Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
28. Pertemuan


__ADS_3

Setelah beberapa saat melakukan perjalanan akhirnya Tasya dan ibunya sampai di pasar.


Saat itu dia memilih milih barang di dalam pasar itu. Di waktu yang bersamaan, Vira dan pembantu Dokter Afridi juga sampai di pasar yang sama dengan dirinya.


"Vira, kamu jangan jauh jauh ya. Soalnya kamu kan belum tahu tempat ini," ucap pembantu itu dengan baik.


Vira yang mendengar ucapan itu, dia hanya tersenyum kepada pembantunya. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam pasar, di waktu yang sama, Tasya merasakan kehadiran Vira di pasar.


"Vira...." Panggil Tasya dengan lirih. Dia merasakan hembusan angin seolah membelai dirinya, angin itu seolah berbisik kepada Tasya tentang Vira.


"Ada apa Tasya?" Tanya Ibu Zaka dengan baik. Tasya yang mendengar ucapan itu dia hanya diam dengan menggelengkan kepalanya.


Setalah itu dia dan ibunya melanjutkan memilih milih barang di pasar itu.


Waktu berlalu begitu cepat, setalah beberapa saat berbelanja. Tasya dan Vira bertemu di salah satu pintu keluar pasar. Saat itu Vira tengah menunggu pembantu Dokter Afridi yang sedang mencari barang tambahan. Sedangkan Tasya dan ibunya, mereka sudah selesai berbelanja.


Melihat bentuk tubuh anak yang berada di dekat pintu keluar, Tasya menyadari kalau anak itu adalah Vira. Menyadari hal itu, dia melangkah kakinya perlahan, dia merasa tidak percaya karena dia kembali di pertemukan oleh Vira.


"Vira!" Panggil Tasya dengan baik kepada Vira yang saat itu tengah berdiri.


Mendengar ucapan itu, Vira berbalik dan melihat ke arah Tasya. Dia  terlihat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Tante Tasya! Senang sekali bertemu dengan Tante di sini," jawab Vira.


"Kamu mengenal anak ini Tasya?" Tanya Ibu Zaka kepada Tasya dengan sesekali melihat ke arah Vira dan Tasya.


"Iya Mama, aku mengenalnya. Apa yang kamu lakukan di sini Vira?" Tanya Tasya kepada Vira.

__ADS_1


"Saya menunggu Bibi saya yang sedang memilih milih barang." Jawab Vira, beberapa saat kemudian pembantu Dokter Afridi datang menghampiri dirinya dan Tasya.


Meraka pun saling berkenalan antara satu dengan yang lainnya. Setalah berkenalan antara pembantu Dokter Afridi dan keluarga Tasya. Mereka semua pergi dari pasar bersama sama.


Tak berselang lama, Tasya dan ibunya sampai di rumah Dokter Afridi.


"Kamu tinggal di sini Vira?" Tanya Tasya dengan baik.


"Iya Tante," jawab Vira.


Mendengar ucapan itu, Tasya hanya tersenyum. Beberapa saat kemudian, Vira turun dari mobil. Dia pergi ke depan gerbang rumah Dokter Afridi.


Ketika Vira sudah berada di depan gerbang rumah Dokter Afridi. Dia berdiri dengan tersenyum ke arah Tasya, tidak hanya itu dia juga melambaikan tangannya kepada Tasya yang saat itu berada di dalam mobil.


Tasya melihat hal itu, tiba tiba bersedih. Dia meneteskan air matanya dan membalas lambaian tangan Vira. Selain itu, dia juga tersenyum kepada Vira dengan air mata yang membasahi matanya.


"Ada apa Tasya? Kamu baik baik saja kan?" Tanya Ibu Zaka ketika dia melihat Tasya bersedih. Mendengar pertanyaan itu, Tasya hanya diam. Dia menggelengkan kepalanya, seolah tidak terjadi sesuatu.


Mengetahui jawaban dari Tasya Ibu Zaka hanya diam. Dia ikut bersedih, dia memegangi salah satu bahu Tasya dengan penuh kasih sayang.


Mobil pun berjalan perlahan menjauhi Vira. Perasaan sedih di rasakan oleh Tasya ketika dia pergi meninggalkan Vira, air matanya mengalir deras di sepanjang perjalanan menuju ke rumah.


"Apa anak itu yang selama ini kamu cari?" Tanya Ibu Zaka dengan tangan yang masih memegangi bahu Tasya.


"Iya Mah, dia adalah anak yang selama ini aku cari. Mama, ada apa dengan aku ya Mah? Kenapa aku merasa sedih ketika harus pergi dari anak itu?" Ucap Tasya dengan air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya.


"Ini adalah ikatan tanpa hubungan Tasya, Mama melihat kamu dengan anak ikut sangat dekat tidak ingin terpisahkan antara satu dengan yang lain. Mama melihat ada ikatan di dalam diriku dengan anak itu, namun diantara kalian tidak ada hubungan. Kalian hanya sebatas teman atau orang asing yang bertemu selama beberapa kali, itu saja. Tapi Mama yakin, kamu pasti akan di pertemukan dengan anak itu lagi!" Jawab Ibu Zaka dengan baik untuk menenangkan Tasya yang terus bersedih.

__ADS_1


Tasya yang mendengar ucapan itu, dia hanya diam. Dia menyeka air matanya yang terus mengalir membasahi pipi.


Melihat Tasya pergi, Vira juga terlihat bersedih. Dia menangis di depan gerbang, namun saat itu dia bingung. Dia tidak tahu apa yang membuat dirinya merasakan hal itu, dia hanya tahu bahwasanya di dalam hatinya di sangat menyayangi Tasya dan ingin ikut bersama dengan Tasya.


"Ada apa Vira?" Tanya pembantu itu setalah dia melihat Vira bersedih.


Mendengar pertanyaan itu, Vira hanya diam. Dia menggelengkan kepalanya dan mengajak pembantu itu masuk ke dalam rumah.


Saat berada di dalam rumah, Vira menaruh barang barangnya di atas meja. Dia masih terlihat sedih dengan kepergian Vira. Dia melamun setalah meletakkan barang barangnya di atas meja.


Menyadari hal itu, pembantu itu menghampiri Vira yang tengah melamun, dia memegangi salah satu bahu Vira untuk memecahkan lamunan Vira.


"Jangan melamun terus, nanti kerasukan jin kalau melamun terus!" Ucap pembantu itu dengan memegangi bahu Vira. Vira yang menyadari hal itu, dia menyadarkan dirinya dan tersenyum kepada pembantu itu.


Di rumah Tasya, dia baru saja turun dari mobil. Dia membukakan pintu untuk ibunya, setalah itu dia membantu ibunya membawa barang belanjaan ke dapur. Dia duduk di sofa ruang tamu dengan memikirkan tentang Zaka yang sedang bekerja di luar kota bersama dengan Sarah.


"Kira kira Mas Zaka sedang apa ya?" Tanya Tasya kepada dirinya sendiri dengan sesekali dia melihat ke arah ponselnya.


Dia berusaha untuk menghubungi suaminya, namun di saat itu dia ragu. Dia takut jika dirinya menganggu suaminya yang sedang bekerja bersama dengan Sarah.


Setelah berpikir panjang, akhirnya Tasya pun menghubungi Zaka yang sedang bekerja, namun dia tidak menghubungi dengan panggilan dia hanya mengirim sebuah pesan kepada Zaka yang bertanya tentang kabar kepada suaminya.


Ketika pesan sudah terkirim, Tasya melihat pesan yang dikirimkannya hanya bercentang satu. Melihat hal itu, Tasya terdiam dengan sesekali melihat layar ponselnya berharap kalau centang pada pesannya berubah menjadi dua centang. Namun, harapan itu pupus dimana setalah menunggu cukup lama pesan itu masih bercentang satu dan tidak ada jawaban dari Zaka tentang hal ini yang membuat Tasya khawatir sekaligus mulai curiga dengan Zaka.


Namun saat itu dia meyakinkan dirinya kalau suaminya tidak akan mungkin melakukan hal hal yang tidak baik di dalam hubungan mereka berdua.


 

__ADS_1


__ADS_2