Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
6. Hari pertama kerja


__ADS_3

Keesokan harinya, Sarah keluar dari kamarnya. Dia memakai jeans ketat berwarna hitam dan sebuah baju dengan tas kecil.


Dia sangat bahagia karena hari ini adalah hari yang sangat indah. Di hari ini adalah hari pertama dirinya kerja. Kebahagiaannya sangat tiada tara.


"Hari ini adalah hari yang sangat bahagia dalam hidup ku, walaupun hanya sekedar bekerja menjadi seorang office girl. Aku sangat bahagia, semoga pekerjaan ini adalah pekerjaan yang bisa membahagiakan. Terimakasih Tuhan, aku harus semangat hari ini," ucap Sarah dengan penuh semangat.


Setelah dia keluar dari kamarnya, Bu Asri menyambut Sarah dengan senyum kecil.


"Selamat pagi, Sarah. Hari ini adalah hari yang sangat bahagia, semoga kamu bisa betah kerja di sana," ucap Bu Asri dengan sangat bahagia melihat kebahagiaan Sarah.


Mendengar apa yang di katakan oleh Bu Asri, Sarah hanya diam dengan senyum kecil di bibirnya.


Waktu berlalu begitu cepat, akhirnya Sarah tiba di tempat kerjanya.


Sesampainya di tempat kerja, Sarah melihat ke arah kantor dengan senyum kecil di bibirnya. Dia menghela nafas berat dan pergi untuk memulai bekerja.


Ketika dia berada di dalam kantor, seorang laki laki tampan dengan pakaian jas berwarna hitam menghampiri Sarah. Dia menyambut Sarah dengan sangat ramah.


"Apa kamu Sarah?" tanya laki laki itu.


Mendengar apa yang di tanyakan oleh laki laki itu, Sarah tersenyum.


"iya Pak, saya Sarah. Saya office girl yang baru ," jawab Sarah.


Mendengar perkenalkan dari Sarah, laki laki itu mengulurkan tangannya. Dia memperkenalkan dirinya kepada Sarah. Saat itu, Sarah benar benar tidak percaya kalau laki laki yang menghampiri dirinya adalah pemimpin dari perusahaan tempat dirinya bekerja.


"Nama saya Rey, saya pemilik perusahaan ini. Dan selamat bergabung untuk kamu, " ucap Rey menyambut kedatangan Sarah.

__ADS_1


"Terimakasih Pak," jawab Sarah dengan bahagia.


Beberapa saat kemudian, seorang wanita datang menghampiri Rey yang berdiri di hadapan Sarah. Wanita itu adalah Putri, calon istri dari Rey.


"Ehm .. Kenapa kamu masih di sini? Heh, pergi sana. Jangan ganggu calon suami saya," ucap Putri dengan nada sinis kepada Sarah.


Sarah yang melihat hal itu, dia hanya diam dengan kepala yang hanya menunduk tanpa mengatakan sepatah kata. Ketika dia menjauhi Rey dan Putri, seorang laki laki datang menghampiri Sarah. Dia bernama Ahmad. Dia menghampiri Sarah dan mengajak Sarah bergegas pergi ke tempat kerja. Dia menarik Sarah dengan sangat kasar, bukan Ahmad membenci Sarah. Namun dia melakukan hal itu karena dia tidak ingin Sarah terkena semprotan dari Putri lebih parah lagi.


Saat itu, Sarah hanya diam. Ketika Ahmad sudah mengajak Sarah masuk ke dalam tempat kerjanya, Ahmad melepaskan tangannya yang memegangi tangan Sarah dengan sangat erat.


"Aku minta maaf karena aku kasar dengan kamu, aku melakukan ini bukan karena sebab. Aku melakukan ini karena aku tidak ingin kalau kamu terkena hinaan dari Putri!."


Mendengar apa yang di jelaskan oleh Ahmad, Sarah yang saat itu marah. Akhirnya dia pun luluh dan tidak marah lagi, dia bahkan berterima kasih kepada Ahmad walaupun dia masih belum mengetahui siapa nama laki laki yang di hadapan tersebut.


"Terimakasih kamu sudah menyelamatkan aku, maafkan aku kerana aku punya pemikiran buruk tentang kamu," ucap Sarah dengan sangat baik.


"Nama ku Ahmad," ujar Ahmad memperkenalkan dirinya.


Mendengar hal itu, dengan baik Sarah pun membalas uluran tangan dari Ahmad dan dia mengenalkan dirinya kepada Ahmad.


Semenjak hari itu, Sarah dan Ahmad menjadi teman baik. Tidak hanya Ahmad dengan Sarah, begitu pula Rey yang juga semakin dekat dengan Sarah semenjak Sarah bekerja di kantornya.


Waktu berlalu begitu cepat, malam hari pun tiba dan Sarah terlihat sudah bersiap untuk pulang dari tempatnya bekerja. Namun ketika dia sudah keluar dari kantornya. Sarah terlihat tidak melihat kendaraan apapun, menyadari hal itu akhirnya mau tidak mau Sarah pun jalan kaki menuju ke rumah Bu Asri.


Saat baru beberapa langkah dari tempat kerjanya, Ahmad menghampiri dirinya dengan motor bebek yang dia pakai. Dia mengajak Sarah untuk pulang dengan dirinya, namun saat itu Tasya terus menolak.


"Ayolah Sarah, aku akan antar kamu ke rumah kamu. Lagian, kalau kamu tidak pulang dengan aku apa kamu akan terus jalan kaki? Ini sudah malam Sarah," ucap Ahmad.

__ADS_1


Akhirnya Sarah pun mau untuk pulang dengan Ahmad. Walaupun dia sebenarnya takut jika ada seseorang yang marah dengan dirinya.


"Mas, aku terima kasih ya karena kamu sudah mau mengantarkan aku ke rumah ku," ucap Sarah dengan baik.


"Iya sama sama," jawab Ahmad. "Oh iya, kalau aku antar kamu pulang, kira kira ada yang marah atau tidak?"


Mendengar ucapan itu, Sarah terdiam. Dia hanya melihat ke arah Ahmad.


"Seharusnya aku yang tanya ke Mas, kalau mas mengantarkan aku, kira kira nanti ada yang marah atau tidak? Aku takut jika ada yang marah," jawab Sarah.


Mendengar apa yang di katakan oleh Sarah, Ahmad hanya tertawa terbahak bahak.


"Kamu jangan khawatir, aku masih sendiri. Aku tidak menikah atau punya hubungan dengan siapapun, jadi kamu jangan khawatir. Di rumah ku tidak akan mungkin ada yang marah jika aku terus mengantarkan kamu," jawab Ahmad dengan senyum kecil di bibirnya.


Mendengar apa yang di katakan oleh Ahmad, Sarah hanya tersenyum. Dia seperti terhibur dengan hadirnya Ahmad di hidupnya.


Beberapa saat kemudian, Sarah sampai di rumah Bu Asri. Melihat Sarah pulang di antarkan oleh seorang laki laki. Bu Asri hanya diam dengan melihat Sarah dari dalam rumah.


"Ya sudah aku pulang dulu, lain kali saja aku mampir ke rumah kamu!" ucap Ahmad dengan cengengesan.


Mendengar hal itu, Sarah hanya tersenyum kepada Ahmad. Dia benar benar sangat bahagia mendengar apa yang di katakan oleh Ahmad.


"Mas bisa saja, padahal aku tidak mengajak Mas mampir ke rumah ku, tapi Mas sudah bilang seperti ke aku, aku bener benar tidak percaya," jawab Sarah.


"Iya aku itu seorang peramal, tentunya aku pasti tahu apa yang ada di isi pikiran kamu," jawab Ahmad lalu dia terdiam dengan senyum. Setalah beberapa saat terdiam, Ahmad berpamitan kepada Sarah kalau dirinya akan pergi pulang ke rumahnya.


Mendengar hal itu, Sarah pun mengizinkan Ahmad untuk pulang. Dia hanya tersenyum dengan melambaikan tangannya kepada Ahmad yang pergi dari rumah Bu Asri.

__ADS_1


__ADS_2