
Di novel * Terikat Tanpa Hubungan* yang pertama, saya menulis ceritanya dengan garis besar (Kedekatan Tasya dengan anak anak yang tidak memiliki hubungan dengan dirinya), namun kali ini, novel *Terikat Tanpa Hubungan 2* saya akan buat dengan garis besar (Kehidupan Sarah setalah keluar dari penjara), semoga suka 🥰🥰.
1. Setalah keluar dari penjara
"Huh.. " Sarah menghela nafas berat. Dia berdiri di depan rumah yang menjadi bukti dari kerja kerasnya selama ini.
"Walau pun aku berat untuk meninggalkan semua ini, aku akan terima. Aku harus ikhlas dan pergi dari rumah ini," ujar Sarah dengan koper besar berwarna hitam berdiri di sampingnya.
Beberapa saat kemudian, seorang laki laki bertubuh gemuk, menghampiri Sarah. Dia adalah Pak Jaka, pemilik rumah Sarah yang baru.
Ya, setelah dirinya keluar dari penjara atas tuduhan penculikan yang di laporkan oleh Ibu Zaka kepada dirinya. Sarah bener benar menyesal, dia ingin terlepas dengan semua ikatkan yang berhubungan dengan Zaka, namun dia tidak pernah melupakan Huda anaknya.
"Pak Jaka, terima kasih. Terimakasih bapak sudah membeli rumah saya, " ujar Sarah.
"Sama sama Mbak, ngomong ngomong.. Setalah tidak tinggal di sini, Mbak Sarah mau tinggal di mana?" jawab Pak Jaka.
"Saya masih belum tahu Pak, tapi saya pasti akan segera punya rumah!."
Ketika Sarah dan Pak Jaka sedang berbincang, tiba tiba seorang ibu ibu sosialita datang menghampiri Sarah dan Pak Jaka. Dia terlihat marah dengan kedekatan Sarah dan Pak Jaka.
"Heh, pelakor! Berani sekali ya, kamu dekati suami saya," ucap istri Pak Jaka dengan sangat marah.
Mendengar apa yang di katakan oleh Ibu Jaka, Sarah hanya diam. Dia tampak sedih dengan apa yang di katakan oleh Ibu Jaka.
"Maaf Bu, saya tidak berniat untuk mendekati suami ibu. Saya hanya hanya berbincang kecil, masalah rumah tidak lebih."
"Alah, kamu itu perlu ngeles lagi. Seorang pelakor ya tetap pelakor, kerjaan seorang pelakor sampai kapanpun ya tetap menggoda suami orang." Mendengar apa yang di ucapkan oleh Bu Jaka, hari Sarah sangat terluka. Dia hanya menundukkan kepalanya dengan derai air mata yang mengalir membasahi matanya.
__ADS_1
"Mama sudah Mah, apa Mama tidak kasihan dengan Sarah?" sahut Pak Jaka.
"Oh, jadi Mas belaian wanita pelakor itu. Baik.. bela dia, kalau kamu mau kamu bisa ikut dengan dia sekalian," jawab Ibu Jaka lalu dia mendorong suaminya menjauhi dirinya. Dia pergi dengan sangat marah dan kesal.
Melihat hal itu, Sarah pun bergegas pergi. Matanya terlihat di penuhi oleh air mata.
Tak berselang lama, Sarah berjalan di pinggir jalan. Dia terus meneteskan air mata di sepanjang langkah yang di ambilnya. Dia merasakan sebuah penyesalan yang paling dalam di hatinya.
"Ya Tuhan, maafkan saya ... Maafkan saya sudah membuat kesalahan yang sangat buruk. Maafkan saya, karena saya sudah membuang anak kandung saya sendiri. Saya mohon, tolong jangan memberi takdir yang sama seperti di masa lalu saya dulu, saya mohon." Derai air mata terus membasahi mata Sarah. Dia tampak sangat menyesali atas apa yang sudah di lakukannya di masa lalu.
Setalah beberapa saat berjalan, Sarah berada di sebuah masjid. Melihat hal itu, Sarah masuk ke dalam masjid dan meninggalkan kopernya di luar masjid. Saat itu, dia akan menjalankan sholat Dhuhur.
Ketika dia berada di tempat wudhu, dia melihat ke arah ibu ibu yang sedang wudhu di hadapannya. Sarah terlihat tidak tahu bagaimana cara berwudhu, namun dia mau untuk mencoba.
Saat wanita yang berada di hadapannya sudah selesai berwudhu, Sarah meminta ibu itu mengajari dirinya, dengan senang hati dia mengajari Sarah berwudhu dari awal hingga akhir.
"Mbak, pasti Mbak Sarah," ucap wanita yang sudah memakai mukena yang duduk di samping Sarah. Sarah yang melihat hal ini, dia kebingungan dan bertanya tanya.
"Bagaimana kamu tahu tentang saya? Sedangkan saya ... Saya tidak mengetahui tentang kamu," jawab Sarah.
Mendengar hal itu, wanita itu tersenyum kepada Sarah. Dia mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya.
" Perkenalkan nama saya Nazwa. Saya adalah anak dari Pak Jaka, makanya saya tahu Mbak!."
"Oh, jadi kamu anaknya Pak Jaka yang membeli rumah saya?" jawab Sarah dengan baik dan tersenyum.
"Iya Mbak." Jawab Nazwa
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, suara adzan terdengar di kumandang dengan sangat merindu. Mendengar hal itu, Sarah yang saat itu duduk tiba tiba berkaca kaca dan menangis di sepanjang sholat Sarah terus menangis dengan lirih.
Waktu berlalu begitu cepat, sholat Sarah pun berakhir. Saat itu, Sarah menadahkan tangannya dengan air mata yang terus berderai membasahi matanya. Dia benar benar memohon ampun kepada Tuhan atas apa yang sudah di lakukannya kepada Tasya dan anaknya sendiri.
"Ya Tuhan ku, maafkan hamba yang sangat berdosa ini. Ampuni hamba yang jahat dengan anak hamba. Ampuni hamba atas kesalahan Yanga hamba buat," ujar Sarah dengan derai air mata.
Mendengar apa yang di katakan oleh Sarah, Nazwa ikut merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Sarah. Setelah selesai melakukan doa, Nazwa melihat ke arah Sarah yang sangat tulus berdoa kepada Tuhan..
Setalah mendengar doa dari Sarah, Nazwa mengamini dos Sarah. Dia mendekati Sarah dan duduk di samping Sarah dengan memegangi salah satu bahunya.
"Sarah, Tuhan itu baik. Dia pasti akan mengampuni setiap kesalahan dari hambanya, saya yakin dengan hal itu. Jadi, kamu jangan sedih, dia pasti memaafkan kamu." Nazwa tersenyum, dia memegang bahu Sarah dengan memberi usapan lembut ke bahu Sarah.
"Terimakasih ... " jawab Sarah lirih.
Setelah berdoa, Nazwa dan Sarah keluar dari masjid. Mereka berjalan bersama dan sedikit berbincang bincang tentang masalah yang sedang di hadapannya.
Namun, saat baru beberapa saat keluar dari masjid. Bu Jaka menghampiri Nazwa dan Sarah yang berjalan bersama. Dia menuduh Sarah menghasut Nazwa agar menjadi pelakor seperti dirinya. Namun Sarah membantahnya dan dia menjelaskan kepada Bu Jaka kalau dirinya tidak memiliki melakukan hal itu.
"Heh ... Pelakor! Berani beraninya ya kamu dekati anak saya, apa kamu ingin menghasut anak saya menjadi seperti kamu, iya?" ucap Bu Jaka dengan nada marah.
"Tidak Bu, saya tidak melakukan itu ..." jawab Sarah dengan lirih.
"Iya Bu, Mbak Sarah tidak menghasut aku. Dia hanya selesai berdoa bersama aku, itu saja. Nazwa mohon Bu, tolong jangan seperti ini. Jangan buat Mbak Sarah malu," sahut Nazwa.
"Doa?! Tulus gak tuh doanya, yang pasti seorang pelakor itu tidak akan bisa berdoa dengan baik dan benar. Dasar ... Pelakor!."
"Cukup Bu! Nazwa mohon, kita pulang sekarang!" tegas Nazwa kepada ibunya.
__ADS_1
Saat itu semua orang memandangi Sarah dengan jijik. Mereka bener benar tidak percaya kalau wanita yang terlihat alim seperti Sarah adalah seorang pelakor. Merasa di permalukan oleh Bu Jaka, Sarah hanya bisa diam dengan menundukkan kepalanya. Air matanya mengalir deras membanjiri pipi.