Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
7. Flashback


__ADS_3

"Sayang, kenapa kamu terus memikirkan hal ini? Aku sudah katakan kepada kamu. Ibu tidak masalah tinggal disini, ibu bisa tinggal di sini sesuka hatinya." Ucap Mas Zaka dengan memegangi tangan kiri ku yang berada di atas paha.


"Bukan itu yang aku pikirkan. Aku memikirkan hal ... Hal yang menurut ku aneh."


"Aneh bagaimana menurut kamu?" Tanya Mas Zaka kepada ku dengan bingung.


Mendengar pertanyaan itu, aku terdiam selama beberapa saat. Mataku melihat ke arah Mas Zaka yang duduk di hadapan ku.


Ku ceritakan kepada Mas Zaka ketika aku berada di rumah ibu angkat ku di mana di waktu itu aku baru saja sampai di rumah ibu angkat ku.


Flashback beberapa Minggu sebelumnya....


Saat itu aku baru sampai di rumah ibu angkat ku. Aku sangat bahagia karena sudah lama tidak kumpul dengan keluarga ku dan kali ini aku bisa kumpul dengan keluarga ku lagi.


Ketika aku berada di depan rumah, aku mengetuk pintu berharap ketika pintu terbuka raut muka keluarga ku bahagia. Namun, hal itu tidak seutuhnya benar. Waktu itu kulihat ayah angkat ku dan adek angkat ku memang sangat bahagia melihat ke datang ku. Tapi tidak dengan ibu ku, melihat kedatangan ku ia hanya dan terlihat tidak bahagia dengan kehadiran ku yang datang ke rumah.


Di waktu itu, aku yang habis perjalanan masuk ke dalam kamar masa kecil ku. Ku peluk barang barang yang ada di dalam ruangan itu dengan penuh kerinduan.


Ketika aku tengah meluapkan rasa rinduku, adik angkat ku yang berkulit putih, seksi dan tinggi sepadan dengan ku dengan wajah yang sangat cantik menghampiri diriku yang berada di dalam kamar.


"Kakak!" Panggil adik angkat ku tersebut dengan senyum kecil di bibirnya.


"Hey, ada apa?" Jawabku dengan mengehentikan tindakan ku dan ku ajak adik angkat ku duduk di atas tempat tidur yang aku tiduri.


"Kakak, aku syukur sekali kakak bisa datang kemari. Aku bisa cerita tentang kehidupan aku dengan kakak," jawab adik angkat ku dengan menunduk.


Bagiku, ketika berada di rumah ibu hari itu memang menjadi hari yang sangat luar biasa. Karena adik angkat ku yang tengah berbicara dengan aku di kamar itu tiba tiba datang dan ingin mencurahkan isi hatinya kepada ku. Padahal, sebelum sebelumnya dia tidak pernah melakukan hal ini kepadaku.

__ADS_1


Sebelum aku menceritakan tentang curhatan hati adik angkat ku. Aku perkenalkan namanya kepada kalian. Namanya adalah Zoya, dia sedang melanjutkan pendidikan di universitas terkenal di kota yang mereka tinggali.


Zoya sangatlah pandai, ia pandai dalam pendidikan dan juga berkisah romantis. Walaupun aku tidak pernah mendengar secara langsung dari dirinya, seringkali aku bertanya kepada teman temannya tentang laki laki yang tengah dekat dengan dirinya.


Namun, hari itu benar benar berbeda. Orang yang tidak pernah terbuka dengan ku ia tiba tiba terbuka dan menceritakan kepada ku bahwasanya dirinya tengah dekat dengan seorang laki laki yang berada di universitasnya.


Dia mengatakan bahwa namanya dalam Fahri, namun ia sudah memiliki kekasih yang tidak lain adalah teman sekelas dengan Fahri yang memang sangat cantik dan sangat populer di universitas itu.


Ketika ia tengah asik bercerita, dan aku juga asik mendengarkan cerita nya. Tiba tiba Zoya memegangi tanganku dengan lembut. Ia memandangku dengan wajah yang murung dan sedih.


Melihat hal itu, ku balas tangan Zoya dengan pegangan yang erat,  lalu aku tersenyum kepada Zoya dan melihat ke arah Zoya yang di kala itu matanya di penuhi oleh air mata.


"Maaf Kak. Aku benar benar minta Maaf, aku tidak pernah baik dengan kakak. Selama ini, aku hanya bersikap dingin dan tidak mau terbuka dengan kakak," ucap Zoya dengan sedih dan menundukkan kepalanya.


Ketika ku lihat hal itu, ku angkat perlahan kepala Zoya yang menunduk dan ku hapus air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya.


"Aku menangis bukan karena cerita itu Kak, aku menangis karena aku tidak pernah bersikap baik dengan Kakak. Aku selalu dingin dengan Kakak," jawab Zoya dengan air mata yang mengalir.


Aku yang mendengar hal itu, perlahan ikut meneteskan air mata. Namun, saat itu aku mencoba menegarkan diriku agar aku tidak terlihat sedih di depan Zoya.


Aku memeluk erat Zoya untuk menangkan Zoya dan ku belai lembut kepalanya. Ku rasa Zoya Menag sudah benar benar berubah dari yang tidak peduli, kini dia sudah sangat menyayangi ku.


"Sudah, kamu jangan menangis lagi. Sekarang, kamu lupakan tentang Fahri dan kamu fokus untuk kuliah. Kakak mau, kamu bisa kuliah sampai lulus, oke."


Zoya pun anggukan, setelah itu ia keluar dari kamar ku.


*

__ADS_1


*


Malam pun tiba, saat itu ayah, Zoya dan ibu angkat ku sudah berada di ruang makan. Sedangkan aku tengah menerima panggilan video dari suami tercintaku di kamar ku.


Ketika panggilan video sudah berakhir. Ku pergi ke kamar Zoya untuk mengajak Zoya jalan jalan untuk menghibur dirinya yang patah hati dengan Fahri. Namun saat itu di tidak ada di dalam kamarnya.


Ketika aku menyadari kalau Zoya tidak di kamar, aku menuju ke ruang makan. Di situ aku sudah melihat kalau Zoya dan yang lainnya sudah berada di sana dan bersiap untuk makan.


"Kak, ayo kita makan," ajak Zoya kepada ku. Pada awalnya aku tidak memberi jawaban apapun, aku melihat ke arah ibu angkat ku yang saat itu memasang wajah kesal dan marah.


Menyadari hal itu, aku hanya diam dan tidak mengatakan sepatah kata pun. Namun, ayah angkat ku yang baik memaksa aku untuk bergabung dan makan malam bersama dengan mereka.


Akhirnya aku pun menerima hal itu dengan melihat wajah ketidaksukaan ibu dengan ku.


Ketika makan malam sudah selesai, aku membantu ibu untuk merapikan piring. Namun, ketika aku ingin memegangi salah satu piring ibu menghentikan aku.


"Apa yang kamu lakukan Nona Cantik? Jangan ikut ikut, nanti Pangeran Tampan mu marah kalau tahu Nona Cantiknya bekerja di sini."


"Apa maksud ibu bicara seperti itu?" Tanyaku.


"Maksud ibu, ngapain kamu sini? Apakah kamu mau pamer, kalau kamu sudah punya banyak emas dan harta?" Jawab ibuku dengan bernada sinis kepada ku.


Mendengar ucapan itu, aku terdiam. Aku benar benar tidak percaya kalau ibu yang aku sayangi selama ini bersikap seperti itu.


Setalah mengatakan hal itu, tanpa banyak berkata lagi. Ibu angkat ku pergi dengan membawa beberapa tumpuk piring kosong ke dapur.


Hati ku yang melihat sikap ibu seperti itu sungguh terluka, tapi apalah daya ku, dia adalah wanita yang sudah membesarkan aku maka aku harus menuruti dirinya.

__ADS_1


__ADS_2