
Malam hari pun tiba, kebimbangan hati di rasakan oleh Fian setelah dia mengetahui kalau anak itu adalah anak dari Tasya. Dia terus memandangi Habib, dengan mata yang di penuhi oleh air mata.
"Aku tidak siap untuk kehilangan kamu, " ucap Fian dengan sedih sambil membelai lembut Habib yang sedang tertidur pulas.
Beberapa saat kemudian, ibunya datang ke kamarnya. Dia menghampiri Fian yang saat itu duduk di samping Habib.
"Fian kamu belum tidur?" Tanya Ibu Fian dengan baik.
Mendengar suara itu Fian menyeka air matanya dan bangun dari duduknya.
"Tidak Mama, aku tidak tidur!" Jawab Fian.
Mendengar apa yang di katakan oleh Fian, Ibu Fian hanya diam. Dia mendekati Fian dan duduk di samping Fian.
"Fian, Mama tahu kalau kamu tidak bisa tidur. Kamu tidak ingin kehilangan Habib, Mama tahu itu. Tapi ... Tapi kamu harus siap, Habib bukanlah milik kamu, dia milik orang lain. Ada orang lain yang menunggu Habib," jawab Ibu Fian dengan baik kepada Fian.
Fian yang mendengar apa yang di katakan oleh Ibu Fian, dia hanya diam dengan mata yang di penuhi oleh air mata.
"Fian, Mama melakukan ini bukan karena Mama benci dengan Habib, tapi ini demi kebaikan Habib. Habib membutuhkan kasih sayang orang tuannya," ucap Ibu Fian melanjutkan ucapannya yang sebelumnya.
Saat itu Fian hanya diam, dengan menundukkan kepalanya. Dia seolah berat untuk berpisah dengan Habib.
Di tempat lain, terlihat Sintia bingung. Dia menggunakan baju tidur dan berjalan kesana kemari dengan wajah cemas. Beberapa saat kemudian, Amar datang. Dia menghampiri Sintia yang terlihat kebingungan.
"Ada apa Sayang?" Tanya Amar.
"Mas aku bingung, " jawab Sintia lalu dia duduk di samping Amar dengan wajah yang masih bingung.
Melihat hal itu, Amar memegangi tangannya, dia berusaha untuk menenangkan Sintia.
"Bingung kenapa?" Tanya Amar.
__ADS_1
"Aku tahu identitas Habib yang sebenernya!" Ucap Sintia dengan nada tegas kepada Amar. Amar yang mendengar hal itu tampak terkejut, dia terlihat tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sintia.
"Apa?! Kamu tahu identitas Habib? Bagaikan bisa?" Jawab Amar dengan kebingungan.
"Mas kamu ingat Tasya, Tasya yang dulu satu kelas dengan aku. Dulu Mas kan kakak kelas kita kan," ucap Sintia.
Mendengar apa yang di katakan oleh Fian, Amar hanya diam dengan membayangkan masa lalu mereka dulu. Setelah beberapa saat mengingat masa lalu, akhirnya Fian pun mengingatkan siapa Tasya.
"Aku dia, dia yang pernah bermusuhan dengan kamu kan dulu, tapi apa hubungannya dengan Tasya?" Tanya Amar.
"Jadi gini, ketika aku pergi ke rumah teman aku. Aku melihat brosur pencarian orang hilang, setelah itu aku dekati brosur itu. Aku lihat, ketika aku sudah lihat brosur itu, aku melihat wajah Habib dengan wajah dan keluarga besar Tasya." Ucap Sintia dengan menunjukkan fotonya kepada Amar.
"Apa kamu sudah beri tahu Fian, tentang hal ini?" Jawab Amar.
"Sudah, tapi dia justru mengusir aku. Dia sangat menyayangi Habib, hingga tidak ingin mengembalikan Habib kepada Tasya!." Jawab Sintia lalu dia berhenti beberapa saat "yang aku bingungkan lagi, aku haru memberi tahu Tasya atau tidak?"
"Kamu harus melakukan yang terbaik!" Jawab Amar lalu dia memegangi salah satu tangan Sintia dan dia mencium salah satu tangan Sintia. Setalah itu dia tidur dan meninggalkan Sintia yang saat itu tengah berpikir tentang Fian dan Habib.
Tasya yang menyadari ibu mertuanya bersedih mengingat tantang Zaka. Akhirnya dia mencoba menenangkannya ibu mertuanya, dengan cara memegangi kedua lengan ibu mertuanya dengan baik.
"Mama, jangan seperti ini Mah. Kalau Mama terus terusan seperti ini, yang ada Mama akan terus sedih." Ucap Tasya dengan memegangi kedua lengan ibu mertuanya dengan penuh kasih sayang.
Mendengar hal itu, Ibunya terdiam dengan menganggukkan kepalanya. Dia mencoba untuk mengendalikan dirinya.
"Tasya, apakah sudah ada orang yang menghubungi kamu?" Tanya Ibu mertua Tasya dengan baik dan sedih.
"Masih belum ada Mama," jawab Tasya.
Mendengar jawaban dari Tasya Ibu Zaka hanya diam. Dia bangun dari duduknya dan meninggalkan ruangan makan. Beberapa saat kemudian, di susul oleh suaminya yang ingin menenangkan Ibu Zaka. Melihat hal itu, Tasya menangis. Dia tidak bisa berkata kata. Matanya hanya dia penuhi oleh air mata.
Tak berselang lama, ponsel Tasya berbunyi. Saat itu terlihat nomor yang tidak di kenal menghubungi dirinya. Saat itu, Tasya mengira kalau nomor itu adalah nomor dari orang yang membawa Huda.
__ADS_1
"Halo, apa ini Tasya?" Tanya Sintia.
"Iya, ini saya Tasya. Apa kamu membawa Huda? Jika iya aku mohon, tolong ... Tolong kembalikan Huda kepada kami!." Ucap Tasya dengan air mata yang terus mengalir membasahi matanya.
Sintia yang mendengar hal itu dia juga ikut bersedih, matanya berkaca kaca dan di penuhi oleh air mata.
"Aku tidak tahu, aku Sintia Tasya. Teman kamu di masa SMA dulu," jawab Sintia.
Tasya yang mendengar hal itu, dia hanya terdiam. Dia sangat terkejut dengan apa yang di dengarnya.
"Maaf aku kira kamu adalah orang yang membawa anak ku," jawab Tasya dengan baik.
Setalah berbincang bincang selama beberapa saat, akhirnya Tasya dan Sintia bertemu di sebuah restoran yang mana biasa meraka kunjungan dahulu. Saat itu terlihat Sintia duduk di samping suaminya dengan memegang tangan Amar. Beberapa saat kemudian, Tasya datang dan ingin menuju ke meja Sintia. Namum karena dia sudah pangling dengan tampilan Sintia, akhirnya dia menghubungi Sintia yang saat itu berada di dekatnya.
"Hey!" Sapa Sintia untuk memberi tahu Tasya keberadaannya.
Tasya yang menyadari hal itu, dia pun datang ke meja yang di duduki oleh Sintia dan suaminya.
"Aku minta maaf, karena aku telat datang ke mari," ucap Tasya dengan baik.
Saat itu Sintia Hanay tersenyum, dia sangat terkejut melihat Tasya seperti orang yang sedang sakit. Wajahnya pucat dan dia terlihat sangat lemas.
"Are you okay, Tasya ?" Tanya Sintia kepada Tasya.
"Ya, aku baik. Hanya saja semenjak dua hari ini aku tidak bisa tidur dengan tenang!" Jawab Tasya namun tiba tiba dia mual mual. Menyadari hal itu, Tasya pun pergi ke toilet dengan di ikuti oleh Sintia.
Saat berada di toilet, Tasya terus mula tanpa henti. Di luar kamar mandi, Sintia terlihat sangat khawatir dengan Tasya.
"Kamu baik baik saja kan Tasya?" Tanya Sintia di luar kamar.
"Ya, aku baik baik saja!" Jawab Tasya dengan baik di dalam kamar setelah itu dia keluar dari kamar mandi dan menemui Sintia.
__ADS_1
Setelah itu dia mengajak Tasya kembali ke meja ke tempat awal mereka.