
"Kalau kamu sampai menginjakkan kaki keluar rumah ini, maka jangan pernah kamu berharap bisa masuk kembali ke rumah ini!" Ucap Sera dengan serius kepada suaminya. Ayah Vira yang mendengar hal itu pun hanya bisa diam dengan memperlihatkan rait muka yang sangat marah dengan Sera.
Setalah itu, dengan perlahan dia melepaskan kedua tangan anaknya yang saat itu terus menangis.
Ketika kedua tangan anaknya sudah terlepas, Ayah Vira berbalik dan dia menatap tajam Sera.
"Apa kamu pikir aku takut dengan ancaman kamu? Kalau pun aku tidak bisa masuk ke rumah ini, apa kamu pikir di luar sana tidak ada tempat untuk kita bertiga?" Ucap Ayah Vira dengan santai, namun saat itu masih menatap tajam Sera.
Mendengar apa yang di katakan oleh Ayah Vira, Sera terlihat semakin marah dan kesal. Dia mendekati Nasya dan menarik Nasya menjauhi Ayah Vira.
Melihat hal itu Ayah Vira terlihat sangat terkejut. Dia berusaha menarik Nasya kembali ke sampingnya, namun saat itu Sera mengancam jika Ayah Vira mendekati dirinya dan Nasya, dia akan menyakiti Nasya dengan memotong pergelangan tangan Nasya.
Nasya yang menyadari kalau ibunya tega dengan dirinya, dia hanya menangis dan berusaha untuk melepaskan tangannya dari tangan ibunya, namun hal itu sia sia. Sera membentak Nasya hingga Nasya yang saat itu menangis langsung terdiam.
"Kalau kamu anak itu, maka Nasya tidak boleh pergi dari sini. Kalau dia sampai pergi, maka dia akan mati!" Ucap Sera dengan serius.
"Gila ya kamu, kamu ingin menghabisi anak kamu sendiri. Kamu benar benar sudah gila," jawab Ayah Vira dengan tegas lalu dia melepaskan tangan Vira dan berusaha menarik Nasya.
Ketika Ayah Vira baru mendekat beberapa langkah, Sera langsung mengarahkan pisaunya ke arah Ayah Vira.
"Jangan mendekat! Kalau kamu sampai mendekat, aku tidak akan segan segan menghabisi Nasya!." Melihat hal itu, Nasya terlihat sangat ketakutan. Dia memohon kepada ibunya untuk melepaskan Nasya, namun saat itu Sera tidak ingin melepaskan Nasya.
Vira yang melihat kejadian itu, dia yang saat itu memegangi tas berwarna hitam, tanpa berpikir panjang dia melemparkan tas itu ke arah ibunya. Sera yang menyadari hal itu langsung terjatuh dan dia Nasya pun bergegas menghampiri ayahnya.
"Lihat, anak kamu saja takut dengan kamu apa lagi orang lain, kamu benar benar sudah gila?" Ucap Ayah Vira lalu ia meminta anak anaknya untuk keluar terlebih dahulu sedangkan dirinya mengambil tas yang di lemparkan Vira. Ketika tas sudah di ambil, dia bergegas keluar dari mengunci rumah dari luar.
__ADS_1
Sera yang menyadari hal itu, dia terus menerus menggedor gedor pintu rumah dengan memanggil manggil Nasya.
Di jalan, Nasya, Vira dan Ayah Vira terus berjalan. Saat itu Vira dan Nasya terlihat sangat ketakutan. Ketika mereka bertiga sudah berada di sebuah jalan setapak dengan kursi kayu yang saat itu kosong, Ayah Vira mengajak kedua anaknya untuk duduk di kursi itu sambil beristirahat.
"Papa, aku takut dengan ibu." Ucap Nasya dengan memeluk erat ayahnya begitupula Vira.
"Kalian tenang ya, kita sekarang sudah aman. Maafkan Ayah, karena Ayah kalian jadi seperti ini!" Jawab Ayah Vira dengan membelai lembut kedua anak mereka.
Setalah beberapa saat beristirahat, Ayah Vira dan kedua anaknya melanjutkan perjalanan. Saat itu, Nasya dan Vira sudah tidak menangis lagi.
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat tinggal yang baru.
*
Di rumah Natasya, terlihat Natasya berada di dalam kamarnya memandang ke arah halaman rumah dengan memikirkan Vira.
"Ada apa lagi? Apa kamu memikirkan anak itu lagi? Kenapa kamu bisa menjadi pendiam seperti ini sekarang?" Tanya Zaka kepada Natasya.
Mendengar pertanyaan itu, Natasya hanya menghela nafas dia mulai berkaca kaca. Dia terlihat menahan sebuah perasaan yang sangat menyedihkan di dalam hidupnya.
"Entahlah. Aku pun tidak tahu, aku bingung kenapa aku bisa menjadi seperti ini?" Jawab Natasya dengan mata yang memenuhi matanya.
Mendengar jawaban itu, Zaka terdiam beberapa saat, setalah itu dia memutar balik tubuh Natasya dan kembali memeluk Natasya yang saat itu sedih.
"Kamu jangan sedih terus, aku yakin anak itu pasti baik baik saja dengan orang tuannya. Kamu jangan khawatir terus.. Sekarang kita makan malam, oke."
__ADS_1
Mendengar ucapan itu, Natasya pun menyeka air matanya dan kemudian dia tersenyum kepada Zaka.
Mereka pun pergi untuk makan malam bersama keluarganya, ketika makan malam sudah selesai dan Tasya sudah berada di kamarnya.
Terlihat Zaka mempersiapkan dirinya untuk tidur, sedangkan Tasya dia masih melihat ke arah luar rumah dengan air mata yang semakin deras mengalir.
Memadati hal itu, Zaka yang saat itu ingin tidur. Dia bangun dari atas tempat tidur dan menghampiri Tasya.
Dia memeluk Tasya, dengan meletakkan kepalanya di atas bahu Tasya.
"Ada perayaan ya di bawah sana?" Tanya Zaka untuk menghibur Natasya. Setalah itu, dia mengikuti Tasya yang memandang ke arah halaman rumah. Natasya yang melihat hal itu dia tersenyum, namun tidak mengatakan sepatah katapun.
"Sayang, aku mohon dengan kamu. Tolong kamu jangan terus terusan bersedih. Ini sudah malam, aku mohon kamu tidur. Besok, kita akan cari anak itu," ucap Zaka untuk membujuk Natasya.
"Itu tidak perlu Mas, anak itu sudah tidak mau aku temui lagi!" Jawab Natasya dengan air mata mengalir membasahi pipinya.
"Hey, jangan seperti ini," jawab Zaka lalu ia memutar balik Natasya dan memegangi kedua pipi Tasya.
"Dengar, kamu jangan putus asa. Bisa saja, anak itu melakukannya demi kamu. Mungkin dia tidak mau kalau ibunya menyakiti kamu atau ayahnya, aku mohon kamu jangan putus asa seperti ini!" Ucap Zaka lalu ia menghapus air mata Natasya yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Sekarang kita tidur ya, aku mohon!" Ucap Zaka untuk melanjutkan ucapan sebelumnya.
Natasya yang mendengar permintaan tulus dari Zaka, akhirnya dia pun menuruti apa yang di inginkan oleh Zaka. Dengan perlahan, mereka berdua berjalan ke atas tempat tidur. Setelah itu dia duduk dan tidur di tempat tidur mereka.
Setalah mereka berdua berada di tempat tidur, tak menunggu lama Zaka yang sudah lelah dengan semua pekerjaan, akhirnya terlelap dalam tidurnya. Namun, hal itu berbeda dengan yang di rasakan oleh Zaka. Natasya terlihat tidak tidur dan terus menangis dengan melihat ke arah langit langit rumahnya.
__ADS_1
Tak ingin membuat Zaka terbangun dengan Isak tangisannya akhirnya Natasya pun berganti posisi dan diri ya tidur dengan memiringkan tubuhnya membelakangi Zaka.
Saat itu, air mata Natasya terus menerus mengalir membasahi pipinya.