Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
8. Kepikiran


__ADS_3

Keesokan harinya, aku sudah berada di depan rumah. Saat itu aku memakai baju berwarna putih dengan rok panjang berwarna hitam dan tas kecil berwarna hitam.


Saat itu suasana tampak seperti biasa, aku berpamitan kepada ibu, ayah dan adikku. Ketika aku berpamitan dengan mereka, aku melihat raut muka ibu terlihat tidak suka.


"Ibu, Natasya pamit. Maafkan Natasya jika Natasya di rumah ini Natasya selalu merepotkan ibu dan membuat susah ibu." Ucapku dengan sedih dengan menundukkan kepalaku.


"Buat apa kamu minta maaf ? Kamu itu sudah menyusahkan ibu, tidak ada yang hal lain. Jadi percuma, percuma kamu minta maaf!. Dasar anak tidak berguna!" Jawab ibuku dengan sangat kejam dan tidak mempedulikan perasaan ku yang akan tersakiti dengan apa yang di ucapkan.


Setalah mengatakan hal itu, ibu pergi dari hadapanku dan meninggalkan aku. Melihat hal itu, air mataku menetes. Aku hanya diam dengan pandangan mata yang terus menatap ke arah ibu yang pergi.


Ketika menyadari hal itu, ayah mendekati ku dan ia memegangi salah satu bahu ku. Aku yang menyadari hal itu, aku berbalik dengan air mata yang memenuhi mataku.


"Kamu jangan khawatir, ibu kamu pasti sedang ada masalah makanya ia melakukan hal itu kepada kamu. Kamu tolong maklumi sikap ibu kamu," ucap ayah angkat ku dengan baik.


Mendengar hal itu, aku mengangguk kan kepalaku. Setelah itu ku pamitan kepada Zoya dan ayah dengan air mata yang memenuhi mataku.


"Iya Pa. Natasya bisa memaklumi, mungkin ibu sedang banyak pikiran. Makanya, dia bisa mengatakan hal ini," ucapku dengan air mata yang terus mengalir.


Beberapa saat kemudian, aku pergi ke rumah ku. Di sepanjang perjalanan, air mata ku terus mengalir, mataku terlihat kosong. Aku terus memikirkan sikap ibu yang sangat berbeda di malam itu.


Keadaan kembali seperti semula. Air mata ku terus mengalir membasahi pipiku.


Ketika itu, Mas Zaka berada di dekat ku dengan memeluk erat aku. Dengan perlahan, dia membelai lembut kepalaku dan mencium keningku.


Setelah itu dia melepas pelukannya.

__ADS_1


"Kamu jangan berpikir macam macam, mungkin ... Ibu memang sudah berubah," ucap Mas Zaka untuk menenangkan diriku yang terus bersedih. Kemudian, dia  menghapus air mataku dan melanjutkan "sekarang kamu temui ibu, dan kamu ajak dia bicara dengan tentang tanpa ada keributan atau dendam."


Mendengar ucapan itu, ku anggukkan kepalaku dengan senyum kecil di bibir. Ketika aku baru beberapa langkah dari Mas Zaka, aku menghentikan langkah ku. Aku tersenyum kepadanya.


"Makasih mas, sudah baik dengan aku dan keluargaku. Dan ... Aku mohon, nanti kita cari anak itu ya, aku ingin bertemu dengan dirinya." Ucapku kepada Mas Zaka dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi.


Ketika Mas Zaka mendengar ucapan ku, dia tersenyum dan setelah itu dia menganggukkan kepalanya.


Aku yang melihat hal itu, tersenyum. Lalu, aku melangkah pergi meninggalkan kamar untuk menemui ibu.


*


*


Malam itu, aku memang sangat berharap bisa bertemu dengan anak itu dan memeluk anak itu. Namun, di sepanjang perjalanan aku tidak menemukan dirinya.


Setelah melakukan makan malam bersama. Aku dan Mas Zaka pulang ke rumah, saat itu hari memang sudah beneran benar sudah malam. Aku kira semua orang sudah tidur, namun saat aku dan Mas Zaka masuk ke dalam rumah. Aku melihat ibu masih duduk di sofa dan menunggu kedatangan ku dan Mas Zaka.


Saat aku sudah datang, dia bangun dari duduknya dan menghampiri diriku. Ketika dia sudah berada di hadapanku, dia tersenyum dan memeluk erat diri ku dengan raut muka yang terlihat khawatir.


"Kamu dari mana saja Natasya? Ibu sangat khawatir dengan kamu," ucap Ibu angkat ku dengan nada khawatir dan semakin memeluk erat tubuhku.


Menyadari hal itu, aku melihat ke arah Mas Zaka dan Mas Zaka terlihat membalasnya. Dia terlihat memberi kode agar diriku membalas pelukannya.


Dia terlihat tidak ingin jika ibu angkat ku curiga kalau diriku menaruh perasaan tidak percaya dengan sikap perubahan sikapnya.

__ADS_1


Aku yang melihat hal itu, akhirnya ku balas pelukan ibu ku dengan pelukan erat. Setalah itu aku tersenyum dan mengelus perlahan bahunya.


"Ibu jangan khawatir, aku baik baik saja. Lagian ... Aku juga di jaga Mas Zaka, maka aku pikir aku akan baik baik saja." Jawabku kepada ibu angkat ku setelah itu dengan perlahan aku melepaskan pelukan ku. Ketika pelukan itu sudah terlepas, ku pegang kedua lengan ibuku dengan baik. Ku minta ia untuk bergegas untuk tidur.


Saat itu ia terlihat menuruti aku, ia tersenyum kepada ku dan pergi ke kamarnya. Ketika ia sudah pergi ke kamarnya, aku ajak Mas Zaka untuk masuk ke dalam kamar dengan ku gandeng tangannya.


*


Di dalam kamar, aku tengah duduk di atas tempat tidur dengan memikirkan sikap ibu yang benar benar berbeda. Berbeda dengan aku, Mas Zaka justru terlihat berdiri dengan menghadap ke arah cermin dan bersiap mengganti pakaiannya.


Saat itu dia melihat aku yang melamun, menyadari aku melamun. Dia menghampiriku aku dan duduk bertekuk lutut di hadapanku. Dia memegangi tanganku dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Kamu kenapa lagi?" Tanya Mas Zaka.


"Aku hanya memiliki sikap ibu, Mas zaka. Aku sungguh heran dengan sikapnya, apakah mungkin orang bisa berubah dalam waktu yang cukup singkat?" Jawabku dengan heran dan pandangan mata yang terus melihat ke arah Mas Zaka.


Mendengar jawaban ku, Mas Zaka yang saat itu duduk bertekuk lutut. Dia bangun dan duduk di samping ku ia memegangi salah satu tangan ku.


"Kamu jangan memikirkan hal itu. Aku takut, kalau kamu terus memikirkan hal ini, yang ada nanti sakit. Yang terpenting sekarang, walaupun masih di tanyakan kebenarannya. Kamu harus bersyukur, karena apa? Karena ibu kamu sudah bisa berubah." Mas Zaka menata ku, dia tersenyum dan setelah itu dia meminta aku untuk mengganti pakaian.


Dia mengajak aku tidur karena hari sudah malam memang larut malam dan semua orang sudah tertidur.


Ketika aku sudah berganti pakaian, aku menyusul Mas Zaka yang saat itu tengah berbaring di atas tempat tidur.


Saat aku sudah berbaring, aku masih kepikiran dengan sikap ibu yang benar benar berbeda. Aku merasa ibu merencanakan sesuatu. Namun, aku tidak ingin berpikir macam macam. Akhirnya aku memutuskan untuk melupakan hal itu dan tidur bersama dengan suami ku tercinta.

__ADS_1


__ADS_2