Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
65. Pertemuan Huda dan Tasya


__ADS_3

Waktu itu Sarah hanya diam dengan wajah sedih tersungkur di kaki Fian, Tasya yang menyadari hal itu hanya diam dengan mata penuh emosi melihat ke arah Sarah. Saat itu semua orang terkejut, dia hanya diam melihat kemarahan Tasya yang sangat luar biasa.


Ketika Tasya tidak bisa mengontrol emosinya, suara tangis bayi meluluhkan amarah Tasya. Dia menyadari bahwa suara itu adalah suara dari Huda.


Mata Tasya berkaca kaca, sambil melihat seorang laki laki dengan menggendong seorang bayi di hadapan Sarah. Dia berjalan perlahan mendekati Fian dan melihat bayi yang di gendong Fian.


Saat Tasya sudah melihat bahwa anak yang di gendong oleh laki laki itu adalah Huda. Tasya sangat terkejut, dia hanya diam dengan mata dan mulut yang terbuka lebar. Dia sangat bahagia melihat Huda, anak yang di buang oleh Sarah di temukan lagi.


"Huda.... " Panggil Tasya dengan lirih. Matanya dia penuhi oleh air mata.


Dia mencoba mengambil Huda dari tangan Fian dan menggendongnya.


Huda yang saat itu menangis, seketika terdiam dan tertidur pulas di pelukan Tasya.


Di waktu yang bersamaan, Sintia yang saat itu berdiri di dekat mobil. Dia menghampiri Fian dan berdiri di dekat Fian. Dia mencoba membantu Sarah untuk bangun dari jatuhnya. Ketika Sarah sudah bangun. Dia hanya diam dengan pandangan terus melihat ke arah Huda yang sangat tenang di pelukan Tasya.


"Tasya, maafkan aku. Aku datang di waktu yang tidak tepat. Aku bingung rencana awal kita tidak ingin melihat semua ini terjadi," ucap Sintia dengan baik.


"Tidak Sintia, kamu jangan mengatakan hal itu. Aku yang minta maaf ke kamu, karena kamu melihat semua ini!" Jawab Tasya dengan sedih .


Setalah Tasya tenang, dia mengajak Sintia dan Fian masuk ke dalam rumah, namun ketika baru beberapa langkah menjauhi Sarah, Tasya berbalik. Dia menatap tajam Sarah yang hanya berdiri dengan tertunduk di belakang Sintia.


"Kalian masuk saja, " pinta Tasya.

__ADS_1


Setalah mengatakan hal itu, Tasya menghampiri Sarah yang hanya diam dengan tertunduk.


"Lihat anak ini!" Ucap Tasya dengan nada rendah. "LIHAT!!!" bentak Tasya kepada Sarah yang membuat semua orang langsung menoleh ke arahnya.


"Anak yang kamu buang, darah daging kamu sendirian. Dia justru tidak pernah ingin bersama kamu. Dia memilih untuk bersama aku, orang yang tidak pernah melahirkan dirinya. Aku harap, setelah semua ini terjadi. Kamu bisa sadar, kamu memang memiliki hubungan dengan Huda, tapi aku ... Aku memiliki ikatan dengan dia, dia mana tidak bisa memiliki hal itu dengan siapapun selain suamiku."


Wajah marah masih terlihat jelas di  raut muka Tasya. Dia benar-benar tidak memberikan celah sedikitpun untuk Sarah.


"Sekarang kamu pergi! Jangan ganggu aku dan Huda lagi," ucap tegas Tasya kepada Sarah.


"Tapi Bu Tasya, Huda itu anak ku!" Jawab Sarah dengan sedih.


"Sejak kapan kamu menganggap dia anak, jika kamu menganggap dia anak. Seharusnya, sebelum membuang Huda ke rumah orang lain. Pikirkan terlebih dahulu konsekuensinya," ujar Tasya dengan lalu dia berbalik dari hadapan Sarah.


"Kalau kamu datang kemari lagi, aku tidak akan segan segan melaporkan kamu ke kantor polisi. Paham!."


Tasya pun pergi setelah mengatakan hal itu, dia menuju ke dalam rumah dengan mengajak tamunya. Setelah Tasya dan yang lainnya pergi, Sarah jatuh bertekuk lutut. Dia lemas tidak berdaya di tengah halaman rumah Tasya.


Saat itu dia benar benar hancur, karena dia harus berpisah dengan anak yang dilahirkannya. Dia tampak tidak bisa menahan air matanya yang terus mengalir membasahi matanya.


"Aaaaa...." Teriak Sarah dengan hati yang hancur dan menyesali atas apa yang sudah di lakukannya.


Di dalam rumah, semua orang duduk di kursi ruang makan. Mereka terlihat sangat menikmati makanan yang di masak oleh Tasya, namun tidak dengan Fian. Dia terlihat tidak fokus makan, dia hanya diam dengan pandangan mata melihat ke arah Tasya yang saat itu duduk di sofa dengan sesekali mencium kening Huda.

__ADS_1


Dia benar benar tidak percaya, kalau wanita yang bukan ibunya bisa sangat dekat dengan Huda. Menyadari Fian terus melihat ke arah Tasya, Ibu Fian memegang salah satu paha Fian. Dia seolah memberi tahu Fian, agar Fian mencoba menerima semua ini. Fian yang menyadari hal itu, dia hanya diam dengan senyum di bibirnya. Setalah itu dia kembali makan.


Setelah makan siang di lakukan oleh Tasya dan tamu tamunya. Perbincangan kecil antara keluarga Fian dan keluarga Tasya pun di lakukan. Saat itu, Tasya berterimakasih kepada Fian, Sintia dan yang lain lainnya karena sudah merawat Huda dengan sangat baik selagi tidak bersama dengan keluarganya.


"Terimakasih ya Sintia, walaupun kita dulu musuhan, aku benar benar berterimakasih kepada kamu. Tidak hanya Sintia, untuk Mas Fian saya juga terimakasih. Maafkan saya, saya mungkin tidak bisa membalas Mas dengan hal hal berharga mahal, mungkin saya hanya bisa memberikan ini," ucap Tasya dengan melepas sebuah kalung yang di pakainya.


"Tidak Tasya, kamu tidak perlu melakukan ini. Aku tidak ingin emas dari kamu, aku hanya ingin kamu mengizinkan aku untuk bertemu dengan Huda, jika aku merindukan dia!. Aku jujur dengan kamu, sebenarnya aku tidak ingin kehilangan Huda, namun dia memiliki keluarga yang menyayangi dia lebih dari aku. Jadi aku mohon, izinkan aku untuk bertemu dengan Huda jika aku rindu dengan dia!."


Mendengar apa yang di katakan oleh Fian, Tasya hanya tersenyum. Waktu berlalu begitu cepat, perbincangan antara Tasya dan para tamu telah berakhir. Terlihat Fian dan yang lain lainnya berpamitan untuk pergi dari rumah Tasya.


"Terimakasih ya Tasya untuk makan siang hari ini, " ucap Sintia dengan baik.


"Aku yang seharusnya terimakasih ke kamu, maafkan aku atas semua yang terjadi. Dan aku juga minta maaf karena aku tidak menyambut kalian dengan baik," jawab Tasya dengan menggendong Huda.


"Enggak kok, ya udah aku pamit dulu ya. Kamu jaga diri kamu dan keluarga kamu."


"Makasih, kamu juga. Jaga diri kamu baik baik," jawab Tasya.


Setalah berpamitan, Sintia pergi dari rumah Tasya menunjuk ke mobilnya.


Ketika Sintia sudah masuk ke dalam mobil, tiba tiba Fian mendekat Tasya. Dia mencium kening Huda dengan penuh kasih sayang. Saat itu raut mukanya terlihat sedih, karena dia harus berpisah dengan anak yang sudah dia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.


Melihat hal itu, Tasya juga ikut bersedih, namun dia mencoba untuk menyembunyikan kesedihannya.

__ADS_1


"Aku akan sangat merindukan kamu, Habib." Ucap Fian dengan nada lirih lalu dia mencium kening Huda lagi dengan penuh kasih sayang. Setalah itu dia berpamitan kepada Tasya dan keluarganya untuk pergi.


__ADS_2