
"Mama, ada apa Mah? Kenapa Mama bisa bertengkar dengan Sarah sampai seperti itu?" Tanya Tasya setalah dirinya mengajak ibu mertuanya duduk di sofa yang berada di ruangan Zaka. Saat itu Tasya duduk di samping ibu mertuanya dengan memegangi salah satu tangan ibunya.
"Apa yang terjadi?" Lanjut Tasya.
"Bukan apa apa, ini hanya masalah kecil. Kamu jangan khawatir," jawab Ibu Zaka berbalik membalas tangan Tasya yang memegangi tangannya.
"Mama jangan bohong, Tasya tahu. Mama tidak akan mungkin marah seperti itu, jika masalahnya adalah masalah kecil."
Mendengar ucapan itu, Ibu Zaka terdiam beberapa saat. Dia menatap polosnya wajah Tasya.
"Entahlah Tasya, Mama tidak tahu apa yang sedang Mama rasakan. Mama merasa, apa yang terjadi di masa lalu akan terjadi lagi di masa kini," ucap Ibu Zaka dalam hatinya dengan pandangan mata yang secara tiba tiba bersedih.
Tasya yang menyadari hal itu, dia sangat heran sekaligus bingung.
"Mama, ada apa?" Tanya Tasya lagi setelah dia melihat ibunya bersedih.
Mendengar pertanyaan itu, Ibu Zaka masih diam saja. Dia hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda tidak terjadi sesuatu. Melihat jawaban dari ibu mertuanya, Tasya memeluk erat ibu mertuanya. Dia berusaha untuk menenangkan ibunya.
Ketika Tasya merasa ibunya sudah tenang, dia bangun dari duduknya. Dia menghampiri Zaka yang saat itu berdiri tidak jauh dari dirinya. Ketika dia sudah menghampiri Zaka, Tasya memegangi tangan Zaka dan dia menarik suaminya beberapa langkah dari ibunya untuk menanyai suaminya tentang kejadian yang terjadi sebelumnya.
"Mas, apa yang terjadi dengan Mama? Kenapa Mama begitu marahnya dengan Sarah?" Tanya Tasya kepada Zaka.
"Sebenarnya yang tejadi adalah.... " Zaka pun menceritakan kepada Tasya apa yang terjadi. Dia menjelaskan kepada Tasya dari ketika dirinya mengambil makanan yang di bawa ibunya, hingga tiba tiba tanpa mengetuk pintu Sarah masuk ke ruangan Zaka.
Saat itu, Tasya hanya mendengarkan penjelasan dari suaminya tentang kejadian yang terjadi sebelumnya. Setalah mendengar keseluruhan cerita, Tasya meminta Zaka menemani ibunya sedangkan dirinya ingin pergi ke ruangan Sarah untuk memberi nasehat kepada Sarah tentang attitude yang baik.
Saat itu Tasya tampak tenang, dua berjalan keluar dari ruangan Zaka dan menghampiri ruangan yang di tempati oleh Sarah.
__ADS_1
Ketika Tasya berada di depan pintu, dia mengatakan pintu beberapa kali. Terdengar pula, dia memanggil manggil nama Sarah beberapa kali.
Mendengar Tasya memanggil dirinya, Sarah membuka pintu dan keluar dari ruangannya. Dia tampak sedih dengan bentakan yang di lakukan oleh Tasya.
"Bu Tasya, saya minta maaf Bu. Saya sungguh sungguh minta maaf, bukan maksud saya untuk lancang Bu. Saya hanya ingin meminta maaf kepada Pak Zaka, itu saja. Saya mohon dengan ibu, tolong jangan pecat saya," ucap Sarah dengan melipat kedua tangannya di depan dada dengan derai air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Sarah, kamu tidak perlu minta maaf kepada saya. Bagi saya, kamu tidak salah apapun. Kamu hanya harus minta maaf dengan ibu mertua ku," jawab Tasya dengan baik kepada Sarah. " Dan ... Untuk pemecatan, aku sedikitpun tidak ingin melakukan itu. Aku mengusir kamu karena aku tidak ingin kalau perdebatan kamu dengan Mama ku semakin panas."
Mendengar ucapanku Sarah hanya diam. Dia hanya menangis dengan menundukkan kepalanya, sambil sesekali menganggukkan kepala.
Melihat hal itu, Tasya memegangi salah satu lengan Sarah dengan perlahan.
"Apa yang kamu lakukan itu memang salah? Maka wajar, wajar kalau mama marah dengan kamu. Aku harap, kamu tidak melakukan hal ini lagi, karena dalam hal kerja .. attitude adalah hal yang paling penting Sarah. Kalau kamu mengulangi kesalahan ini lagi, aku tidak tahu ... Aku sungguh sungguh tidak tahu, Mas Zaka akan memberi kamu kesempatan lagi atau tidak?" Ucap Tasya kepada Sarah.
Sarah yang mendengar hal itu, dia hanya diam. Dia mendengar apa yang di jelaskan oleh Tasya dengan sesekali menganggukkan kepalanya.
Mendengar jawaban itu, Tasya tersenyum. Dia melepaskan lengan Sarah yang ia pegang.
Setelah itu dia pergi ke ruangan yang di tempati oleh Zaka dan ibunya.
Ketika Tasya sudah berada di ruanganĀ Zaka. Sarah mengikuti Tasya dari belakang, dia berjalan mendekati Ibu Zaka untuk meminta maaf kepada Ibu Zaka.
Melihat kedatangan Sarah, Ibu Zaka yang saat itu sudah tenang secara tiba tiba naik pitam. Dia kembali marah kepada Sarah dan meminta Tasya untuk mengusir Sarah.
Tasya yang menyadari emosi ibunya naik setelah melihat Sarah, dia berusaha untuk menenangkan ibunya.
"Mama, tenang. Sarah datang kemari dia ingin minta maaf dengan Mama." Ucap ku dengan memegangi kedua lengan ibu mertuanya agar tenang.
__ADS_1
Mendengar ucapan itu, Ibu mertua Tasya pun tenang. Walaupun dia masih terlihat emosi, namun emosinya sudah mulai berkurang.
"Ibu, Pak Zaka, saya minta maaf. Saya benar-benar minta maaf atas semua sikap tidak sopan yang saya miliki, saya janji saya tidak akan mengulanginya lagi!" Ucap Sarah dengan nada rendah di hadapan Ibu Zaka dan Zakaria.
Mendengar permintaan maaf dari Sarah, Ibu Zaka hanya diam. Dia hanya memandang Sarah dengan tatapan mata yang tajam. Setelah dia menatap tajam, dia berpaling dan melihat menantinya dengan raut muka yang terlihat sedih.
"Sungguh bodohnya kamu Tasya, bisa bisanya kamu memaafkan Sarah. Aku tidak akan biarkan masa lalu terulang lagi." Ucap Ibu Zaka di dalam hatinya dengan mata yang teru menatap ke arah Tasya.
Setalah beberapa saat memandang menantunya, Ibu Zaka kembali melihat Sarah. Dia menganggukkan kepalanya sebagai tanda dia memaafkan atas apa yang di perbuat oleh Sarah.
Melihat hal itu, Tasya tersenyum kepada ibunya begitu pula Zaka yang juga bahagia melihat ibunya bisa memaafkan Sarah.
Menyadari kalau Ibu Zaka sudah memaafkan dirinya. Sarah pun pergi dari ruangan itu dengan raut muka yang sangat bahagia.
"Ya sudah.. Zaka.. Tasya... kita pulang sekarang."
"Mas Zaka tidak mungkin bisa pulang Bu, diakan masih banyak kerjaan," jawab Tasya.
Mendengar jawaban itu, Zaka pun membenarkan apa yang di katakan oleh Tasya.
"Iya Mama, Zaka lagi sibuk sekarang."
Ibu Zaka terlihat kesal, dia langsung pergi dari ruangan Zaka dengan meninggalkan Tasya dan Zaka. Saat itu, raut muka heran terlihat sangat jelas tergambar di raut muka Tasya dan Zaka. Dia heran dengan sikap ibunya yang secara tiba tiba marah dengan mereka berdua.
Di sepanjang jalan, Ibu Zak terus memikirkan Sarah. Dia selalu terngiang dengan masa lalunya yang menjadi masa pedih di dalam hidupnya.
Di dalam mobil, Ibu Zaka hanya diam dengan melamun. Dia terus kepikiran dengan Sarah dan sikapnya yang seolah menguasai perusahaan itu.
__ADS_1
"Betapa bodohnya Tasya, padahal aku melakukan itu demi keutuhan keluarganya. Tapi dia ... Dia justru membiarkan Zaka di kantor dengan wanita itu. Astaga ... Semoga tidak terulang," ucap Ibu Zaka di dalam mobil dengan sedih bercampur khawatir.