Terikat Tanpa Hubungan

Terikat Tanpa Hubungan
38. Menemui


__ADS_3

"Tante, Vira mohon Tante jangan sedih. Kalau Tante nangis, Vira juga akan ikut menangis," ucap Vira dengan air mata yang juga menetes membasahi matanya.


"Maafkan Tante, karena Tante membuat kamu sedih."


Mendengar jawaban itu, Tasya kembali memeluk Vira. Vira yang menyadari hal, dia membalas Tasya dengan sangat erat dan penuh dengan kasih sayang.


Di tempat lain, tampak Zaka berjalan dengan harapan kosong di pinggir jalan dengan di ikuti oleh Sarah. Ketika beberapa saat berjalan, akhirnya tibalah Zaka di rumahnya. Sesampainya di rumah, Zaka di sebut oleh ibu dan ayahnya. Saat itu meraka sangat terkejut karena melihat Sarah terus mengikuti Zaka hingga sampai di rumah.


"Apa kamu belum puas merusak rumah tangga orang, hah?" ucap Ibu Zaka yang membuat Zaka langsung terbangun dari lamunannya. Dia berbalik, melihat ke arah orang yang di maksud oleh ibunya.


Ketika dia sudah berbalik, wajah Zaka yang di kala itu sedih. Tiba tiba menatap tajam Sarah. Dia tampak sangat marah dengan Sarah atas apa yang sudah di lakukannya.


"Ngapain kamu ke sini, hah?" tanya Zaka dengan nada tinggi dan lantang.


"Aku datang ke sini ingin meminta tanggung jawab kamu, aku hamil anak kamu!. Aku sudah periksakan ke dokter," ucap Sarah.


Mendengar ucapan itu, Zaka dan orang tuannya sangat terkejut. Namun di saat itu Zaka memang langsung percaya dengan apa yang di katakan oleh Sarah, terutama atas apa yang sudah di lakukan oleh Zaka dan Sarah.


"Kalau memang kamu hamil anak ku, oke. Oke aku akan tanggung jawab, tapi sekarang kamu pergi. Jangan pernah kamu ganggu aku saat itu," ucap Zaka dengan anda sangat marah.


"Kamu mengusir aku, aku sedang mengandung anak kamu!" jawab Sarah dengan tegas.


"Oke, aku akan tanggung jawab. Tapi aku minta sekarang kamu pergi dan jangan ganggu aku, ketika waktunya sudah tiba aku akan datang untuk menjenguk anak itu. Paham, "ucap Zaka dengan tegas.


"Aku mohon dengan kamu Sarah, beri aku waktu dengan kamu. Tolong, tolong beri waktu aku untuk sendiri saat ini!" lanjut Zaka.

__ADS_1


Mendengar ucapan itu akhirnya Sarah pun pergi dari rumah Zaka.


Melihat Sarah sudah pergi, orang tua Zaka menghampiri Zaka. Dia berdiri di hadapan Zaka dengan raut muka yang seperti marah. Menyadari hal itu Zaka langsung tertunduk di hadapan kedua orang tuanya. Dia duduk bertekuk lutut di hadapan ibunya dengan menundukkan kepalanya.


"Maaf Ayah, Ibu, Zaka sudah melupakan norma norma yang ibu ajarkan. Maafkan Zak karena Zaka bukan anak yang baik untuk kalian."


Mendengar ucapan itu, Ibu Zaka menangis. Dia sangat sedih melihat penyesalan yang di lakukan oleh Zaka. Melihat hal itu ibu Zaka membangunkan Zaka dan mencoba menenangkan Zaka. Dia mencoba untuk menyakinkan Zaka kalau Tasya akan kembali kepada dirinya.


"Ibu selalu memaafkan kamu, tapi ibu mohon dengan kamu. Tolong, kamu jangan ulangi kesalahan kamu, dan apabila memang bener Sarah hamil anak kamu, maka bertanggung jawab lah. Mama yakin, Tasya akan menerima anak itu," jawab Ibu Zaka dengan baik. Setalah itu dia mengajak Zaka masuk ke dalam rumah, dia meminta Zaka untuk mandi dan kemudian pergi makan.


Malam hari pun tiba, kesendirian di rasakan oleh Tasya dan Zaka. Mereka sama sama duduk di atas tempat tidur masing masing dengan air mata yang terus mengalir membasahi matanya.


"Zaka, makan malam ya?" tawar ibu Zaka kepada Zaka.


Saat itu dia hanya menggelengkan kepalanya dengan menolak ibunya dengan senyum.


Namun, saat itu Zaka masih menolak dan lebih memilih untuk tertidur.


Di luar rumah Dokter Afridi, Sarah menghubungi Dokter Afridi. Dia ingin memberi tahu kakaknya bahwasannya dia ingin berbicara dengan dirinya berdua, tanpa ada perdebatan dan yang lain lain. Dokter Afridi yang mendengar hal itu, akhirnya mau untuk bertemu dengan Sarah lagi walaupun dia baru saja bertengkar hebat dengan sang kakak.


"Kak, aku kira lebih baik aku beri tahu Bu Tasya tentang kehamilanku ini. Aku tidak peduli apa yang terjadi nanti, yang penting aku harus memberi tahu Bu Tasya." Ucap Sarah dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


"Lihat, lihat sekarang. Apa yang kamu lakukan sekarang membingungkan hati dan pikiran kamu sendiri? Kakak rasa apa yang kamu lakukan sudah tidak ada hubungannya dengan kakak lagi, kakak tidak peduli mau kamu memberi tahu Tasya atau tidak, yang penting jangan lagi kamu membuat keributan!" tekan Dokter Afridi kepada Sarah dengan tegas.


"Iya Kak, maafkan Sarah sudah merepotkan Kakak. Tapi sungguh, maksud ku bukan untuk membuat keributan," jawab Sarah dengan sedih.

__ADS_1


"Kakak rasa, kamu harus minta maaf kepada Tasya!."


Mendengar ucapan itu, Sarah berpikir memikirkan apa yang di ucapkan oleh kakaknya.


Di dalam kamar, Tasya tampak bimbang. Dia merasa ada sebuah kekhawatiran di dalam hatinya yang di rasakannya. Dia ingin menghubungi suaminya, namun ada sebuah rasa sakit yang di rasakannya. Setalah berpikir panjang akhirnya, Tasya mencoba menghubungi ponsel Zaka.


Tiba tiba, telepon Zaka berbunyi. Mendengar hal itu, Zaka tidak menggubrisnya, dia mengira kalau orang yang menghubungi dirinya adalah Sarah. Namun ketika panggilan itu sudah di angkat oleh ibunya, orang yang berbicara di panggilan itu ternyata adalah Tasya.


"Mas, " panggilan Tasya dengan lirih. Mendengar kalau Tasya menghubungi Zaka, Ibu Zaka sangat terkejut.


"Tasya," jawab Ibu Zaka dengan tidak percaya kalau ibunya sudah menghubungi dirinya.


"Iya Mama, ini Tasya. Dimana Mas Zaka?" tanya Tasya dengan baik kepada Ibunya.


Mendengar kalau Tasya mencari dirinya Ibu Zaka pun memberikan ponselnya kepada Zaka yang saat itu menutup tubuhnya dengan selimut di sekujur tubuhnya.


Ketika Tasya menghubungi Zaka, tiba tiba Sarah datang dengan sedih ke kamar yang di tempati oleh Tasya. Tasya yang menyadari hal itu dia hanya diam, dan bergegas menutup panggilannya.


"Bu Tasya," panggil Sarah dengan baik sambil di dampingi oleh Dokter Afridi.


Mendengar hal itu, Tasya yang saat itu fokus kepada ponselnya. Melihat sekilas ke arah Sarah yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.


"Ngapain kamu ke sini?" Tanya Tasya dengan nada serius.


Mendengar ucapan itu, Sarah hanya menundukkan kepalanya dan berjalan mendekati Tasya. Setalah itu dia duduk di depan Tasya dengan duduk bertekuk lutut di hadapan Tasya.

__ADS_1


"Bu Tasya, saya minta maaf atas apa yang saya lakukan kepada ibu. Saya tahu, saya salah Bu, tolong maafkan saya. Kalau ibu memang tidak bisa memaafkan saya, maka saya mohon tolong jangan benci anak Mas Zaka," jawab Sarah dengan air mata yang terus berderai membasahi pipinya.


Mendengar kalau Sarah hamil anak dari Zaka, Tasya sangat terkejut. Dia benar tidak bisa berkata kata, dia hanya menatap tajam ke arah Sarah dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


__ADS_2