Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
14. Masuk rumah sakit


__ADS_3

Di rumah, Tasya terlihat tidak tenang. Di dalam kamarnya, dia berjalan ke sana kemari dengan wajah yang cemas, namun dia tidak mengetahui apa yang membuat dirinya cemas.


Beberapa saat kemudian, Ibu mertua Natasya menghampiri Natasya yang berada di dalam kamarnya. Ketika dia melihat Natasya gelisah dan cemas, ibu mertua nya menghampiri Natasya.


"Ada apa Tasya? Kamu baik baik sajakan?" Tanya Ibu mertuaku dengan baik.


Mendengar pertanyaan itu, aku menghentikan langkah ku dan aku menghampiri ibu yang saat itu berdiri tidak jauh dari diri ku.


Setalah aku menghampiri ibu mertuaku, aku mengajak ibu mertuaku duduk di atas tempat tidur yang saat itu sudah tertata rapi.


Aku memegang tangan ibu mertuaku dengan erat ketika aku dan ibu mertuaku sudah duduk berhadapan hadapan.


"Ada apa Tasya? Cerita dengan ibu, apa yang sedang terjadi hingga membuat kamu seperti ini?" Tanya ibu mertuaku lagi untuk menegaskan bahwa tidak terjadi sesuatu dengan Tasya.


" Mama, aku akan cerita dengan Mama. Aku sebenarnya khawatir dengan seseorang Mama," jawab ku dengan nada lirih dan ku tatap mata ibu mertuaku selama beberapa saat. Setalah melakukan itu aku memalingkan wajah ku dari hadapan ibu mertuaku dengan memikirkan Vira.


"Siapa yang kamu maksud? Apa orang tua kamu?" Jawab Ibu mertua.


Mendengar ucapan itu, aku menggelengkan kepala ku dan ku bangun dari duduk ku. Setalah itu aku menceritakan kepada ibu mertua ku tentang pertemuan ku dengan Vira . Selain itu, aku juga bercerita kepada Ibu mertuaku tentang semua kejadian yang pernah terjadi di rumah Vira beberapa hari yang lalu.


"Itulah Mah yang aku khawatir, aku khawatir dengan keadaan Vira. Tapi entah, apa yang membuat aku bisa seperti ini? Padahal, aku dan dirinya bukan ibu dan anak." Ucap ku dengan heran, lalu ku duduk kembali di samping ibu mertua ku dengan ku pegang kedua tangan ibu mertuaku.


"Apa maksudnya semua ini Bu? " Tanya ku kepada ibu mertuaku.


Mendengar hal itu, ibu mertua ku hanya diam. Dia melepaskan tanganku yang memegangi tangannya dan dia meletakkan tangannya di kepalaku. Dia membelai halus kepala ku.


"Itulah yang namanya ikatan tanpa hubungan. Hal itu membuat kamu bisa merasakan kecemasan dan kekhawatiran kepada seseorang yang orang itu saja tidak memiliki hubungan dengan kamu. Terkadang, hal ini bisa membuat kamu merasakan apa yang di rasakan oleh orang yang kamu sayangi tersebut. Contohnya, mungkin kamu merasakan kalau anak yang kamu sayangi itu sedang bahagia atau sedih!" Terang ibu mertuaku dan kemudian di melanjutkan tersenyum kepada diriku.

__ADS_1


Mendengar penjelasan dari ibu mertuaku aku hanya diam dengan mata yang di penuhi oleh air mata.


"Mungkin, Tuhan ingin kamu membantu anak itu. Makanya, dia memberi kamu hal ini," ucap lanjut ibu mertua ku lalu ia melepaskan tangannya yang membelai kepalaku.


"Mama, aku mau tanya dengan Mama. Apa jika aku terus memikirkan anak itu, Mama akan marah dengan aku?" Tanya ku kepada ibu mertuaku.


"Untuk apa Mama marah, ini juga bisa menjadi keuntungan kamu. Maksudnya, dengan kamu dekat dengan anak itu, mungkin kamu dan Zaka akan segera memiliki anak!."


"Maaf ya, Mah. Maafkan aku karena aku masih belum bisa memberi Mama cucu," jawab ku dengan nada rendah dan lirih.


Mendengar ucapan itu, ibu mertua ku kembali memegangi kepalaku dan dengan perlahan dia mencium kening ku.


"Kamu tidak perlu minta maaf, mungkin Tuhan masih belum memberi kamu kesempatan itu. Tuhan akan memberikannya segera, Mama yakin itu!" Jawab ibu mertua dengan baik lalu ia tersenyum kepada ku.


Setelah berbincang bincang akhirnya aku dan ibu mertua ku pergi keluar kamar untuk melakukan makan pagi bersama sama.


Namun, saat itu dia tidak ingin putus asa. Akhirnya dia pun terus menerus berusaha untuk menjual kue kue itu agar lekas habis.


Ketika dia berada di jalan raya, kepalanya terasa semakin sakit. Dia yang sudah tidak kuat menahan rasa sakit itu, akhirnya ketika berjualan dia pun pingsan hingga membuat satu kotak kue itu jatuh berserakan dan Vira harus di larikan ke rumah sakit terdekat.


Ketika Vira sudah di larikan di rumah sakit, dia terlihat berbaring di atas tempat tidur rumah sakit dengan menggunakan infus.


Beberapa saat kemudian, seorang dokter tampan menghampiri suster yang saat itu tengah memeriksa Vira.


"Gimana keadaan nya suster?" Tanya dokter itu dengan baik kepada suster itu dengan sesekali melihat ke arah Vira.


"Dia baik baik saya , Dok."

__ADS_1


"Baik terimakasih, " jawab dokter itu lalu dia menghampiri Vira dan duduk di kursi yang dekat dengan Vira.


"Sungguh malang nya nasib kamu Nak. Sungguh tega orang tua kamu, dalam keadaan sakit seperti ini dia masih menyuruh kamu untuk berjualan kue," ucap lanjut dokter itu.


Setelah mengatakan hal itu, dokter itu pergi dari kamar yang di tempati oleh Vira.


Hari semakin sore, namun Vira masih saja belum bangun dari pingsannya.


Di sisi lain, Ibu Vira terlihat mundur mandir kesana kemari. Dia terlihat dengan Vira yang berjualan hingga menjelang sore namun dia masih saja belum pulang.


"Kemana anak ini? Apa dia main main hingga lupa untuk pulang ?" Ucap Ibu Vira dengan raut muka yang terlihat khawatir.


Melihat hal itu, ayah Vira menghampiri Sera yang khawatir dengan Vira yang tidak pulang ke rumah.


"Ada apa ? Kamu khawatir dengan Vira yang tidak pulang ke rumah ?" Tanya Ayan Vira kepada Ibu Vira.


Mendengar pertanyaan itu, Ibu Vira langsung terdiam. Dia menatap tajam suaminya.


"Sedikitpun aku tidak khawatir dengan anak itu, aku hanya khawatir dengan kue kue yang aku jual. Apa kamu tidak berpikir, jika kue itu tidak terjual habis maka yang ada kue nya akan basi? Pikirkan itu!" Ucap Sera dengan tegas lalu dia pergi dari hadapan suaminya dan masuk ke dalam rumah nya.


Melihat hal itu, suami Sera hanya dapat menggeleng kan kepala melihat istrinya yang sangat tidak peduli dengan Vira. Beberapa saat kemudian, saudari Vira menghampiri ayahnya dan berdiri di samping ayahnya dengan raut muka yang terlihat sedih.


"Ayah, Kak Vira baik baik saja kan?" Tanya Adik Vira dengan sedih.


Mendengar ucapan itu, ayah Vira langsung memeluk anak itu dengan erat.


"Ayah tidak tahu Nak, tapi kita doakan saja. Semoga Kak Vira baik baik saja dan dia tidak mengalami masalah apapun." Pandangan mata Ayah Vira saat itu terlihat sangat sedih dengan Vira yang masih belum pulang hingga menjelang sore.

__ADS_1


__ADS_2