
Waktu berlalu begitu cepat, akhirnya Ibu Zaka dan Tasya sampai di rumah. Saat itu Ibu Zaka terus memikirkan Zaka yang berada di kantor, saat itu di sepanjang perjalanan dia hanya melamun. Menyadari hal itu, Tasya yang melihat ibu mertuanya terus melamun. Dia memegangi salah satu bahu ibunya.
"Mama kenapa? Apa yang Mama pikirkan?" Tanya Tasya kepada ibu mertuanya.
Mendengar hal itu, Ibu Zaka yang melamun memecah lamunannya. Dia tidak menjawab pertanyaan Tasya, dia hanya turun dari mobil dengan diam seribu bahasa.
Menyadari hal itu, Tasya tampak sangat heran dengan sikap ibunya.
"Ada apa dengan Mama? Kenapa setelah pulang dari kantor dia bersikap seperti ini?" Tanya Tasya di dalam hatinya dengan pandangan mata yang melihat ibunya.
"Non, kita mau kemana lagi?" Tanya supir setelah dirinya melihat Tasya tidak turun dari mobil.
"Tidak Pak, kita tidak kemana mana." Aku turun dari mobil, dengan perasaan bingung yang terus menyelimuti hati Tasya. Dia heran dengan sikap ibunya yang tiba tiba berubah.
Saat berada di dalam rumah, Tasya yang saat itu baru saja masuk ke dalam rumah. Dia menerima kejutan yang sangat luar biasa, dimana di waktu itu Ibu Zaka memegangi tangannya dengan sangat erat dan menariknya kembali keluar dari dalam rumah.
Melihat hal itu, Tasya sangat bingung. Dia meminta ibunya untuk melepaskan tangannya yang di pegang dengan erat oleh dirinya.
Ketika dia dan ibu mertuanya sudah berada di luar rumah, Ibu Zaka melepaskan tangan Tasya dengan sedikit kasar.
"Kenapa, hah? Kenapa kamu memaafkan wanita itu?" Tanya Ibu Zaka dengan sangat marah dengan Tasya.
"Kenapa Mama? Apa salahnya dengan semua itu? Aku hanya memaafkan atas apa yang dia lakukan, dan aku juga menasehati dia agar dia tidak melakukan kesalahan yang sama lagi, apa salahnya dengan hal itu?" Jawab ku dengan nada rendah.
__ADS_1
"Ini bukan kesalahan itu Tasya. Kamu tidak tahu sikap Sarah yang asli, ketika kamu memberi dia maaf pertama kali, maka dia akan melakukan kesalahan untuk kedua kali. Dan ... Dan kesalahan itu akan semakin besar dan sulit untuk kamu terima." Ucap Ibu Zaka dengan sedih dan tegas. Setalah itu dia memegangi kedua lengan Tasya dengan sangat erat.
"Dengarkan Mama, Mama tidak ingin masa lalu Mama terulang lagi ke kamu. Mama tidak akan mungkin bisa menerima hal itu. Kamu memang menantu Mama, tapi Mama ... Mama tidak ingin kamu terluka, karena Zaka ."
Mendengar hal itu, Tasya menghela nafas perlahan. Dia berbalik memegangi tangan ibu mertuanya dengan lembut.
"Mama, tidak semua orang itu sama dengan Papa. Aku melihat Mas Zaka itu benar benar cinta dengan aku, dia sangat amat tulus mencintai aku. Maka dari itu, aku mohon dengan Mama. Tolong Mah, tolong jangan curiga dengan Mas Zaka. Aku yakin, dia akan selalu setia mencintai aku," jawab Tasya dengan baik. Setalah itu dia mengajak ibunya masuk ke dalama rumah.
Di rumah Afridi, Vira, Nasya dan ayahnya terlihat sedang merapikan taman rumah Dokter Afridi. Saat itu Ayah Vira sedang memotong motong rumput dan merapikannya. Sedangkan Vira dan Nasya memegangi sapu dan membersihkan sampah dari daun yang di potong oleh ayah mereka.
Beberapa saat kemudian, pembantu Dokter Afridi datang dengan membawa minuman dingin untuk mereka bertiga.
Di saat yang bersamaan, Dokter Afridi pulang ke rumah untuk melakukan makan siang.
Saat itu mobilnya masih terparkir di luar rumah sedangkan dirinya masuk ke dalam rumahnya dengan berjalan kaki.
Dia berjalan melewati depan rumah Dokter Afridi dengan memanggil manggil nama anak anaknya dengan lirih.
Saat itu, Dokter Afridi masih tidak menyadari ada orang gila di depan rumahnya. Dia hanya terus berjalan menuju ke dalam rumah, sedangkan Sera dia duduk di depan gerbang rumah Dokter Afridi.
"Vira! Nasya! Mari makan siang bersama saya," ucap Dokter Afridi untuk mengajak Keluarga Vira makan bersama dengan dirinya.
Melihat Dokter Afridi pulang ke rumah untuk makan siang, pembantunya terlihat heran. Dia merasa ada sesuatu yang berubah di dalam diri Dokter Afridi setelah bertemu dengan keluarga Vira. Hal itu terjadi karena selama ini, selama dia bekerja di rumah Dokter Afridi. Dia tidak pernah makan siang di rumah. Dia akan makan siang di luar bersama dengan teman temannya.
__ADS_1
Menyadari kalau Dokter Afridi akan makan siang di rumah pembantunya pun bergegas menyiapkan makan siang untuk mereka.
Mendengar ajakan makan dari Dokter Afridi, Vira dan keluarganya mau dan dia makan bersama dengan Dokter Afriadi seperti sebuah keluarga.
Di rumah Tasya, Tasya tengah berada di dalam kamarnya. Dia terus memikirkan apa yang di ucapkan oleh ibu mertuanya.
"Kenapa aku merasa, apa yang di ucapkan Mama itu benar? Ada apa dengan aku? Apa aku mulai curiga dengan Mas Zaka?" Ucap Tasya dengan sedih dan terus kepikiran atas ucap yang di katakan oleh ibu mertuanya.
"Tapi kenapa? Kenapa aku bisa curiga dengan suami ku sendiri?" Ucap Tasya melanjutkan ucapannya yang sebelumnya.
*
Di kantor, Zaka yang saat itu tengah berada di ruangannya. Terlihat sibuk dengan beberapa dokumen penting yang harus di tandatangani olehnya.
Saat itu, Zaka terlihat sangat letih. Menyadari hal itu, dengan mengetuk pintu, Sarah meminta izin untuk masuk ke dalam ruangan Zaka. Setelah mendapatkan izin, Sarah masuk ke dalam ruangan Zaka dengan tersenyum kepada Zaka yang sedang letih.
"Pak, saya lihat bapak sangat letih. Apakah bapak mau beristirahat, biar pekerjaannya saya yang ganti?" Ucap Sarah dengan nada sedikit menggoda Zaka.
"Tidak Sarah, kamu pergi saja. Saya tidak masalah melakukan ini sendiri, terimakasih sudah menawari saya hal itu," jawab Zaka dengan tegas kepada Sarah. Menyadari kalau Zaka menolak dirinya, Sarah terlihat sangat kesal dan dia langsung pergi dari ruangan Zaka dengan wajah yang tertekuk.
Saat berada di dalam ruangannya sendiri. Sarah sangat marah, karena dia merasa tidak di hargai atas usahanya.
"Bisa bisanya Pak Zaka menolak aku, aku cantik. Dari pada istrinya saja masih cantikan aku, tapi kenapa? Kenapa dia bisa menolak aku?" Ucap Sarah dengan sangat marah lalu dia memukul sebuah papan nama yang bertuliskan namanya hingga jatuh ke lantai.
__ADS_1
Saat itu dia benar benar sangat marah, dia tidak bisa mengendalikan emosinya karena penolakan itu.
"Zakaria, mungkin hari ini kamu bisa menolak ku. Tapi ingat, suatu hari nanti kamu akan aku buat bertekuk lutut di hadapan ku, aku akan buat kamu dan istri mu akan mengemis di hadapanku, ingat itu!." Ucap Sarah dengan tegas di dalam ruangannya sendiri.