
Di rumah sakit, terlihat dengan tubuh yang basah kuyup, tanpa sebuah harapan. Tasya berjalan perlahan masuk ke dalam rumah sakit, dia melihat ke sana kemari dengan raut muka yang terlihat sedih. Dia mencari keberadaan suaminya yang katanya meninggal dunia.
Beberapa saat kemudian, salah satu ruangan yang di lewatin menyalakan tv yang berada di ruangannya. Saat itu Tasya melihat berita tentang kecelakaan tunggal yang di alami Zaka sudah di tayangkan di tv. Melihat hal itu Tasya semakin hancur dan air matanya terus mengalir tanpa henti.
Setalah beberapa saat melihat ke arah tv, Tasya memalingkan wajahnya dengan sedih. Dia berjalan tak tahu arah, hingga tibalah dirinya di ruangan jenazah. Saat itu dia di antarkan oleh salah satu dokter untuk menemui jasad Zaka yang hangus terbakar.
Ketika berada di dalam ruangan jenazah, Tasya hanya diam dengan melihat ke arah mayat mayat yang saat itu berada di sana dengan terbaring tidak bergerak.
Saat itu Tasya terlihat sangat takut dan dia tampak tidak ingin melihat jasad itu. Namun ketika dia berada di dekat jasad itu, dia memberanikan dirinya, karena ketika dia dekat dengan mayat itu. Dia merasakan sesuatu yang aneh, dengan takut akhirnya dia pun membuka penutup muka dari mayat itu, ketika dia sudah membukanya, Tasya sangat terkejut karena wajah dari mayat laki laki itu sudah terbakar hangus dan tidak berbentuk.
Melihat hal itu Tasya hanya diam dengan wajah yang sangat terkejut. Setelah itu dia meminta Dokter yang menemani dirinya untuk menutupi wajah mayat itu. Di waktu yang bersamaan, Tasya keluar dari rungan jenazah dengan hati yang hancur dan tidak percaya kalau suaminya mengalami kejadian seperti ini.
Beberapa saat kemudian, dokter yang menemani dirinya keluar dari ruangan. Dia menghampiri Tasya yang duduk di samping pintu dengan air mata yang terus mengalir membasahi mata nya.
Ketika menyadari dokter yang menemani dirinya keluar dari ruangan Tasya bangun dari duduknya dan berdiri di hadapan dokter itu.
"Dokter, apa dokter yakin kalau laki laki itu adalah Mas Zaka?" tanya Tasya dengan air mata yang terus berderai membasahi matanya.
"Kami belum memeriksa DNA-nya Bu, tapi yang jelas polisi memberi tahu saya, kalau jasad ini berada di dalam mobil yang mana mobil itu berplat nomor sama persis dengan mobil milik Pak Zaka," jawab Dokter itu dengan tangan, lalu dia membelai halus Tasya. Dia mencoba menenangkan Tasya atas apa yang sudah terjadi dengan Zaka.
__ADS_1
Mendengar apa yang katakan oleh dokter itu, Tasya hanya bisa sedih dengan menelan ludahnya sendiri. Dia benar benar tidak percaya kalau suaminya akan mengalami kejadian seperti ini.
"Dokter, apakah jasad itu masih bisa untuk di DNa?" tanya Tasya dengan sedih.
"Masih bisa Bu," jawab Dokter itu lalu dia mengajak Tasya pergi dari kamar jenazah dan menuju ke ruangannya. Ketika dia berjalan menuju ke ruangan Dokter yang menemani dirinya, tiba tiba Tasya merasakan pusing di kepalanya yang sangat luar biasa. Saat itu dia mencoba untuk menahan rasa pusing itu dan terus berjalan, namun karena dia sudah tidak tahan, ketika dia baru melangkah satu maju. Tubuh Tasya limbung dan dirinya jatuh pingsan.
Suasana tiba tiba berubah menjadi kepanikan ketika Tasya tiba tiba pingsan, menyadari hal itu dokter yang menemani Tasya bergegas meminta bantuan ke salah satu suster untuk mengambil kursi roda. Namun ketika suster yang mengambil kursi roda belum tiba, dia mencoba menyadarkan Tasya, namun Tasya tidak ingin sadar.
Ketika suster yang mengambil kursi roda sudah tiba, dokter dan suster itu mengangkat Tasya ke kursi roda setalah itu dia membawa Tasya ke ruangan pemeriksaan. Ketika berada di ruangan pemeriksaan dokter itu tampak selesai memeriksa keadaan Tasya, namun saat itu Tasya masih tidak sadarkan diri.
Keesokan harinya, Tasya terbangun dari tidurnya di rungan dokter yang memeriksa dirinya. Saat itu terlihat Afridi sudah berada di ruangan itu dan duduk di hadapan dokter yang menemani Tasya.
Melihat kehadiran Afridi di ruangan itu, Tasya bergegas turun dari tempat tidur dan menghampiri Afridi. Dia berjalan menghampiri Afridi dengan sangat marah dan kesal.
"Dimana Sarah, Afridi? Dimana dia? katakan kepada ku!" ucap Tasya dengan tegas, marah dan mata yang di penuhi oleh air matanya.
"Aku juga tidak tahu dengan keberadaannya sekarang, " jawab Afridi dengan tidak berpura pura.
Saat itu Tasya masih tidak percaya, dia terus memaksa Afridi untuk mengatakan keberadaan Sarah.
__ADS_1
"Aku mohon dengan kamu Afridi, kamu katakan yang sebenarnya. Jangan tutupi keberadaan Sarah, apa kamu ingin Huda hidup menderita? Kita tidak tahu kemana Sarah membawa Huda," jawab Tasya dengan air mata yang terus berderai membasahi matanya.
"Aku tahu, aku minta maaf atas apa yang sudah di lakukan oleh Sarah, Tasya. Aku benar benar minta maaf," jawab Afridi dengan sedih.
Mendengar apa yang di katakan oleh Afridi, Tasya yang saat itu menarik kerah Afridi. Dia langsung mendorong Afridi dari hadapannya dengan penuh emosi. Melihat apa yang di lakukan oleh Tasya, dokter yang menemani Tasya meminta untuk Tasya berhati hati.
"Bu, ibu harus berhati hati. Karena ibu tidak sendiri sekarang," ucap dokter yang menemani Tasya. Tasya yang mendengar hal itu terdiam, dia melihat ke arah dokter dengan tatapan mata yang tajam.
"Apa maksud Dokter saya sedang hamil?" tanya Tasya dengan mendekatinya.
Mendengar pertanyaan itu, dokter itu menganggukkan kepalanya. Melihat hal itu, Tasya sangat bahagia, namun kebahagiaan itu juga bercampur dengan kesedihannya. Di mana saat itu dia mengingat suaminya yang sudah pergi.
Di waktu yang bersamaan dengan pemberitaan yang di lakukan oleh dokter, dokter itu juga memberi tahu hasil tes DNA dari mayat itu. Saat itu dokter itu mengatakan bahwa memang benar kalau mayat itu adalah mayat dari Zaka.
Mendengar hal itu, Tasya benar benar hancur. Dia benar benar tidak bisa berkata kata, tubuhnya lemas tidak berdaya dan dirinya jatuh di lantai dengan pandangan mata yang kosong.
Melihat hal itu, Afridi sangat terkejut. Dia membantu Tasya bangun dari jatuhnya.
"Tasya, ayo bangun. Kamu harus kuat, setidaknya jika tidak demi kamu sendiri maka kamu lakukan ini demi Huda dan anak yang kamu kandung!" ucap Afridi lalu dia membangunkan Tasya dari jatuhnya. Saat itu Tasya masih hanya diam dengan hal itu. Dia benar benar tidak bisa mengatakan sepatah katapun.
__ADS_1
Setalah membantu Tasya bangun, Afridi membawa Tasya pulang ke mobil. Namun saat sebelum dia pergi, Afridi meminta agar mayat itu di antarkan ke rumah Zaka dengan ambulan.
Dokter yang mendengar hal itu bergegas mencari ambulan dan meminta ambulan mengantar mayat Zaka ke rumah Zaka.