Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
9. Di terima


__ADS_3

Keesokan harinya, Sarah keluar dari kamar dengan celana jeans dan menggunakan kaos berwarna hitam polos.


Dia menghampiri Bu Asri yang saat itu sedang menyapu halaman rumah.


"Kamu gak kerja hari ini?" tanya Bu Asri kepada Sarah.


"Enggak Bu, aku tidak kerja. Aku sudah mengundurkan diri dari pekerjaan ku," jawab Sarah dengan sedikit tertunduk sedih.


Mendengar apa yang di katakan oleh Sarah, Bu Asri menghampiri Sarah.


"Kenapa? Kenapa kamu mengundurkan diri? Apa karena laki laki yang sering mengantar kamu pulang? Atau seperti apa?" jawab Bu Asri.


Sarah hanya menggelengkan kepalanya. Dia meminta sapu yang di pegang oleh Bu Asri. Setalah dia mendapatkan sapu yang di pegang oleh Bu Asri dia menjelaskan kepada Bu Asri alasannya memilih keluar dari pekerjaan.


Dia menjelaskan dirinya keluar bukan karena Ahmad, namun karena calon istri bosnya yang menuduh dirinya menggoda Rey dan ingin merebut Rey darinya.


Mendengar apa yang di jelaskan oleh Sarah, Bu Asri hanya diam. Dia mendekati Sarah dan memegang bahunya.


"Kamu yang sabar ya, tapi seharusnya kamu tidak boleh menyerah seperti ini. Seharusnya kamu bisa lebih kuat lagi, " ucap Bu Asri.


Sarah hanya tersenyum. Dia tampak bahagia dengan apa yang di katakan oleh Bu Asri.


"Ya sudah Bu Asri, Sarah coba cari lowongan lagi. Siapa tahu ada lowongan pekerjaan lain di dekat dekat sini," ucap Sarah.

__ADS_1


"Iya kamu hati hati ya, dan jaga diri kamu baik baik," jawab Bu Asri.


Sarah pergi ke kamarnya, dia mengambil tas kecil berwarna hitam yang berada di atas meja dalam kamarnya. Setelah itu dia berpamitan dengan Bu Asri dan pergi meninggalkan dirinya.


Beberapa saat kemudian, Sarah berada di depan sebuah restoran. Terlihat restoran itu adalah restoran yang pernah di kunjungi oleh Sintia dan Tasya.


Saat itu Sarah melihat sebuah lowongan pekerjaan yang terpampang di depan restoran itu. Melihat brosur lowongan, Sarah mencoba datang ke restoran dan melamarkan dirinya bekerja di restoran itu.


Sarah masuk ke dalam restoran dengan senyum. Dia menghampiri seorang kasir yang sedang bekerja.


"Mbak, saya mau tanya. Apakah di sini sedang mencari karyawan baru?" tanya Sarah.


"Iya Mbak, kami sedang mencari karyawan baru. Ada apa ya? Apa Mbak ingin melamar kerja?" jawab kasir.


"Mbak bisa duduk di kursi depan dulu, saya akan panggilkan managernya!." Kasir itu pergi ke salah satu ruangan di restoran itu. Melihat hal itu, Sarah hanya duduk di kursi kosong yang ada di restoran itu.


Beberapa saat kemudian, Amar suami dari Sintia datang bersama dengan kasir yang di temuinya beberapa saat lalu.


Pada awalnya, Amar tidak menyadari kalau dia pernah bertemu dengan Sarah sebelumnya, namun setelah ia memperhatikan betul betul wajah Sarah dia ingat kalau dia pernah bertemu dengan Sarah.


"Kamu Sarah kan?" tanya Amar.


Mendengar pertanyaan itu, Sarah terdiam. Dia melihat ke arah laki laki itu.

__ADS_1


"Iya, saya Sarah. Darimana Bapak tahu tentang saya?" jawab Sarah.


"Aku Amar, suami dari Sintia, sahabat dari Tasya!."


Mendengar hal itu Sarah sangat terkejut, dia langsung menundukkan kepalanya dan pergi dari hadapan Amar.


Amar pun mengejar Sarah hingga akhirnya dia berhasil menghentikan Sarah.


"Kenapa kamu lagi?" tanya Amar.


"Saya tidak bisa berhubungan lagi dengan Bu Tasya. Saya mohon dengan Pak Amar, tolong jangan beri tahu Bu Tasya atau Bu Sintia tentang pertemuan ini, saya mohon." Pinta Sarah dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya.


Melihat hal itu Amar meminta Sarah untuk tenang. Dia mengatakan kalau Amar tidak akan memberi tahu Tasya dan Sintia tentang keberadaannya. Saat Amar sudah berhasil membuat Sarah tenang, Amar mengajak Sarah untuk kembali ke restoran.


Saat berada di restoran, Sarah mulai tenang. Dia duduk di salah satu kursi restoran.


"Saya mohon dengan Pak Amar, tolong jangan beri tahu Bu Tasya tentang keberadaan saya! Saya benar benar memohon kepada Pak Amar!" ucap Sarah meminta belas kasih.


"Iya, kamu tenang saja. Saya janji tidak akan memberi tahu siapapun tentang keberadaan kamu," jawab Amar.


Setalah beberapa saat berbincang, Sarah pun akhirnya di terima kerja di restoran itu. Rasa bahagia menyelimuti hati Sarah, dia tidak percaya kalau Amar adalah orang yang baik karena dia menerima Sarah untuk bekerja di restorannya.


Kebahagiaan yang di rasakan oleh Sarah, ternyata hanyalah sebuah kebahagiaan sesaat. Dimana di terimanya dirinya di restoran milik Amar, justru menimbulkan masalah yang besar di kehidupan rumah tangga Sintia dan Amar.

__ADS_1


Dia kembali mendapatkan tuduhan sebagai pelakor karena kedekatan mereka berdua.


__ADS_2