Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
25. Akan Pergi


__ADS_3

"Mas tidak papa kan?" Tanya Tasya kepada Zaka dengan membantu Zaka untuk duduk di kursi di ruang makan.


"Iya, aku tidak papa. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Mama bisa sangat marah dengan aku?" Jawab Zaka dengan baik setelah dia duduk di kursi ruang makan.


Mendengar ucapan itu, Tasya hanya diam selama beberapa saat. Setalah itu dia melanjutkan melakukan kegiatannya di mana dirinya mengambil kompres untuk mengompres luka suaminya.


Ketika dia sudah mengambil kompres, Tasya mengompres pipi Zaka yang saat itu baru saja menerima tamparan dari ibunya.


"Mas, kamu jangan marah ya dengan Mama. Selama beberapa hari ini dia selalu khawatir dengan kamu," ucap Tasya dengan mengompres.


"Khawatir kenapa? Aku kan baik baik saja," jawab Zaka dengan sesekali merintih kesakitan.


Mendengar ucapan itu, Tasya terdiam. Dia memandang ke arah Zaka yang saat itu duduk di hadapannya.


"Bukan itu yang dikhawatirkan Mama," jawab Tasya dengan lirih.


"Apa kamu mengatakan sesuatu?" Ucap Zaka.


"Tidak."


Setalah hal itu Tasya meminta Zaka untuk mengobati luka nya sendiri, sedangkan dirinya ingin membersihkan meja makan.


Waktu berlalu begitu cepat, terlihat Zaka sudah bersiap untuk tidur. Dia sudah terbaring di atas tempat tidur dengan memandang ke arah langit-langit rumahnya.


Beberapa saat kemudian, Tasya datang ke kamar, setalah itu dia duduk di samping suaminya.


"Mas belum tidur?" Tanya Tasya dengan baik.


"Belum, aku menunggu kamu!" Jawab Zaka dengan tersenyum kecil di bibirnya. Setalah itu dia membaringkan kepalanya dia atas paha Tasya.


Dia masih melihat ke arah langit langit rumah. Melihat hal itu, Tasya membelai perlahan Zaka.


"Sayang, sebenarnya apa yang kamu rasakan ketika aku mengatakan ingin pergi ke luar kota dengan Sarah?" Tanya Zaka kepada Tasya dengan mengarahkan ke arah Tasya. Mendengar pertanyaan itu, Tasya langsung terdiam. Dia terlihat tidak setuju dengan hal itu, namun dia menyadari kalau ini adalah urusan pekerjaan maka dia harus menyetujuinya.


"Apa yang harus aku katakan Mas, ini adalah pekerjaan kamu. Dan ... Dan Sarah, dia adalah sekertaris kamu. Maka wajar jika dia harus selalu bersama dengan kamu," jawab Tasya dengan nada rendah.


Mendengar ucapan itu, Zaka hanya diam. Dia hanya tersenyum kepada Tasya.

__ADS_1


Waktu berlalu begitu cepat, terlihat Tasya tidur dengan menyandarkan tubuhnya sedangkan Zaka tidur dengan menggunakan bantal paha Tasya.


Menyadari kalau lagi sudah datang, Tasya membangunkan Zaka untuk mempersiapkan barang barang yang akan di bawa oleh Zaka ke luar kota dengan Sarah.


Ketika semua barang sudah di persiapkan, Zaka pun sudah siap dengan menggunakan jas berwarna hitam. Dia keluar dari kamar untuk sarapan pagi bersama dengan keluarganya.


Saat dia berada di ruang makan, ibunya terlihat masih marah dengan Zaka. Melihat Zaka yang datang ke ruang makan, dia terus makan tanpa memperhatikan kehadiran Zaka.


"Zaka, hari kamu jadi pergi ke luar kota?" Tanya Ayah Zaka setelah melihat Zaka duduk di ruang makan.


"Jadi Ayah, aku akan pergi nanti!" Jawab Zaka. Mendengar jawaban itu Ibu Zaka terdiam, dia menghentikan tangannya yang mengerakkan sendok ke mulutnya.


Ibu Zaka semakin marah, dia menjatuhkan sendoknya hingga mengeluarkan bunyi. Setalah itu dia bangun dari duduknya dan pergi dari ruang makan dengan tanpa mengatakan sepatah katapun.


Melihat hak itu, Zaka hanya diam. Dia terlihat sangat heran dengan sikap ibunya, tidak hanya Zaka, Tasya pun juga merasakan hal yang sama. Di saat itu dia menyadari kalau ibu mertuanya masih marah dengan suaminya.


"Papa, ada apa dengan Mama?" Tanya Zaka kepada ayahnya.


Mendengar pertanyaan itu, Ayahnya hanya menggelengkan kepalanya.


Menyadari hal itu, Zaka bangun dari duduknya untuk makan pagi. Dia pergi menuju ke kamar ibunya.


Melihat hal itu, Zaka duduk bertekuk lutut di hadapannya. Dia memegangi tangan ibunya dengan penuh kasih sayang.


"Ada apa Mama? Kenapa Mama bersikap seperti ini?" Tanya Zaka dengan sedih kepada ibunya.


Mendengar pertanyaan itu, Ibu Zaka melihat Zaka dengan penuh air mata. Dia membangunkan Zaka duduk bertekuk lutut di hadapannya.


"Kenapa kamu masih bertanya hal ini Zaka? Mama sudah jelaskan ke kamu, Mama tidak mau masa lalu terulang lagi. Tapi apa yang Mama lakukan, tidak akan pernah berhasil. Masa lalu memang benar benar akan terjadi," jawab Ibu Zaka dengan air mata terus mengalir membasahi pipinya.


"Mama, dengarkan Zaka. Zaka janji dengan Mama, masa lalu ayah dulu tidak akan terulang lagi di masa kini.


Zaka janji, Zaka akan setia dengan Tasya. Mah, aku pergi ke luar kota hanya untuk bekerja, aku tidak melakukan hal hal aneh lainnya!" Ucap Zaka untuk menegaskan kepada ibunya kalau dia tidak akan macam macam dengan Sarah.


Mendengar hal itu di ucapkan Zaka dengan sangat tulus, akhirnya dengan berat hati Ibu Zaka menerima apa yang di ucapkan oleh Zaka. Dia menerima kalau Zaka akan pergi ke luar kota dengan Sarah.


"Kamu janji kan dengan Mama, kamu janji tidak akan melakukan seperti apa yang ayah kamu lakukan dulu," ucap Ibu Zaka dengan sedih.

__ADS_1


Zaka yang mendengar ucapan itu, dia terdiam beberapa saat dan kemudian menganggukkan kepalanya dengan mengatakan janji kepada ibunya.


Di luar kamar, terlihat ponsel Zaka berbunyi. Menyadari kalau Zaka masih berada di dalam kamar, Tasya pun mengangkat panggilan itu.


"Halo, Mas Zaka. Kapan Mas Zaka datang?" Tanya seorang wanita yang saat itu suaranya terdengar seperti suara Sarah. Mendengar Sarah memanggil Zaka dengan sebutan Mas Zaka bukan Pak Zaka, Tasya sangat terkejut. Dia benar benar tidak percaya kalau Sarah memanggil Zaka seperti itu.


"Mas Zaka?" Jawab Tasya dengan sangat terkejut dan dia terlihat sangat marah dengan apa yang di dengarnya.


"Maaf Bu Tasya, saya tidak tahu kalau ini adalah Bu Tasya, saya kira Pak Zaka," jawab Sarah dengan terkejut.


"Ya, tidak papa."


Setelah menjawab hal itu, Sarah mematikan panggilannya dan Tasya menaruh kembali ponsel Zaka di atas meja.


Beberapa saat kemudian Ibu Zaka dengan Zaka keluar dari kamar, saat itu Tasya terlihat sangat bahagia kerana ibunya sudah akur dengan Zaka.


Mereka berdua pun kembali duduk di kursi masing masing. Saat Zaka sudah duduk di kursi ruangan makan, Tasya duduk di dekat Zaka dengan menyiapkan makanan untuk Zaka. Saat itu wajahnya terlihat tertekuk, setelah mendengar ucapan Sarah yang menyebut Zaka *Mas Zaka* bukannya *Pak Zaka*.


"Jadi dia selalu memanggil kamu Mas?" Tanya Tasya kepada Zaka dengan nada serius.


Mendengar ucapan itu, Zaka yang saat itu ingin melahap makanannya, langsung terhenti.


"Apa maksudnya Tasya?" Jawab Zak dengan kebingungan. Tidak hanya Zaka, ibu dan ayah mertua nya pun juga terlihat kebingungan dengan yang di katakan oleh Tasya.


Setalah mendengar ucapan itu, Tasya menaruh nafas dalam, lalu dia menghembuskan nafasnya secara perlahan.


"Mas, aku bisa tanya sesuatu ke kamu."


"Iya, tentu. Ada apa Tasya?" Jawab Zaka dengan semakin kebingungan.


"Apa alasan sekertaris kamu memang kamu Mas Zaka bukannya Pak Zaka?" Tanya Tasya dengan nada serius.


Mendengar ucapan Tasya, Ibu Zaka dan suaminya terlihat terkejut, begitupula Zaka.


"Apa?!! Tunggu Tasya, apa maksud kamu Sarah memanggil Zaka dengan sebutan Mas Zaka?" Sahut ibu Zaka dengan merasa tidak percaya.


"Iya Mama, itu yang aku dengar dari mulut sekertaris Mas Zaka yang cantik itu!" Jawab Tasya, lalu dia bangun dari duduknya dan pergi dari ruangan makan.

__ADS_1


Mendengar ucapan itu, Zaka tidak langsung mengejar Tasya. Dia masih duduk dengan terkejut, setalah itu dia mengambil ponselnya dan memeriksa panggilan sebelumnya.


Ketika dia sudah memeriksa panggilan masuknya, dia sangat terkejut karena dia melihat panggilan masuk dengan nama Sarah di ponselnya.


__ADS_2