
Malam hari, Sintia terlihat berusaha untuk tidur. Namun, saat itu dia tidak bisa tidur karena dirinya terus menerus memikirkan cerita sedih yang di jelaskan oleh Tasya. Dia sangat tidak tenang, ada sebuah perasaan yang menganggu di pikirannya.
Menyadari hal itu Amar berusaha untuk menenangkan Sintia, dia mendudukkan Sintia yang saat itu berbaring di atas tempat tidur.
"Ada apa? Apa kamu kepikiran tantang Tasya?" Tanya Amar dengan baik.
Mendengar pertanyaan dari Amar, Sintia hanya diam. Dia hanya menganggukkan kepalanya dengan air mata yang terus berderai.
"Kalau kamu masih kepikiran dengan apa yang di ceritakan oleh Tasya, mungkin kita harus coba bujuk Fian. Atau, mungkin kita pertemuan Fian dengan Tasya, bisa jadi jika kita melakukan hal ini makan Fian akan berubah pikiran," ucap Amar.
Mendengar apa yang di katakan oleh suaminya, Sintia terdiam. Dia hanya memandang ke arah suaminya dengan tatapan mata yang tajam.
Keesokan harinya, Sintia sudah bersiap untuk ke rumah Fian. Dia akan pergi bersama dengan sang suami.
Tak berselang lama, Amar dan Sintia sampai di rumah Fian. Melihat kehadiran Amar dan Sintia, Fian sudah tidak bersikap baik. Dia sangat marah dan kesal kepada mereka. Dia mengusir mereka berdua sebelum mereka menjelaskan apa tujuannya datang ke rumah Fian.
Ketika Fian mengusir Amar dan Sintia, Ibu Fian datang dan menghentikan Fian. Dia meminta Fian untuk masuk ke dalam rumah menemani Huda, sedangkan dirinya menemui Amar dan Sintia.
Setalah Fian pergi ke kamarnya, Ibu Fian meminta Amar dan Sintia duduk di kursi ruangan tamu.
"Tante, maafkan kami. Kami membuat keributan di malam hari seperti ini," ucap Sintia dengan sedikit menyesal.
"Tidak papa Sintia, ngomong ngomong. Apa tujuan kalian hingga membuat kalian datang ke sini pagi hari seperti ini? Apa ada yang bisa Tante bantu?" Jawab Ibu Fian dengan baik. Setalah itu dia meminta pembantu yang bekerja di rumahnya untuk membuatkan minuman untuk mereka berdua.
"Tante, tujuan saya kemari saya ingin mengambil Habib Tante," ucap Sintia.
__ADS_1
Mendengar apa yang di katakan oleh Sintia, Ibu Fian sangat terkejut. Dia bangun dari duduknya dengan raut muka marah.
"Kalau memang tujuan kalian itu, maka kalian lebih baik pergi dari sini!" Bentak Ibu Fian.
"Tante, dengarkan saya dulu. Saya mengambil Habib. bukan karena saya ingin mengasuhnya, saya melakukan ini karena saya tahu Siapa Habib dan dari mana asalnya. Saya ingin mengembalikan Habib kepada ibunya, Tante."
Mendengar apa yang di katakan oleh Sintia, Ibu Fian yang saat itu marah. Perlahan emosinya mulai mereda, dia kembali duduk di sofa di hadapannya Sintia dan Amar.
"Siapa Habib sebenarnya?" Tanya Ibu Fian.
Mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Ibu Fian, Sintia mengeluarkan ponselnya yang memperlihatkan foto brosur pencarian anak hilang. Ketika melihat foto di ponsel Sintia, Ibu Fian sangat terkejut. Dia benar benar tidak percaya kalau apa yang di katakan oleh Sintia adalah kebenaran.
"Jadi, Habib adalah Huda!" Ucap Ibu Fian dengan sedih bercampur tidak percaya.
"Iya Tante, dan wanita yang menaruh Habib di rumah Fian namanya adalah Sarah, dia adalah selingkuh dari suami teman saya yang bernama Tasya!."
Mendengar apa yang di inginkan oleh Ibu Fian, akhirnya Sintia pun menjelaskan awal pertama dia melihat brosur itu hingga pertemuan Tasya. Dia juga menceritakan kepada Ibu Fian tentang Tasya yang baru saja kehilangan suaminya akibat dari Sarah yang membawa pergi Huda.
Saat itu Ibu Fian hanya diam, dia hanya sedih mendengar cerita yang di jelaskan oleh Sintia.
Setalah panjang lebar bercerita tentang Tasya, akhirnya cerita itu pun berakhir. Setalah cerita berakhir, Sintia mendekati Ibu Fian. Dia duduk di samping ibu Fian dan meyakinkan Ibu Fian untuk membantu dirinya mengambil Habib dari Fian.
"Saya tahu ini berat untuk Tante, tapi saya mohon dengan Tante. Saya mohon Tante, tolong bantu saya untuk menyakinkan Fian. Saya sayang dengan Fian, namun saya juga kasihan dengan Tasya. Tante ... Tante adalah seorang wanita, Tante tahu rasanya ketika jauh dari anak, saya mohon Tante tolong bantu saya!" Pinta Sintia dengan baik kepada Ibu Fian.
Melihat hal itu, Ibu Fian hanya diam, dia hanya memandang ke arah Sintia yang menangis tersedu sedu di hadapan nya.
__ADS_1
"Tante akan coba Sintia, Tante akan coba untuk meyakinkan Fian. Tapi maafkan Tante, Tante tidak bisa berjanji dengan kamu!."
Waktu berlalu begitu cepat, akhirnya Sintia dan Amar pun pulang setelah membujuk Ibu Fian. Dia terlihat sangat bahagia, karena Ibu Fian sudah mau membujuk Fian.
Setalah melihat Sintia pergi, Ibu Fian pergi menuju ke kamar Fian. Saat itu dia melihat Fian berada di depan laptopnya.
"Fian," panggil Ibu Fian kepada Fian .
Saat itu Fian hanya diam mendengar panggilan ibunya, dia hanya menutup laptopnya dan pergi ke samping Habib.
Melihat hal itu Ibu Fian semakin mendekati Fian. Dia memegangi Fian dan mencoba meyakinkan Fian dengan apa yang di katakan oleh Sintia dan Amar.
"Fian, apa yang di inginkan oleh Sintia dan Amar itu benar, seorang wanita atau seorang ibu, dia tidak akan bisa jauh dari anaknya!. Apakah kamu mau menjadi orang jahat? Kamu memisahkan Ibu dan anak Fian, ibu mohon dengan kamu tolong kembali kan anak itu kepada Tasya!."
Mendengar hal itu, Fian hanya diam. Dia justru menutupi telinganya dengan sebuah bantal. Menyadari hal itu Ibu Fian pun pergi dengan tangan kosong. Dia tampak sedih dengan sikap Fian yang sangat egois.
Setalah menyadari ibunya pergi Fian pun membuka bantalnya. Dia terlihat sedih dengan apa yang sudah di katakan oleh ibunya, namun apa boleh buat. Dia sangat menyayangi Habib, dan dia tidak ingin memisahkan Habib dengan dirinya.
"Maafkan aku ibu, aku melakukan ini karena aku tidak ingin kehilangan Habib, aku mohon dengan ibu maafkan aku!" Ucap Fian dengan lirih.
Setelah itu dia bangun dari tidurnya. Dia pergi dan duduk di sudut ruangan dengan hati yang bingung. Dia bingung harus mengembalikan Habib ke orang tuannya atau justru dia menahan Habib.
Saat itu dia selalu teringat dengan apa yang di katakan oleh ibunya sebelum ibunya pergi dari kamarnya, tidak hanya mengingat hal itu. Dia juga mengingatkan kenangan saat bersama dengan Habib.
Malam itu adalah malam yang kelam bagi Fian, dia tidak tahu harus melakukan apa untuk kebaikan Habib dan dirinya.
__ADS_1
Setalah beberapa saat bersedih di sudut ruangan, tiba tiba Fian bangun dari duduknya dan menghampiri Habib yang tertidur pulas di atas tempat tidur. Dia memandang Habib dengan air mata yang terus mengalir membasahi matanya.
"Papa tidak ingin kehilangan kamu Habib," ucap Fian dengan sedih.