Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
36. Di rumah Dokter Afridi


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat akhirnya tibalah Zaka dan yang lainnya di rumah Dokter Afridi. Saat itu Tasya masih tidak dapat berkata kata, duduk di sofa dengan kedinginan dan melamun. Pandangan matanya tampak kosong.


Melihat hal itu Zaka benar benar sedih, dia memeluk Tasya sambil mencoba menyadarkan Tasya dalam lamunannya. Menyadari kekhawatiran Zaka kepada Tasya Dokter Afridi menyadari kalau memang sangat mencintai Tasya.


"Dokter, tolong periksa keadaan Tasya, saya mohon," pinta Zaka kepada Dokter Afridi dengan air mata terus membasahi pipinya.


"Iya, saya akan periksa!" jawab Dokter Afridi.


Saat itu dia berpikir sejenak, dia memikirkan sikap Zaka yang memang mengkhawatirkan Tasya. Setalah memandang Zaka selama beberapa saat Dokter Afridi pun memeriksa keadaan Tasya.


"Dia tidak papa, dia hanya demam dan hanya perlu beristirahat saja."


Mendengar ucapan itu, akhirnya Zaka pun menidurkan Tasya di rumah Dokter Afridi selama beberapa saat.


Ketika Dokter Afridi berada di luar kamarnya, dia tampak terkejut karena dia melihat kalau Sarah berada di rumahnya. Menyadari hal itu Dokter Afridi langsung menarik Sarah menjauhi kamar yang di tempati oleh Zaka dan Sarah.


Saat Dokter Afridi merasa kalau Sarah dan dirinya sudah jauh dari kamar yang di tempati oleh Zaka dan Tasya, dia melepaskan tangan Sarah.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Dokter Afridi dengan tegas.


"Aku ingin bertemu dengan Kakak, apakah tidak boleh aku bertemu dengan Kakak ku sendiri?" jawab Sarah dengan nada kesal.


Plak....

__ADS_1


Suara tamparan terdengar di tempat itu, saat itu Dokter Afridi menampar Sarah dengan sangat keras hingga membuat Sarah hanya dapat memalingkan wajahnya dengan memegangi pipinya yang menerima tamparan dari kakaknya.


"Jangan pernah kamu panggilan aku kakak jika kamu masih menjadi seorang perebut laki orang," ucap Dokter Afridi dengan tegas kepada Sarah dengan sesekali menunjuk nunjuk Sarah.


Mengetahui kalau kakaknya sudah mengetahui rahasia kalau dirinya adalah simpanan dari suami seseorang, Sarah tampak sangat terkejut. Dia bertanya tanya di dalam hatinya tantang bagaimana kakaknya tahu tentang rahasia itu.


"Kamu pasti bertanya tanya kan, bagiamana aku bisa tahu kalau kamu adalah simpanan dari suami orang? Sarah, aku membuat kamu seperti ini bukan untuk menjadi simpanan seseorang, aku ingin kamu menjadi orang pertama yang di cintai oleh seorang laki laki tidak seperti ini!" ucap Dokter Afridi dengan tegas kepada Sarah yang saat itu masih memegangi pipinya yang menerima tamparan dari Dokter Afridi.


"Kak, apa salahnya hal itu? Apa?!!" jawab Sarah dengan nada lantang di hadapan Dokter Afridi. Mendengar jawaban dari Sarah, Dokter Afridi benar benar sangat marah dan murka terhadap Sarah, dia bahkan menampar Sarah untuk kedua kalinya. Sarah yang menyadari hal itu dia tampak sangat terkejut. Dia tidak percaya kalau kakak yang selama ini membesarkan dirinya tanpa orang tua tega menampar dirinya.


"Kakak menampar aku lagi," ucap Sarah dengan tidak percaya.


Setalah itu, dia pergi dengan sedih dari rumah Dokter Afridi. Dia tampak tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh kakaknya. Melihat Sarah pergi dari rumahnya dengan sedih, Dokter Afridi tampak tidak tega, namun dia melakukan hal ini demi kebaikan Sarah sendiri, supaya dia sadar bahwa apa yang di lakukannya adalah perbuatan yang salah dan tidak seharusnya di lakukan.


"Den, apa yang Aden lakukan itu benar. Aden memang harus melakukan hal itu, karena apa yang di lakukan Non Sarah salah, dia memisahkan sepasang kekasih seperti Pak Zaka dan Bu Tasya!" ucap pembantu itu dengan nada rendah.


Mendengar ucapan itu, Dokter Afridi hanya tersenyum kepada pembantu. Dia tidak menjawab sepatah katapun kepada Dokter Afridi. Dia pergi dengan raut muka yang tampak sedih atas apa yang sudah di lakukannya, bahkan ketika dia berpapasan dengan Vira pun dia masih sedih dan tidak mempedulikan Vira karena kesedihan yang di rasakannya.


"Bibi, ada apa dengan Pak Afridi?" tanya Vira dengan polosnya.


"Pak Afridi tidak papa, dia baik baik saja. Hanya saja, dia sekarang masih sedih," jawab pembantu itu dengan baik sambil sesekali membelai Vira. Setalah bercakap cakap selama beberapa saat, pembantu itu meminta Vira untuk segera tidur menyusul Nasya dan ayahnya.


Vira pun ke kamarnya, dia pergi dengan raut muka yang sedih melihat orang orang yang dekat dengan Meraka semua sedih.

__ADS_1


Waktu berlalu begitu cepat, akhirnya pagi hari pun tiba. Tampak Tasya yang tertidur tiba tiba dia terbangun, saat itu dia tidak menyadari kalau Zaka tidur di lantai dan tidak berani tidur di atas tempat tidur bersama dengan dirinya. Ketika dia menyadari, matanya tiba tiba di penuhi oleh air mata. Dia tidak percaya kalau Zaka masih berusaha untuk mempertahankan pernikahan yang dengan Tasya.


"Kenapa kamu melakukan ini Mas? Kenapa kamu ingin mempertahankan hubungan kita jika kamu sudah bahagia dengan wanita lain selain aku? Kenapa?" tanya Tasya dengan nada lirih dan air mata yang mengalir membasahi pipinya.


Beberapa saat kemudian, Zaka mengerakkan tubuhnya. Saat itu Tasya menyadari kalau Zaka akan segera bangu, Menyadari hal itu Tasya menyeka air matanya yang mengalir dan di berpura pura untuk tidur.


Akhirnya Zaka benar benar terbangun dari tidurnya, dia melihat ke arah Tasya dengan raut muka yang sangat lusuh. Dia memegangi tangan Tasya dengan sangat erat dan tiba tiba matanya berkaca kaca.


"Maafkan aku, aku sungguh menyesal atas apa yang sudah aku lakukan. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan lagi, aku mohon maafkan aku!" ucap Zaka dengan sedih dan hanya dapat menundukkan kepalanya.


Mendengar apa yang di katakan oleh Zaka, Tasya sedih. Dia ingin meneteskan air mata namun saat dia ingin membuka matanya, Sarah tiba tiba masuk ke dalam rumah Dokter Afridi dan masuk ke dalam kamar yang di tempati oleh Zaka dan Tasya.


"Kamu harus pergi dari sini, ikut aku pergi dari sini!" ucap Sarah dengan sedih bercampur marah.


Mendengar hal itu, semua orang langsung terbangun tidak terkecuali Dokter Afridi. Dia yang mendengar keributan dari kamar yang di tempati oleh Zakaria, mengira kalau Tasya dan Zaka sedang ribut.


Melihat hal itu, Tasya hanya diam dengan duduk di atas tempat tidurnya.


"Kamu itu apa apaan sih Sarah, aku itu bersama dengan istri ku dan kamu jangan ganggu aku dengan istri ku," jawab Zaka di luar rumah setalah dirinya berhasil melepaskan tangannya dari tangan Sarah.


"Jadi sekarang kamu bilang dia istriku, istriku dan istriku, lalu kenapa Mas? Kenapa sebelum ini kamu janji akan menikahi aku?" jawab Sarah Dangan nada tegas kepada Zaka.


"Apa?! Mas Zaka janji akan menikahi kamu," jawab Tasya dengan sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Sarah.

__ADS_1


Tidak hanya Tasya, Zaka yang mendengar kalau Tasya sudah bangun dia juga sangat terkejut. Dia berbalik dan melihat ke arah Tasya dengan tatapan mata yang terbuka lebar.


__ADS_2