Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
56. Sarah Datang


__ADS_3

Di rumah Zaka, suasana suka menyambut jenazah Zaka tergambar jelas di rumah itu. Saat itu derai air mata dan isak tangis terdengar di sudut ruangan, beberapa saat kemudian Tasya tiba di rumah. Melihat ada bendera kuning, dan orang orang berpakaian hitam. Tasya bergegas turun dari mobil dan dengan marah, dia mengusir orang orang dan meminta mereka untuk pergi dari rumahnya.


Namun saat itu orang orang tidak ingin pergi, melihat hal itu Tasya langsung jatuh tertunduk di tengah jalan dengan derai air mata.


"Mas Zaka tidak meninggalkan, aku mohon kalian pergi dari sini," ucap Tasya dengan lirih.


Saat itu Tasya masih yakin kalau Zaka masih hidup, melihat ketidak ikhlasan Tasya dengan kepergian Zaka, Ibu Zaka yang saat itu berada di dalam rumah. Dia bergegas dan berlari menghampiri Tasya, setalah itu dia memeluk Tasya dengan sangat erat dengan air mata yang terus membasahi matanya.


"Kamu tenang Tasya, kamu harus menerima nya. Ini adalah takdir dari Tuhan, kamu harus ikhlas menerimanya!" ucap Ibu Zaka dengan memeluk erat Tasya dengan berlinang air mata.


Tasya yang menerima pelukan dari Ibu Zaka, dia terlihat lebih tanang, namun air matanya terus mengalir membasahi matanya.


"Tidak mungkin Mama, tidak mungkin Mas Zaka pergi meninggalkan aku, dia masih hidup," jawab Tasya dengan air mata yang terus mengalir membasahi matanya.


"Kamu harus kuat, kamu harus menjadi ibu yang kuat untuk Huda. Walaupun Huda masih belum di ketahui keberadaan, jangan lemah," jawab Ibu Zaka.


Mendengar apa yang di katakan oleh ibu mertuanya, Tasya berhenti menangis. Dia menghapus air matanya yang terus berderai membasahi matanya. Dia meminta ibunya untuk melepaskan pelukannya dan kemudian bangun dari duduknya di tangan jalan dan dengan tatapan mata yang tajam dia pergi menuju ke kamarnya.


Ketika dia sudah berada di dalam kamarnya dia mengunci rapat pintu kamarnya, dia tampak tidak mempedulikan suara ketukan pintu yang di lakukan oleh ibu mertuanya.


Beberapa saat kemudian, mayat Zaka tiba. Terlihat semua orang yang berkerja di rumah Zaka banjir air mata. Tidak hanya para karyawan, orang tua Zaka pun juga tidak percaya dengan kepergian anak laki lakinya. Mereka menyambut kepergian Zaka dengan tangis histeris yang tergambar jelas di raut muka mereka berdua.

__ADS_1


Ketika mayat sudah di letakkan di lantai dengan alasan tempat tidur dan sudah di kafani. Tiba tiba terdengar suara seseorang membuka pintu, setelah itu Tasya keluar dari kamarnya dengan pakaian serba hitam. Dia tampak tidak sedih, setalah melihat jenazah suaminya terbaring di lantai berbalutkan kain kafan.


Dia menatap tajam suaminya, dan setelah itu dia duduk di samping ibu mertuanya.


Saat itu melihat kesedihan Tasya, Vira tampak sedih. Dia mencoba menghampiri Tasya dan memeluk Tasya untuk menguatkan Tasya. Tasya yang menyadari hal itu, dia pun membalas senyuman kepada Vira dan setalah itu dia membalas pelukan Vira dengan sentuhan lembut seorang ibu dan senyum kecil di bibirnya.


"Tante yang kuat ya, Vira tahu Tante adalah wanita kuat, " ucap Vira dengan nada lirih dan berbisik di dekat telinga Tasya. Tasya yang mendengar hal itu hanya membalas senyuman kepada Vira, setalah itu dia meminta Vira untuk duduk di sampingnya.


Di luar rumah terlihat, Sarah berdiri sebrang dengan pandangan mata yang terus melihat ke arah rumah Zaka yang di penuhi oleh orang yang memakai baju hitam. Saat itu matanya di penuhi oleh air mata yang terus membasahi matanya.


Dia tampak ingin pergi ke rumah Zaka, namun dia takut untuk menemui Tasya.


"Maafkan aku Pak Zaka, gara gara aku semua ini terjadi!" ucap Sarah dengan menyesal dan sedih.


Setalah Afridi menerima bisikan dari Scurity itu, dia bergegas keluar dari rumah bersama dengan si scurity itu.


Ketika dia sudah berada di luar rumah, Afridi tampak sangat terkejut karena dia memang melihat Sarah berada di sebrang jalan. Menyadari kakaknya keluar dari rumah dan menghampiri dirinya, Sarah tampak kabur. Dia berlari sekuat tenaga untuk menjauhi kakaknya, namun tenaga laki laki dan perempuan yang berbeda. Usahanya untuk kabur dan menjauhi Afridi tidak berhasil dia berhasil tertangkap oleh Afridi.


"Sarah, mau lari kemana kamu?" tanya Afridi dengan raut muka yang tampak sangat marah dengan Sarah.


"Kak, aku mohon maafkan aku. Tolong jangan marah dengan aku, aku hanya ingin melayat saja ," jawab Sarah dengan sedih dan berbalik melihat ke arah kakaknya.

__ADS_1


Mendengar apa yang di katakan oleh Sarah, Afridi semakin marah dia berlari dan memegangi salah atau tangan Sarah agar dia tidak berlari.


"Dimana Huda sekarang?" tanya Afridi dengan sangat tegas dan memegangi kedua lengan Sarah dengan sangat erat.


Mendengar pertanyaan dari kakaknya, Sarah hanya diam. Dia tidak mengatakan sepatah katapun. Dia hanya menundukkan kepalanya di hadapan kakaknya.


"Dimana Sarah?!" bentak Afridi kepada Sarah.


Sarah yang menerima bentakan itu, dia menatap tajam kakaknya dan dengan tanpa ragu dan tegas. Dia menjawab kakaknya.


"Dia ada di tempat yang aman, di mana kakak ataupun Bu Tasya tidak akan menemukan dia!" ucap Sarah dengan tegas.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Sarah Afridi terlihat sangat marah, dia memegang erat kedua lengan Sarah. Sarah yang merasakan hal itu dia hanya mengerang kesakitan dan meronta meminta untuk tangan kakaknya melepaskan kedua lengannya, namun saat itu Afridi tidak ingin melakukan hal itu. Di waktu yang bersamaan, keberangkatan Zaka ke pemakaman pun terjadi.


Menyadari hal itu, Afridi menarik Sarah untuk bersembunyi. Dia tidak ingin membuat keributan saat keberangkatan Zaka ke pemakaman.


"Kakak kenapa mengajak aku bersembunyi? Aku ingin ikut ke pemakaman Kak," ucap Sarah dengan tegas kepada Kakaknya.


"Tidak sekarang Sarah, aku tidak ingin ada keributan di pemakaman Zaka. Kamu paham kan?" jawab Afridi dengan nada tegas dan marah kepada Sarah. Sarah yang menyadari hal itu pun akhirnya dia diam dan hany memandang Zaka yang sudah berangkat ke pemakaman dengan diikuti oleh orang orang yang melayat di waktu itu.


"Maafkan aku Mas," ucap Sarah dengan pandangan tidak berpaling sedikitpun dari hadapan keranda Zaka. Matanya terlihat sedih dan di penuhi oleh air mata.

__ADS_1


Mendengar apa yang di katakan oleh Sarah, Afridi sangat marah. Dia memegangi salah satu tangan Sarah dengan menatap tajam Sarah.


"Permintaan maaf kamu itu sudah tidak berguna, kamu paham?" ucap Afridi lalu dia mengajak Sarah keluar dari persembunyiannya dan pergi ke tempat lain.


__ADS_2