
Waktu berlalu begitu cepat, kelahiran anak pertama Tasya yang sudah di nanti kan kini telah tiba. Seorang bayi kecil dan cantik sudah lahir ke dunia tanpa hadirnya seorang ayah.
"Mama, andai saja Mas Zaka masih ada. Mungkin, dia akan sangat bahagia melihat putri cantiknya sudah lahir di dunia," ujar Tasya dengan sedih sambil sesekali melihat ke arah anaknya yang tidur di rangkulannya.
"Iya Tasya, apa yang kamu katakan itu benar. Zaka pasti sangat bahagia dengan hadirnya anak ini," jawab Ibu Zaka.
"Mama, aku mau kasih nama anak ini Cahaya Tsania Putri Zaka, bagus atau tidak?" tanya Tasya dengan baik.
"Nama yang bagus, Mama setuju dengan nama yang kamu pilih," jawab Ibu Zaka dengan baik sambil tersenyum dengan bahagia.
Waktu berlalu begitu cepat, akhirnya Tasya dan Cahaya pulang ke rumah, saat itu semua orang menyambut Tasya dengan sangat bahagia. Mereka berpesta dan bercanda ria.
"Aku ikut bahagia, akhirnya kamu dan anak kamu sudah pulang ke rumah lagi. Aku yakin Zaka pasti sangat bahagia dengan hadirnya anak ini," ucap Fian dengan baik sambil berjalan di samping Tasya yang menggendong Cahaya.
"Iya Mas, apa yang Mas katakan itu benar, andai saja Mas Zaka ada di sini. Dia pasti sangat bahagia dengan melihat hal ini," jawab Tasya lalu di melanjutkan langkah kaki nya menjauhi Fian.
Setalah acara penyambutan Tasya dan Cahaya berakhir, semua tamu yang di undang oleh Tasya pulang. Saat berada di dalam mobil. Fian bertanya tentang pernikahannya dengan Tasya, dia berencana untuk melamar Tasya.
Mendengar apa yang di katakan oleh Fian, Ibu Fian terlihat sangat terkejut. Namun dia hanya bisa mendukung anaknya yang ingin menikahi Tasya.
"Fian, Mama selalu mendukung setiap keputusan kamu. Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu, tapi Mama mohon dengan kamu, jika apa yang kamu inginkan tidak terjadi jangan pernah memaksanya. Maksud Mama .. Kalau misalnya, Tasya menolak kamu, Mama mohon jangan memaksa dia untuk mencintai kamu," ucap Ibu Fian dengan baik kepada Fian.
Fian yang mendengar hal itu dia tersenyum dengan mengemudikan mobilnya. Sesampainya di rumah, Fian duduk di atas tempat tidurnya dengan memandang ke arah sebuah cincin yang akan di pasangannya di jari manis Tasya.
Fian terlihat sangat bahagia, dia berpikir kalau Tasya akan menerima dirinya.
Waktu berlalu begitu cepat, hari yang di tunggu tunggu oleh Fian tiba. Saat itu Tasya tangah duduk di halaman rumah dengan menggendong Cahaya dan mendorong kereta bayi milik Huda. Melihat hal itu Fian menghampiri Tasya yang tampak kerepotan.
"Hey..." sapa Fian kepada Tasya. "Apa kamu perlu bantuan?" tanya Fian lagi. Namun, sebelum Tasya menjawab apa yang ditanyakan oleh Fian. Fian terlihat menggendong Huda.
Melihat hal itu Tasya sangat terkejut.
"Apa aku tidak boleh menggendong Huda hingga kamu terlihat sangat terkejut seperti itu?" tanya Fian.
__ADS_1
"Tidak Mas, oh iya. Ada apa Mas kemari? Apa Mas tidak kerja hari ini?" tanya Tasya dengan baik.
"Hari ini adalah hari yang sangat spesial di dalam hidup ku jadi aku pikir aku tidak akan pergi bekerja!" jawab Fian.
Mendengar apa yang di katakan oleh Fian Tasya hanya tersenyum, setalah itu dia melanjutkan berjalan bersama dan berdampingan.
"Tasya, aku boleh tanya ke kamu?"
"Iya, tanya saja Mas Tidak papa. Apa yang ingin di tanyakan oleh Mas? " jawab Tasya.
"Kalau seandainya ada seseorang yang mengatakan perasaan ke kamu, kira kira apa kamu akan menerimanya?" tanya Fian dengan malu dan sesekali melihat ke arah Tasya.
Tasya yang mendengar pertanyaan itu, terdiam selama beberapa saat.
"Iya tentu, asal laki laki itu baik dengan anak anak ku dan keluarga ku yang lainnya, maka aku akan terima dengan setulus hati ku," jawab Tasya.
Mendengar jawaban dari Tasya, Fian terlihat sangat bahagia. Dia tersenyum bahagia dan sangat yakin kalau Tasya akan menerima dirinya menjadi suaminya.
"Tasya, maukah kamu menikah dengan aku?" tanya Fian dengan duduk bertekuk lutut di hadapan Tasya.
Tasya hanya bisa diam dengan mulut terbuka lebar, dia benar benar sangat terkejut dengan apa yang di katakan oleh Fian. Saat itu Tasya masih tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Fian, dia mencoba membangunkan Fian namun ketika dia mengetahui kalau Fian sungguh sungguh melamar dirinya. Tasya benar benar sangat terkejut, dia hanya diam dengan mata berkaca-kaca.
Suasana itu seketika berubah ketika secara tiba tiba Cahaya menangis, menyadari kalau Cahaya menangis karena lapar dan ingin minum susu. Tanpa menjawab sepatah kata pun, Tasya meninggalkan Fian. Fian yang melihat hal itu, dia hanya sedih. Dia mengejar Tasya dan mencoba mempertanyakan lagi kepada Tasya atas apa ajakan menikah Fian.
Namun, saat itu Tasya menangis dan tidak ingin membicarakan pernikahan dengan siapapun.
"Ada apa? Kenapa kamu pergi dan tidak menjawab pertanyaanku?" tanya Fian.
"Anak ku menangis Mas, dia membutuhkan susu. Aku mohon izinkan aku untuk pergi, aku mohon," ucap Tasya dengan air mata yang terus berderai membasahi mata nya.
"Tasya, apa kamu menolak ajakan ku?" jawab Fian dengan mata yang berkaca-kaca.
Mendengar hal itu, Tasya langsung terdiam. Dia hanya menunduk kepalanya dengan air mata yang berderai membasahi pipinya.
__ADS_1
"Bukannya aku menolak Mas, aku hanya belum siap. Aku hanya ingin membesarkan anak anakku terlebih dahulu," jawab Tasya.
"Jika itu keinginan kamu, kenapa kamu pergi?" jawab Fian dengan memegangi kedua lengan Tasya yang saat itu sedang sedih.
"Aku hanya tidak mau, jika nanti Mas terluka dengan ucapan ku, makanya aku pergi!."
Mendengar hal itu, Fian merangkul Tasya dengan erat. Dia mencoba menenangkan Tasya. Ketika Tasya sudah tenang, dia melepaskan rangkulan nya dan tersenyum kepada Tasya.
"Kamu tidak perlu pergi, aku ... Aku tahu kalau kamu belum siap bersama dengan aku ... Aku hanya membutuhkan jawaban kamu, entah itu pasti atau tidak pasti. Aku akan setia untuk menunggu kesiapan kamu, aku tidak akan memaksa kamu, sampai kapanpun aku tidak akan memaksa kamu!."
Mendengar ucapan itu, Tasya hanya diam seribu bahasa. Dia hanya menatap Fian dengan mata di penuhi oleh air mata.
"Jawab ku, aku mohon ... Aku sangat amat memohon ke Mas Fian, tolong beri kesempatan aku untuk menata hidupku terlebih dahulu!" jawab Tasya.
Fian yang mendengar apa yang di katakan oleh Tasya, dia hanya tersenyum kepada Tasya.
"Aku siap untuk menunggu saat itu tiba, aku berjanji kepada kamu!."
Setalah mengatakan hal itu, Fian dan Tasya pun pergi ke rumah bersama. Meraka bersikap seolah tidak terjadi sesuatu di antara Fian dan Tasya.
Sesampainya di rumah Tasya, Fian bergegas berpamitan kepada Tasya. Dia terlihat tidak ingin berlama lama, karena dia merasa sikap ibu mertua Tasya sangat tidak suka dengan kehadiran dari Fian. Setalah berpamitan kepada Tasya dan ibu mertuanya, Fian masuk ke dalam mobil.
Ketika dia berada di dalam mobil, dia terlihat sedih dengan memandang ke arah Tasya yang masih berdiri di depan pintu bersama dengan ibu mertuanya.
Setalah itu dia pun pergi dari rumah Tasya dengan mata yang berkaca kaca.
Di sepanjang jalan Fian menuju ke rumahnya, Fian terus menangis.
"Kamu tenang saja Tasya, sampai kapan pun aku akan selalu menunggu kamu. Aku tidak akan memaksa kamu, aku janji!" ucap Fian dengan sedih.
Di rumah Tasya, Tasya terus mengingat kejadian ketika Fian melamar dirinya. Dia terlihat bahagia dengan hal itu, namun dia juga merasakan sebuah kesedihan di dalam hatinya.
"Aku akan menerima kamu Mas, aku janji. Tapi tidak untuk saat ini," ucap Tasya dalam hatinya dengan sedih.
__ADS_1