Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
2. Kos kosan


__ADS_3

Di dalam rumah, seorang wanita dengan rambut panjang berwarna hitam tengah duduk di sofa. Dia adalah Sintia, sahabat dari Tasya yang membantu Tasya menemukan Huda.


Saat itu dia terlihat membaca sebuah buku dengan perut buncit dan besar. Dia mamang sedang mengandung. Usia kandungannya berkisar 5 sampai 6 bulanan.


Ketika Sintia tengah membaca buku, Tasya datang ke rumah Sintia. Melihat kedatangan Tasya, Sintia sangat bahagia dengan perlahan dia berjalan mendekati pintu dan membuka pintu.


Saat pintu sudah terbuka, pelukan erat di lakukan Sintia kepada Tasya. Dia benar benar sangat bahagia atas kedatangan Tasya yang secara tiba tiba.


"Aku bahagia sekali, aku benar benar tidak menyangka kalau kamu akan datang dan berkunjung kemari," ujar Sintia dengan berjalan bersama menuju ke ruang tamu. "Oh iya, apa Huda dan Cahaya tidak kamu ajak?"


"Tidak, mereka sama nenek dan kakeknya di rumah. Dan ... Ngomong-ngomong, bagaimana kabar dari anak dan ibunya?" tanya Tasya.


"Aku baik, dan anak aku juga baik. Kamu duduk dulu ya, aku akan buatkan minum untuk kamu."


"Tidak perlu," jawab Tasya lalu dia mendudukkan Sintia di dekatnya dan berbincang bersama tentang anak.


Di tempat lain, panas matahari membakar kulit Sarah. Dia berjalan mencari tempat tinggal yang baru, namun dia masih saja belum menemukan tempat yang cocok untuk dia tinggali.


Beberapa saat kemudian, tibalah dirinya di sebuah desa. Di sana Sarah mencoba bertanya tanya kepada beberapa orang di dekatnya tentang kos kosan yang kosong.


Akhirnya setalah beberapa bincang bincang dengan salah satu warga, Sarah di antarkan ke rumah Bu Asri. Dia adalah pemilik kos kosan terbesar di desa itu. Saat itu Sarah duduk di kursi yang ada di depan rumah Bu Asri, dia menunggu Bu Asri dengan duduk di kursi itu.


Setalah menunggu beberapa saat, keluarlah seorang wanita dengan kerudung dan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya menemui Sarah. Dia ada Bu Asri, seorang ustadzah yang sangat terkenal di desa itu.


"Maaf Bu, saya duduk tanpa meminta izin kepada ibu," ucap Sarah dengan lirih.

__ADS_1


"Tidak papa, dan saya Bu Asri. Apa kamu butuh tempat tinggal?" jawab Bu Asri dengan lembutnya.


"Iya Bu."


Setalah melakukan perbincangan masalah harga, akhirnya Sarah pun bisa tinggal di kos kosan Bu Asri.


Keesokan harinya, bau wangi dari masakan Bu Asri membangunkan Sarah. Dia sangat tergiur dengan aroma harum dan ingin segera menyantap makanan tercium lezat itu.


Tak berselang lama, tanpa mencuci muka dan membersihkan dirinya Sarah keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur. Dia benar benar tergoda dengan bau makanan dari masakan Bu Asri.


"Bu Asri, masakan ibu baunya enak sekali." Puji Sarah dengan sedikit mendekatkan tubuhnya dan mencium bau masakan Bu Asri yang memang tampak sangat lezat.


"Terimakasih, em ... Kamu mandi, habis itu kamu makan dengan kami," ucap Ibu Asri.


"Tidak perlu Bu, nanti biar saya beli dari luar saja. Tapi maaf, bukannya saya tidak suka dengan masakan Bu Asri. Saya hanya tidak ingin merepotkan ibu," jawab Sarah dengan baik.


Mendengar hal itu, Sarah pun tersenyum. Setalah itu dia pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ketika dia sudah selesai membersihkan diri, dengan tampilan yang sedikit terbuka Sarah keluar dari kamarnya. Saat itu dia tidak tahu kalau Bu Asri memiliki seorang anak laki laki yang tidak di rumah sebelum.


Saat itu laki laki itu sangat terkejut melihat tampilan Sarah. Begitupula Sarah, dia sangat terkejut dengan kehadiran tiba tiba laki laki itu.


Menyadari kalau anak laki laki nya melihat aurat dari Sarah, Bu Asri yang saat itu sedang mempersiapkan makanan. Dia meminta Sarah untuk bergegas masuk ke dalam kamarnya dan mengganti pakaiannya.


"Astaghfirullah, Bu siapa dia? Kenapa penampilannya sangat terbuka seperti itu?" tanya laki laki itu yang ternyata adalah anak dari Bu Asri.


Dia adalah Fahim, seorang hafidz yang sangat hafal dan fasih dalam membaca Al Qur'an.

__ADS_1


"Fahim, maafkan ibu karena ibu belum sempat memberi tahu kamu. Dia namanya Sarah, penyewa kos kosan yang baru," terang Ibu Fahim.


Mendengar penjelasan dari ibunya, Fahim hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum kecil di bibirnya.


Beberapa saat kemudian, Sarah keluar dari kamarnya dengan pakaian yang lebih tertutup. Dia menggunakan pakaian kantornya.


Melihat Sarah keluar dengan memakai pakaian kerja Bu Asri dan Fahmi, hanya diam dengan mulut terbuka lebar. Hal itu terjadi karena Sarah memang sangat cantik menggunakan pakaian itu.


"Sarah, apa kamu akan pergi ke kantor?" tanya Bu Asri.


"Tidak Bu, saya tidak ingin pergi ke kantor," jawab Sarah.


"Kalau tidak mau pergi ke kantor, kenapa pakai baju kantor?" tanya Bu Asri lagi.


"Begini Bu, saya pakai baju kantor karena saya tidak punya baju yang lain selain ini. Ini adalah baju yang paling tertutup, maaf ya Bu."


Sarah sangat sedih dia terlihat tidak berani untuk berkumpul dengan Bu Asri dan anaknya. Namun melihat hal itu, akhirnya Bu Asri pun membolehkan Sarah untuk memakai baju itu. Walaupun masih ada yang mengganjal di hatinya.


Setalah beberapa saat makan bersama, Sarah di perkenalkan oleh Bu Asri kepada Fahim, anak laki laki satu satunya. Saat itu Sarah berusaha untuk bersikap baik dan sopan di hadapannya.


"Nama saya Sarah, dan nama Mas?" tanya Sarah dengan mengulurkan tangannya kepada Fahim. Namun saat itu Fahim tidak membalasnya. Dia hanya diam dengan melipat kedua tangannya di hadapan dadanya.


"Nama saya Fahim," jawab Fahim.


Setalah mengatakan hal itu, Fahim pun bergegas keluar Dafi ruangan makan.

__ADS_1


"Sarah, maaf ya. Fahim memang seperti itu. Dia sangat takut melihat yang sedikit terbuka," ujar Ibu Asri. Sarah yang mendengar apa yang di katakan oleh Ibu Asri. Dia hanya diam dengan mengangguk kepalanya sebagai tanda bahwa dirinya mengerti apa yang di maksud oleh Bu Asri.


__ADS_2