
Beberapa hari kemudian, kedamaian di rasakan oleh Tasya dan keluarganya. Saat itu dia tengah duduk di halaman rumah dengan menggendong Huda dan mengajaknya berkeliling rumah untuk mencari udara segar.
Beberapa saat kemudian, Fian datang dengan membawa beberapa mainan anak anak di tangannya. Dia terlihat sangat bahagia dengan apa yang di lihatnya.
"Hey...." Sapa Fian kepada Tasya dan Huda. Setalah itu dia menggendong Huda dan memberikan mainannya kepada Tasya. Saat itu Huda terlihat sangat bahagia, dia tertawa girang melihat kedatangan Fian.
Melihat hal itu Tasya hanya tersenyum, setalah itu dia masuk ke dalam rumah untuk membuatkan kopi untuk Fian. Setalah kopi sudah di buat oleh Tasya, Ibu Zaka menghampiri Tasya dan bertanya kepada Tasya tentang kopi yang dibuatnya.
"Kopi untuk siapa Tasya? Setahu Mama, kamu tidak minum kopi di jam segini," ucap Ibu Zaka.
"Ini untuk Mas Fian, Mama. Apa Mama juga mau, kalau mau Tasya akan buatkan?" Tawar Tasya kepada ibu mertuanya. Namun saat itu Ibu Zaka menolaknya dan memilih untuk pergi melihat ke arah luar rumah. Melihat kalau kopi itu untuk Fian, Ibu Zaka terlihat kesal. Dia mencengkram gorden di dekatnya dengan sangat erat.
Menyadari hal itu, Tasya menghampiri ibunya dengan raut muka yang bingung dan heran. Dia bertanya tanya dengan sikap ibu mertuanya yang terlihat sangat marah.
"Ada apa Mama? Kenapa Mama seperti sangat marah melihat Fian dan Huda di luar?" Tanya Tasya.
Mendengar pertanyaan itu dari Tasya, ibu mertua Tasya hanya tersenyum. Setalah itu dia memegangi salah satu pipi Tasya dengan penuh kasih sayang.
"Tidak Sayang, tidak ada papa. Lebih baik kamu, segera berikan kopi itu kepada Fian!" Jawab Ibu Zaka dengan baik. Setalah itu dia pergi ke dalam kamarnya.
Tasya yang melihat hal itu, tidak sedikitpun merasakan curiga kepada ibunya. Dia hanya tersenyum kepada ibunya yang pergi dan setelah itu dia melanjutkan keluar dari rumah dengan membawa kopi itu.
__ADS_1
Di dalam kamar Ibu Zaka, Ibu Zaka terlihat tidak bisa mengontrol emosinya. Dia duduk di atas tempat tidur dengan raut muka yang benar benar murka.
"Jadi ... Jadi dia ingin menggantikan posisi Zaka, tidak akan pernah ku biarkan hal itu terjadi!. Kamu akan berhadapan dengan aku," ucap Ibu Zaka dengan penuh kemarahan.
Di luar rumah, Fian menaruh Huda di kereta bayinya. Setalah itu dia duduk di kursi kosong yang berada di dekat Tasya.
"Terimakasih ya, karena kamu sudah repot repot buatkan aku kopi. Dan aku juga terimakasih, karena kamu sudah mengizinkan aku bertemu dengan Huda." Ucap Fian dengan baik sambil sesekali meminum kopi yang sudah di buatkan oleh Tasya.
"Iya tidak papa, dan kamu tidak perlu berterimakasih kepada ku. Seharusnya aku yang berterima kasih kepada kamu, karena kamu sudah merawat Huda dengan baik selagi tidak dengan aku!" Jawab Tasya dengan baik.
Mendengar hal itu, Fian hanya tersenyum lalu dia menaruh cangkir kopinya yang saat itu di pegang oleh Fian. Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun Fian tidak bisa mengatakan apa yang ada di benaknya.
Menyadari hal itu, Tasya pun meminta Fian untuk mengatakan apa yang sedang di pikirkan nya.
Mendengar hal itu, Fian melihat ke arah Tasya. Dia menguatkan dirinya untuk mengatakan apa yang sedang di pikirkannya.
"Tasya, aku hanya memberi kamu saran. Ini bisa kamu lakukan, juga tidak kamu lakukan, aku tidak masalah. Tapi sebelum itu, aku minta maaf ke kamu ... Maafkan aku jika aku ikut campur, ini demi kebaikan Huda!."
"Iya Mas, katakan saja. Aku tidak masalah," jawab Tasya.
"Aku ingin kamu mengajukan hak asuh Huda ke pengadilan, agar Huda seutuhnya menjadi milik kamu dan tidak ada orang lain yang bisa merebutnya," ujar Fian.
__ADS_1
Mendengar hal yang di katakan oleh Fian, Tasya sangat terkejut. Dia tidak dapat berkata kata dengan apa yang di katakan oleh Fian. Namun tiba tiba, Ibu Zaka menyahut apa yang di ucapkan oleh Fian. Dia sangat setuju dengan apa yang di katakan oleh Fian dan meminta Tasya melakukannya.
"Iya, saya setuju dengan apa yang di katakan oleh Fian." Ucap Ibu Zaka, lalu dia keluar dari rumah dan berdiri di dekat Tasya. Tasya yang mendengar hal itu dia sangat terkejut dan bergegas bangun dari duduknya. Dia meminta ibu mertuanya untuk duduk di kursinya, namun saat itu Ibu Zaka menolaknya dan lebih memilih untuk berdiri.
"Kamu harus mengajukan hak asuh Huda ke pengadilan. Mama yakin, dengan seperti ini, wanita pelakor itu tidak akan berani mendekati rumah kita ataupun Huda lagi!" Ucap Ibu Zaka semakin tegas kepada Tasya.
"Mama, apa Mama yakin dengan semua ini? Maksud Tasya ... Tasya tidak meragukan keputusan Mama dan saran dari Mas Fian, tapi aku takut dengan kita melakukan ini. Sarah akan bertindak nekad dan melakukan hal yang lebih buruk lagi, aku takut itu Mama."
"Tasya, kamu jangan takutkan itu. Sebelum kita melangkah ke pengadilan demi Huda. Mama sudah meminta Ayah Zaka untuk memasang CCTV di seluruh sudut rumah. Mama melakukan hal ini demi kebaikan Huda," jawab Ibu Zaka.
Mendengar apa yang di katakan oleh ibunya, Tasya pun akhirnya setuju dengan apa yang di putuskan oleh Ibu Zaka. Hari pemasangan CCTV pun tiba, saat itu dari kejauhan Sarah melihat ke arah rumah Tasya. Melihat ada pekerja yang memasang CCTV, Sarah menyadari rumah Zaka akan di pasang CCTV di setiap sudut nya.
Dia berpikir kalau harapannya untuk bertemu dengan Huda akan semakin sulit setalah CCTV di pasang di rumah Tasya.
"Sekarang aku harus gimana? Rumah Bu Tasya sudah di pantau oleh CCTV, aku yakin hal ini akan sangat sulit untuk aku bertemu dengan Huda, apalagi sampai membawa Huda pergi. Apa yang harus aku lakukan sekarang ?" Ucap Sarah dengan kebingungan dan sedih yang bercampur.
Akhirnya mau tidak mau, Sarah pun pergi dari rumah Zaka dengan tangan kosong dan harapan yang pupus. Dia benar benar tidak tahu apa yang harus di lakukan lakukannya setelah ini.
Tak berselang lama, Sarah sampai di rumahnya. Dia masuk ke dalam rumahnya dengan air mata yang berderai, dia mengambil foto mesranya dengan Zaka. Dia menatap foto itu dengan sangat sedih.
"Lihat, kamu lihat. Kenapa kamu harus meninggal? Kenapa? Mungkin, jika kamu masih hidup aku masih bisa bertemu dan memeluk Huda, tapi lihat. Sekarang aku tidak bisa melakukan apa pun, aku kehilangan kamu. Kenapa dulu aku bisa mencintai kamu?" Ucap Sarah dengan berbicara dengan dirinya sendiri. Dia terlihat sangat kesal hingga dia membanting fotonya dengan Zaka hingga hancur berkeping-keping.
__ADS_1
"Aaaaa .... Kenapa aku dulu mencintai kamu, kenapa ?" Terik Sarah dengan sekuat tenaganya. Lalu dia terduduk di dekat tempat tidur dengan menyandarkan tubuhnya. Dia hanya menangis, dengan sungguh sungguh menyesal karena sudah mencintai Zaka di dalam hidupnya.