"Kamu jangan sedih, aku yakin. Pasti anak itu melakukannya agar dia tidak menerima hukuman dari ibu kandungnya lagi. Aku mohon sama kamu, tolong jangan terus kepikiran dengan masalah ini," ucap Mas Zaka dengan baik. Mendengar hal itu aku pun hanya menganggukkan kepala ku di pelukan Mas Zaka.


*


*


Hari berlalu begitu cepat, keesokan harinya terlihat Zaka sudah bersiap untuk pergi ke kantornya dengan memakai Jas berwarna hitam dan mobil yang sudah terparkir di depan rumah.


Beberapa saat kemudian, Zaka dan Natasya keluar dari rumah dengan mengandeng satu dengan yang lain dan mereka terlihat sangat bahagia dengan apa yang di lakukannya.


Ketika di pertengahan jalan di dekat tempat dia menemui Vira, saat itu Zaka terlihat celingukan mencari sesuatu.


Waktu itu dia memang mencari Vira, namun saat itu Vira tidak terlihat di tempat biasa dia berjualan. Menyadari hal itu, Zaka berpikir kalau Vira mungkin hanya sementara jualan di tempat itu. Akhirnya dia pun memutuskan untuk mengurungkan niatnya mencari Vira dan bergegas pergi ke kantor miliknya.


*


*


Di rumah Vira, Vira masih berisitirahat. Saat itu dia tengah demam tinggi.

__ADS_1


Saat itu seperti biasa, Ibu Vira membawa seember air di kedua tangannya yang akan siap di siramkan ke tubuh Vira.


Saat itu dia sudah menyadari kalau Vira sedang sakit demam dan perlu beristirahat, namun ibu kandung Vira tidak mempedulikan hal itu dan tetap menyiramkan seember air itu kepada Vira.


Merasakan hal itu, Vira pun langsung terbangun dengan raut muka terkejut dan sedih.


"Ibu.. " panggil Vira dengan lirih kepada ibunya.


"Jadi kamu demam? Orang yang demam itu lebih baik di buat kerja, karena apa? Karena akan mengeluarkan keringat. Jadi kamu tidak usah bermalas malasan lagi, pergi dan jual lagi semua kue kuenya!" Bentak Ibu Vira dengan nada tinggi kepada Vira.


"Tapi Bu... "


"Kamu bilang tapi, apa kamu mau kalau tangan kamu yang kecil ini ibu masukkan ke dalam air mendidih?" Ucap Ibu Vira dengan jahat, lalu ia menarik Vira keluar dari kamarnya dan membawanya ke ruang makan.


Ketika dia sudah berada di ruang makan, Ibu Vira melepaskan tangan Vira dan mengambil satu kotak box yang ada di atas meja.


"Kamu harus jual semua ini, ibu tidak mau kalau ada sisa satu saja. Kalau sampai ada sisa, maka jangan pernah kamu berharap malam ini bisa mendapatkan makanan. Paham!?" Mendengar ucapan itu Vira hanya menganggukkan kepalanya dengan mata yang penuh dengan air mata.


Akhirnya Vira pun pergi, dengan langkah yang tertatih, wajah yang pucat dan sakit kepala yang sangat sangat sakit. Dia tetap pergi berjualan kue, agar dia bisa makan untuk malam ini.


Di tengah jalan ketika ia akan pergi ke jalan besar, dia melihat kursi kosong dan dia duduk di kursi itu sejenak.


Beberapa saat kemudian, seorang wanita paruh baya menghampiri dirinya untuk membeli kue yang di jual Vira.


"Vira, ibu lihat kamu kurang baik hari ini. Apa kamu sakit?" Tanya ibu ibu itu kepada Vira dengan baik.


"Tidak kok Bu, Vira baik baik saja. Terimakasih sudah membeli kue Vira," jawab Vira dengan lirih dan berwajah pucat.

__ADS_1


"Ya sudah, kamu hati hati ya jualannya. Ibu pergi dulu."


"Makasih Bu," balas Vira lalu mengusap keringat yang membasahi dahinya. Saat itu ia masih duduk di kursi itu dengan benar benar lelah dan tidak kuat menahan sakit kepala yang di rasakan oleh dirinya.


__ADS_2