
Beberapa hari sudah berlalu, Sarah yang tidak memiliki kegiatan di rumah lama kelamaan mulai bosan dan ingin kembali bekerja. Namun usahanya untuk mencari pekerjaan masih saja tidak membuahkan hasil.
Waktu itu dia duduk di kursi di depan halaman, matanya memandang ke arah ponselnya dengan gambar yang menunjukkan foto Huda. Dia terlihat sedih dengan apa yang dilihatnya. Dia merindukan anak yang paling di sayangi tersebut.
"Huda, bagiamana kabar kamu? Ibu sangat merindukan kamu, andai saja ibu bisa memeluk kamu hari ini. Ibu pasti akan sangat bahagia," ujar Sarah dengan lirih.
Tak berselang lama Bu Asri keluar dari dalam rumah, dia duduk di samping Sarah dan mempertanyakan kepada Sarah apa yang terjadi hingga Sarah bersedih.
"Ada apa Sarah?" tanya Bu Asri dengan baik.
Mendengar apa yang di katakan oleh Bu Asri, Sarah menaruh ponselnya di atas meja. Saat itu dengan sengaja Bu Asri melihat foto dari anak laki laki yang berada di ponselnya.
Menyadari hal itu, Bu Asri mengambil ponsel Sarah dan melihat anak laki laki yang ada di foto itu.
"Ini siapa Sarah? Apa ini anak kamu?" tanya Bu Asri dengan nada lirih.
Mendengar ucapan itu, Sarah terdiam. Tiba tiba raut muka Sarah berubah. Dia bersedih mendengar apa yang dikatakan oleh Bu Asri.
"Ada apa Sarah? Jika kamu punya masalah kamu ceritakan ke ibu, siapa tahu ibu bisa membantu kamu." Sarah pun mendekatkan dirinya ke arah Bu Asri, dia menyandarkan tubuhnya ke arah bahu Bu Asri.
"Bu saya minta maaf, tanpa meminta izin ke ibu saya menyandarkan kepala saya. Dia memang anak saya Bu, namanya Huda. Ayahnya meninggal beberapa hari setelah dia lahir. Dan ... Semua ini terjadi karena kesalahan saya sendiri," jawab Sarah dengan air mata yang terus berderai membasahi matanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu menyalahkan diri kamu sendiri?" Sarah terdiam. Dia menjauhkan kepalanya dan melamun selama beberapa saat.
Setalah melamun, dia pun menceritakan masa lalunya yang menurutnya adalah masa terkelam dalam hidupnya. Dia menceritakan kepada Bu Asri dari awal pertemuan dirinya, hingga terjalinnya hubungan terlarang dan lahirnya Huda. Dia juga menceritakan kepada Bu Asri kejadian kejadian setelah dirinya meninggal Zaka.
Mendengar apa yang di jelaskan oleh Sarah, Bu Asri hanya diam. Dia sangat terkejut dan tidak percaya kalau orang yang terlihat baik, ternyata dia adalah seorang perebut suami orang. Namun, Bu Asri terlihat tidak membenci Sarah. Dia justru lebih sayang dengan Sarah terutama melihat sikap perubahan Sarah yang memang benar benar terlihat dari luar.
Saat itu belaian lembut kasih sayang di dapatkan Sarah dari Bu Asri. Melihat hal itu, Sarah benar benar tidak percaya. Dia sangat kagum dengan Bu Asri yang mana dirinya tidak membenci Sarah, walaupun dia tahu kalau Sarah adalah seorang pelakor.
"Sarah, masa lalu memang terkadang indah namun juga buruk. Jika masa lalu kamu buruk, maka ... Maka di masa yang akan datang atau masa ini. Kamu harus perbaiki sikap kamu, kamu harus bisa menjadi seorang wanita yang mempunyai martabat yang bagus. Jika ada seorang laki laki yang ingin menikahi kamu, maka kamu terima. Asal, dia bukan suami orang atau pacar orang." Ucap Bu Asri menasehati Sarah, Sarah yang mendengar hal itu. Dia hanya seribu bahasa dan membalas senyuman kecil di bibir Sarah.
Beberapa saat kemudian, Sarah keluar dari kamarnya dengan. Dia keluar dengan tampilan yang lebih sederhana, menyadari hal itu, Bu Asri menghampiri Sarah dan berdiri di dekat Sarah.
"Sarah kamu mau kemana?" tanya Bu Asri.
"Oh, ya sudah. Kamu hati hati ya, jangan malam malam pulangnya," ucap Bu Asri.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Bu Asri, Sarah hanya tersenyum. Dia pun berpamitan kepada Bu Asri dan berangkat untuk mencari pekerjaan.
Tak berselang lama, Sarah berada di pinggir jalan. Panas terik membakar tubuh Sarah, namun Sarah tetap berjuang dan tidak terus menerus mengandalkan uangnya yang masih banyak di tas dan di Atm-nya.
"Huh, cuacanya panas sekali." Keluh Sarah dengan menghapus keringat sebiji jagung yang membasahi dahinya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Sarah berada di sebuah taman. Saat itu dia melihat sebuah kursi yang terbuat dari kayu di dekatnya tampak kosong. Melihat hal itu Sarah menghampiri kursi itu dan duduk di kursi itu dengan mematikan nafas perlahan.
Dia terlihat celingukan kesana kemari sedang mencari sesuatu.
"Kemana lagi aku harus cari kerjaan? Apa aku coba ngelamar kerja di perusahaan saja ya, siapa tahu ada lowongan pekerjaan yang di butuhkan? " ujar Sarah dengan penuh harapan dan tidak pernah patah semangat.
Setalah mengistirahatkan sejenak dirinya, akhirnya Sarah bangun dari kursi taman dan melanjutkan mencari lowongan pekerjaan.
Setalah beberapa saat berjalan, akhirnya tibalah Sarah di sebuah perusahaan. Perusahaan itu adalah perusahaan pertama yang di lihatnya setalah dirinya tinggal di rumah Bu Asri.
Melihat hal itu Sarah pun menghampiri salah satu penjaga yang ada di pos penjagaan. Dia berniat bertanya soal lowongan pekerjaan, namum orang yang menjaga perusahaan itu meminta Sarah untuk masuk dan bertanya kepada administrasi.
Mendengar hal itu, Sarah pun pergi ke tempat administrasi. Dia terlihat sangat berharap kalau di perusahaan itu ada lowongan pekerjaan yang pas untuk dirinya.
"Permisi Mbak, perkenalkan saya Sarah. Saya mau tanya, apakah di perusahaan ini ada lowongan pekerjaan?" tanya Sarah.
"Baik Mbak, mohon di tunggu saya akan periksa," jawab seorang wanita yang berada di hadapannya.
Akhirnya, Sarah pun menunggu wanita yang menjaga tempat admin. Beberapa saat kemudian, wanita yang menjadi Administrasi memberi tahu bahwasanya ada lowongan menjadi Seorang official girl di perusahaan itu.
Mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu, Sarah sangat bahagia. Dia bergegas mengeluarkan dokumen pendaftaran dari tasnya. Dia terlihat sangat antusias dengan pekerjaan itu, walaupun hanya sebatas official girl, namun dia sangat bersyukur dan sangat bahagia karena dia akan mendapatkan pekerjaan baru.
__ADS_1
"Mbak Sarah, begini ya. Dokumen nya saya terima dan untuk pemberitahuan di terima atau tidaknya Mbak di perusahaan ini, nanti saya akan memberi tahu lewat ponsel yang tertulis di kertas pendaftaran ini!" ujar wanita itu.
"Baik Mbak, " jawab Sarah dengan sangat bahagia. Setalah itu dia pergi dari perusahaan itu dan pulang ke rumah Bu Asri.