
Pagi hari pun tiba, suara burung berkicau dengan kerasnya membangunkan Zaka yang saat itu tidur di samping Tasya. Menyadari kalau Tasya masih tertidur pulas, Zaka pun mendekatkan tubuhnya ke arah Natasya yang terlihat sangat cantik ketika tidur.
Dia menatap wanita yang paling di cintainya dengan senyum kecil di bibirnya. Dia memandang Natasya selama beberapa saat, ketika dia sudah memandang Natasya, dengan perlahan dia menggerakkan tangannya merapikan rambut Tasya yang menutupi muka.
"Kamu sangat cantik Tasya, aku benar benar beruntung memiliki kamu. Aku harap, selamanya kita akan bisa seperti ini!" Ucap Zaka dengan lirih sambil membelai perlahan kepala Tasya. Setalah itu dia mencium kening Natasya dengan perlahan dan pergi, namun saat dia ingin turun dari tempat tidur. Secara tiba tiba, Tasya memegangi tangan Zaka dengan sangat erat.
"Aku juga beruntung memiliki kamu!" Jawab Tasya dengan memegangi tangan Zaka.
Melihat hal itu, Zaka yang saat itu ingin bangun dari tidurnya, dengan perlahan dia berbalik dan melihat ke arah Tasya. Dia tersenyum kepada Taysa.
Di saat bersamaan, Tasya yang saat itu itu tengah berbaring bangun dari terbaring nya. Dia duduk di hadapan Zaka dengan raut muka yang tersenyum.
"Terimakasih kamu sudah mau menerima kelebihan dan kekurangan ku. Aku minta maaf, karena aku masih belum manjadi wanita yang baik untuk kamu," ucap Natasya yang membuat dirinya tiba tiba meneteskan air mata.
"Hey, jangan seperti ini. Siapa yang mengatakan kalau kamu bukan istri yang baik?" Jawab Zaka dengan memegangi kedua lengan Tasya dengan lembut. "Dengarkan aku... Kamu adalah istri terbaik, tidak ada seorang istri yang seperti kamu. Aku benar benar sangat bersyukur memiliki kamu di hidupku!."
Setalah mengatakan hal itu, Zaka memeluk Tasya dengan erat.
"Sudah kamu jangan sedih lagi," ucap Zaka dengan berusaha menenangkan Tasya yang menangis di pelukannya.
Latar tempat berganti, terlihat Vira dan keluarganya berada di sebuah pos kamling. Saat itu, Vira yang baru saja pulang dari rumah sakit terlihat semakin pucat dan semakin lemah. Begitupun, adik Vira yang mengalami hal yang sama karena udara dingin di malam itu.
Di saat itu, Vira dan Nasya terlihat menggigil. Suara keluhan akibat udara malam keluar dari mulut Vira dan Nasya. Dia merasa tidak tahan dengan semua itu.
__ADS_1
Pada awalnya Ayah Vira tidak menyadari apa yang terjadi dengan kedua anaknya, namun ketika dia sudah menyadari hal itu dia langsung membangunkan Vira dan Nasya. Dia membawa Nasya masuk ke rumah sakit, begitu pula Vira.
Sesampainya di rumah sakit, dokter yang merawat Vira sebelumnya kini dia kembali memeriksa Vira. Dia tampak terkejut dengan keadaan Vira yang kembali demam dan bahkan semakin parah.
"Ada apa Pak? Kenapa semua ini bisa terjadi?" Tanya dokter kepada Ayah Vira yang saat itu berdiri di samping dirinya.
Mendengar pertanyaan itu, Ayah Vira pun menjelaskan kepada dokter itu dan dia mengatakan dari ketika Vira pulang ke rumah hingga tidur pos kamling. Mendengar penjelasan cerita dari Ayah Vira dokter itu terlihat sangat terkejut dengan apa yang terjadi dia tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh istrinya.
"Pak, saya mohon bapak bersabar menghadapi masalah ini. Dan ... Saya akan bantu anda untuk masalah biaya kedua anak ini. Saya akan coba bantu, tapi saya mohon biarkan mereka berdua tidur di sini terlebih dahulu."
Mendengar permintaan itu, Ayah Vira pun menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih Dok, terimakasih sudah membantu Vira sebelumnya dan sekarang!" Jawab Ayah Vira dengan baik.
Dokter itu pun hanya tersenyum melihat hal itu, dia tidak bisa berkata kata. Dia hanya pergi dari kamar yang di tempati oleh Vira, namun sebelum itu dirinya mengingatkan Ayah Vira untuk masalah obat yang harus di minumkan kepada Vira dan adiknya.
"Mas kamu hati hati ya, dan nanti kalau kamu ketemu dengan Vira tolong kamu kabari aku," ucap Tasya dengan senyum kecil melihat suaminya yang akan pergi ke kantor.
"Iya." Jawab Zaka.
Setelah mendengar jawab itu, Tasya tersenyum kepada Zaka. Dia menatap Zaka dengan penuh cinta, lalu dengan perlahan dia mendekatkan dirinya dan mencium Zaka.
Mereka berdua pun terlihat saling malu antara satu dengan yang lain.
__ADS_1
"Ya sudah aku pergi kerja," jawab Zaka dengan bertingkah aneh seperti seseorang yang salah tingkah. Saat itu dia berjalan masuk ke dalam mobil dengan senyum senyum sendiri. Dia seperti seseorang yang baru mendapatkan permata seharga 100 miliyar.
Setalah Zaka pergi, Tasya tersenyum melihat kepergian suaminya untuk bekerja. Saat itu dengan pandangan mata yang masih terus melihat ke arah suaminya. Tiba tiba matanya kembali bersedih.
"Kamu adalah suami terbaikku Mas, maafkan aku jika aku masih belum menjadi wanita yang sempurna untuk kamu. " Ucap Tasya dengan sedih sambil melihat ke arah suaminya yang sudah tidak nampak di pandangannya.
Setalah mengatakan hal itu, dia masuk ke dalam rumahnya.
Di rumah sakit, Vira yang saat itu pingsan dengan perlahan dia mulai sadar begitupun Nasya. Saat itu, orang yang di cari oleh kedua orang itu adalah ayahnya, menyadari kalau Nasya dan Vira sudah bangun. Ayah Vira pun memegangi tangan Vira dan mencoba menenangkan Vira dan Nasya.
"Kalian tenang saja, Ayah ada di sini!" Ucap Ayah Vira dengan sedih.
Mendengar suara itu, Nasya langsung menangis dan dirinya langsung memeluk erat ayahnya. Dia terlihat sangat ketakutan dengan yang terjadi ketika berada di rumah. Dia seolah trauma dengan apa yang di alaminya.
Menyadari kalau Vira dan Nasya sudah sadar Dokter Afridi masuk ke dalam kamar yang di tempati oleh Vira dan Nasya.
Ketika Vira melihat dokter yang sama dengan dokter sebelumnya, Vira terlihat terkejut. Dia yang saat itu masih terbaring di atas tempat tidur, dengan perlahan dia berusaha untuk duduk.
"Dokter!' panggil Vira.
"Hi, Vira. Gimana kabar kamu?" Tanya dokter itu lalu ia kembali membaringkan tubuh Vira dan kembali memeriksa keadaan Vira. "Bolehkan dokter memeriksa keadaan kamu lagi?"
Vira yang mendengar ucapan itu, dia tersenyum kepada dokter itu dan dirinya menerima jika dia akan di periksa oleh dokter itu. Setalah memeriksa Vira, dokter itu pergi untuk memeriksa Nasya.
__ADS_1
Saat itu, keadaan mereka sudah baik baik saja hanya saja Nasya masih takut untuk pulang dan bertemu dengan ibunya. Saat itu Dokter Afridi mengatakan kalau Nasya trauma dengan sikap ibunya yang kasar dan suka mengancam.
Mendengar apa yang di jelaskan oleh Dokter Afridi, Ayah Vira hanya menganggukkan kapalnya dan dirinya menjaga kedua anaknya dengan sangat baik.